Connect with us

Opini

Operasi Sempurna, atau Bau Pengkhianatan dari Dalam?

Published

on

Ilustrasi editorial penculikan Maduro oleh AS dengan simbol pintu terbuka dari dalam, menggambarkan operasi militer rapi dan dugaan pengkhianatan internal di Venezuela.

Ada sesuatu yang terasa ganjil sejak kabar itu beredar, dan keganjilan itu bukan semata karena seorang presiden ditangkap di negerinya sendiri lalu diterbangkan keluar negeri seperti paket bermasalah. Keganjilan itu lebih dalam, lebih mengusik nalar, seperti pintu rumah yang ditemukan terbuka tanpa tanda congkelan. Dalam geopolitik, operasi yang terlalu sempurna sering kali memunculkan pertanyaan yang lebih berbahaya daripada kegagalan: apakah ini murni keunggulan teknologi dan kekuatan, atau justru tanda bahwa pintu telah dibuka dari dalam?

Penculikan Maduro oleh AS, sebagaimana digambarkan dalam laporan yang beredar, bukan sekadar episode dramatis hubungan Washington–Caracas. Ia adalah potret telanjang dari dunia internasional yang semakin terbiasa dengan absurditas. Serangan udara di ibu kota, penangkapan kepala negara aktif, penerbangan langsung ke New York, dan dunia menonton dengan reaksi setengah terkejut, setengah lelah. Kita seperti penonton sinetron panjang yang sudah kehilangan rasa marah karena alurnya terlalu sering berulang.

Donasi ke Vichara via Saweria

Dukung Vichara dengan berdonasi đź’›

Saya rasa sulit untuk tidak merasa getir membaca pernyataan Delcy RodrĂ­guez, yang mendadak menjabat presiden sementara, menyerukan perdamaian dan dialog di tengah kenyataan bahwa presidennya baru saja diambil paksa oleh kekuatan asing. Ada ironi yang nyaris kejam di situ. Di satu sisi, Venezuela diperlakukan seolah negara gagal yang boleh disambangi kapan saja. Di sisi lain, justru Caracas yang diminta tenang, rasional, dan kooperatif. Ini bukan bahasa hubungan setara. Ini bahasa pihak yang tahu dirinya sedang terpojok.

Yang membuat penculikan Maduro oleh AS semakin mengganggu adalah kesan kerapian operasi tersebut. Terlalu rapi. Terlalu senyap. Tidak ada laporan perlawanan besar. Tidak ada perpecahan militer terbuka. Tidak ada kekacauan nasional spontan yang biasanya mengikuti jatuhnya seorang pemimpin. Dalam dunia nyata, negara bukan pion catur yang bisa diangkat begitu saja tanpa mengguncang papan. Jika papan itu tidak bergeser, pertanyaannya sederhana namun mengerikan: siapa yang menahannya tetap diam?

Di sinilah tuduhan tentang keterlibatan aktor internal menjadi relevan, bahkan tak terhindarkan. Sejarah politik internasional mengajarkan satu pelajaran pahit: rezim jarang runtuh hanya karena tekanan dari luar. Selalu ada tangan di dalam yang ikut bekerja, entah karena ketakutan, ambisi, atau sekadar naluri bertahan hidup. Dalam konteks penculikan Maduro oleh AS, kecurigaan publik bukanlah paranoia massal. Ia adalah refleksi dari pola lama yang berulang, dari Panama hingga Tripoli.

Laporan tersebut secara implisit memberi ruang bagi kecurigaan itu. Bagaimana mungkin operasi militer asing bisa bergerak di Caracas dan beberapa negara bagian lain tanpa respons signifikan dari sistem keamanan nasional? Apakah pertahanan Venezuela benar-benar serapuh itu, ataukah ia sudah lebih dulu dilumpuhkan oleh kesepakatan sunyi? Pertanyaan ini penting, bukan untuk menunjuk satu wajah sebagai pengkhianat, melainkan untuk memahami bahwa dalam politik modern, pengkhianatan tidak selalu berteriak; sering kali ia berbisik.

Wakil presiden tentu menjadi sasaran kecurigaan paling mudah. Posisi strategis, akses luas, dan keuntungan politik yang langsung terlihat membuat publik wajar bertanya-tanya. Namun geopolitik jarang sesederhana mengganti satu aktor dengan aktor lain. Bisa jadi yang membuka jalan bukan figur puncak, melainkan lapisan menengah kekuasaan: komandan pengamanan, operator intelijen, atau pejabat yang tahu kapan harus mematikan alarm. Dalam banyak kasus, pengkhianatan terbesar justru dilakukan oleh mereka yang namanya jarang muncul di berita.

Ancaman Donald Trump terhadap Delcy Rodríguez—bahwa ia akan membayar “harga lebih besar” jika tidak melakukan yang dianggap “benar”—hanya mempertegas watak operasi ini. Ini bukan bahasa hukum internasional. Ini bahasa tekanan. Bahasa pemenang yang menulis aturan setelah peluit akhir ditiup sepihak. Penculikan Maduro oleh AS dibungkus dengan dakwaan narkoterorisme, tetapi cara yang dipilih jauh dari semangat penegakan hukum global. Ia lebih menyerupai penegasan siapa yang berkuasa, dan siapa yang harus tunduk.

Kita semua tahu tuduhan narkoterorisme terhadap Maduro bukan cerita baru. Namun jika memang hukum yang menjadi tujuan utama, mengapa jalur internasional diabaikan? Mengapa tidak pengadilan internasional, bukan pengadilan distrik di New York? Jawaban atas pertanyaan ini tidak perlu dicari terlalu jauh. Karena hukum internasional bekerja lambat, penuh kompromi, dan—yang paling penting—tidak selalu patuh pada kehendak satu negara.

Yang paling berbahaya dari penculikan Maduro oleh AS bukan hanya nasib satu orang atau satu rezim, melainkan preseden yang diciptakannya. Jika kepala negara bisa ditangkap secara sepihak dengan dalih hukum domestik negara lain, maka kedaulatan tinggal jargon akademik. Dunia berubah menjadi ruang tanpa pagar, di mana negara kuat bertindak sebagai polisi global tanpa surat tugas. Dan negara-negara lain hanya bisa berharap tidak menjadi target berikutnya.

Bagi kita di luar Venezuela, ini bukan sekadar cerita jauh. Kita hidup di wilayah yang juga menyimpan ingatan kolektif tentang tekanan, intervensi, dan standar ganda. Kasus ini seperti peringatan sunyi bahwa kedaulatan bukan sesuatu yang dijamin selamanya. Ia harus dijaga, bukan hanya dari musuh luar, tetapi dari retakan internal yang pelan-pelan melemahkannya. Dalam banyak kasus, negara tidak jatuh karena diserang, tetapi karena kepercayaannya pada dirinya sendiri telah runtuh.

Seruan damai Delcy RodrĂ­guez mungkin lahir dari niat menahan eskalasi. Namun sejarah jarang bersahabat pada mereka yang hanya mengandalkan itikad baik ketika berhadapan dengan kekuatan koersif. Dalam politik global, kesopanan sering dibaca sebagai kelemahan. Dan kelemahan, cepat atau lambat, akan diuji. Penculikan Maduro oleh AS adalah ujian itu, bukan hanya bagi Venezuela, tetapi bagi tatanan internasional yang mengaku menjunjung hukum dan kedaulatan.

Pada akhirnya, peristiwa ini memaksa kita bertanya dengan jujur, meski tidak nyaman. Apakah yang kita saksikan benar-benar sekadar operasi militer yang sempurna, hasil kecanggihan intelijen dan kekuatan udara? Ataukah justru bau pengkhianatan dari dalam yang selama ini kita enggan akui, karena terlalu menyakitkan untuk diterima? Pertanyaan itu mungkin tidak akan segera terjawab. Namun satu hal jelas: ketika operasi semacam ini mulai terasa “normal”, yang paling berbahaya bukan lagi agresinya, melainkan kebiasaan kita untuk tidak lagi terkejut.

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel Populer