Opini
Opera Baru Netanyahu di Panggung Resolusi
Malam itu Gaza masih memeram debu, seperti tungku yang tak pernah padam, dan saya membayangkan Benjamin Netanyahu berdiri di tengah panggung internasional sambil memegang naskah Resolusi 2803 seperti aktor yang terlambat masuk adegan namun tetap ingin mencuri tepuk tangan. Ada sesuatu yang getir dalam cara ia mengibarkan dokumen itu: bukan sebagai rencana damai, bukan sebagai jembatan menuju akal sehat, tetapi sebagai alat propaganda yang dijual keliling ke negara-negara Arab, seolah-olah wilayah yang ia obrak-abrik itu hanya panggung sandiwara yang menunggu sutradara baru. Ironinya begitu tebal hingga kita bisa mengirisnya seperti bawang merah di dapur rumah tangga, dan aromanya menyengat: ada absurditas yang terlalu terang untuk diabaikan.
Saya rasa sebagian dari kita sudah lelah mendengar janji tentang “demiliterisasi” atau “deradikalisasi” dari bibir Netanyahu, sebab kosakata itu seperti wangi parfum toko yang disemprotkan pada sesuatu yang jauh lebih busuk daripada yang ingin ditutupi. Yang menarik dari laporan the Cradle bukan apa yang terjadi di Gaza—kita semua tahu ceritanya—melainkan bagaimana ia tiba-tiba menggunakan Resolusi PBB 2803 untuk mengetuk pintu negara-negara Arab, meminta mereka bergabung dalam upaya menyingkirkan bukan hanya Hamas, tetapi siapa saja yang berani menyebut kata perlawanan. Di sinilah satir itu terbit sendiri, tanpa kita harus memaksanya: seorang pemimpin yang mengklaim kemenangan sembari mengemis bantuan untuk mengalahkan lawan yang katanya sudah kalah.
Kita semua tahu, dalam logika sehari-hari, jika seseorang berhasil merapikan rumahnya sendiri, ia tak akan meminta tetangga datang membantu menyingkirkan kecoak. Kecuali, tentu saja, rumah itu sebenarnya tak pernah berhasil ia bersihkan. Dan di sinilah gestur Netanyahu menjadi semacam pengakuan jujur yang dibungkus dengan bahasa diplomatik. Kegagalan menumpas Hamas bukan lagi rumor; ia menjelma menjadi semacam realitas politik yang berusaha disamarkan dengan panggilan koalisi baru. Seperti seseorang yang gagal mengejar maling tetapi kemudian mengajak seluruh RT memukul kentongan agar terlihat sibuk dan penting.
Panggilan Netanyahu kepada negara-negara Arab itu jelas bukan panggilan untuk kerja bakti, melainkan undangan halus untuk ikut mencicipi legitimasi dari Resolusi PBB. Saya menduga, atau setidaknya saya ingin menduga dengan penuh kecurigaan sehat, bahwa resolusi itu telah ia baca bukan sebagai dokumen kompromi, tetapi sebagai senjata baru. Sebuah pisau yang diasah dengan baik di ruang diplomasi, lalu disodorkan kepada siapa pun yang ingin terlihat beradab sambil tetap bermain di medan politik kotor. Bukan hal baru, tentu. Namun kali ini ada sentuhan ironis: negara-negara Arab diminta menjadi peserta aktif dalam proyek yang mengandung aroma penjajahan baru, seolah mereka tak belajar dari buku sejarah mereka sendiri.
Kita semua tahu, Resolusi PBB bisa menjadi dua hal. Ia bisa menjadi alat damai. Atau, bila dibaca oleh tangan yang tepat—atau salah—ia menjadi pembenaran elegan untuk ambisi lama. Netanyahu, seperti pedagang lincah di pasar malam, sedang memasarkan dokumen itu sebagai “mandat internasional” untuk mengusir Hamas “dan pendukungnya” dari kawasan. Kata pendukung itu yang menarik perhatian saya. Siapa yang ia maksud? Hizbullah? Ansarullah? Iran? Atau rakyat Palestina yang tak pernah ditanya apakah mereka ingin diperintah oleh siapa pun selain diri mereka sendiri? Kata “pendukung” itu cair seperti adonan, bisa dibentuk sesuai selera politik siapa pun yang memegang spatula kekuasaan.
Bagian paling sinis dari semua ini adalah bagaimana Netanyahu bertingkah seakan-akan baru saja menemukan solusi inovatif, padahal ia hanya memoles ulang pendekatan lama: menyingkirkan perlawanan dengan dalih stabilitas. Di Indonesia, kita punya istilah “ganti bungkus, isi tetap sama.” Dan itulah yang terjadi. Hamas mungkin menjadi kata kunci utama yang ia jual, tapi kita semua tahu daftar itu punya halaman lanjutan—Ansarullah di Yaman, Hizbullah di Lebanon, bahkan Iran yang disebut di ruang-ruang strategis meski tak ada dalam teks resolusi. Ini bukan sekadar agenda Israel; ini peta ekspansi wacana keamanan versi Tel Aviv yang kini didorong masuk ke dunia Arab.
Saya jadi teringat analogi sederhana: seseorang menyalakan api di rumah tetangganya, lalu menawarkan asuransi kebakaran sebagai solusi. Begitulah cara Netanyahu memperlakukan Gaza—menghancurkan struktur politik, sosial, dan administratifnya, lalu menawarkan “stabilisasi” ala Resolusi 2803 sebagai jalan keluar. Dan ketika Hamas mulai kembali memulihkan keamanan lokal setelah penarikan sebagian pasukan Israel, angka dukungan terhadap mereka justru naik menurut WSJ. Ironi yang barangkali membuat Netanyahu sulit tidur, sekaligus memicu kelahirannya strategi baru: memanggil negara Arab untuk ikut menguras rawa politik yang tak berhasil ia jinakkan.
Kita harus jujur: di mata Netanyahu, rakyat Palestina bukan subjek politik, melainkan bagian dari lanskap yang bisa diatur, seperti geomorfologi yang bisa digambar ulang menurut keinginan. Dan ketika ia berbicara tentang “perdamaian dan kemakmuran,” saya sulit menahan diri untuk tidak menyebutnya sebagai frasa kosong yang diulang seperti iklan deterjen. Terlalu bersih, terlalu wangi, menutupi bau bahan kimia yang mengikis tangan pemakainya. Dan ironinya, frasa itu digunakan untuk mengajak negara-negara Arab: “Mari kita bersihkan Gaza dari Hamas.” Seolah-olah Gaza adalah kain kusam, bukan rumah manusia yang hancur oleh bom yang ia perintahkan.
Dalam konteks Indonesia, kita mengenal falsafah sederhana: “Kalau ingin menolong, jangan bawa bensin.” Tapi Netanyahu membawa bensin diplomatik dalam wujud retorika dan resolusi. Ia menawarkan bantuan yang sebenarnya memperbesar api, dan meminta negara tetangga ikut memegang selang air yang sebenarnya hanya mengeluarkan asap. Semua ini dibungkus dengan kesan seolah-olah ia memimpin proyek kemanusiaan, padahal yang ia lakukan adalah memperluas mandat militer dan politik Israel dalam bentuk baru.
Saya kira, pertanyaan paling penting adalah: jika semua sandera telah dikembalikan, lalu apa tujuan Netanyahu di Gaza? Jawaban satirnya sederhana: mencari alasan baru. Mencari musuh baru. Mencari legitimasi baru. Sebab tanpa itu semua, ia hanya pemimpin yang gagal menumpas kelompok yang ia sebut musuh eksistensial. Gagal, lalu menyalahkan dunia. Gagal, lalu mengundang negara Arab untuk ikut gagal bersama. Gagal, tetapi dengan retorika yang membuat kegagalan itu tampak seperti strategi besar.
Akhirnya, kita harus melihat ini bukan sebagai drama tunggal, tetapi sebagai seri panjang. Dalam episode terbaru, Netanyahu mencoba menjadikan Resolusi PBB sebagai ujung tombak. Apakah itu memang kebetulan? Atau apakah resolusi itu sejak awal dirancang agar bisa dipakai Israel sebagai alat baru? Pertanyaan ini menggantung seperti lampu redup di ujung lorong. Dan saya rasa, kita semua—dengan ironi terbaik yang bisa kita kumpulkan—sudah tahu jawabannya.
