Connect with us

Opini

Normalisasi Suriah–Israel: Kesepakatan di Bawah Pendudukan

Published

on

Editorial illustration of Syrian and Israeli officials in a tense secret meeting with US mediator, symbolizing controversial security talks

Malam di Damaskus selalu punya cara sendiri menulis kegelisahan. Langit yang masih berbau mesiu menjadi saksi betapa kata “kesepakatan” terdengar ironis, seperti menawarkan teh manis di tengah rumah yang terbakar. Ketika Presiden Transisi Ahmad al-Sharaa mengumumkan bahwa pembicaraan keamanan dengan Israel tengah berlangsung, banyak orang menelan berita itu dengan rasa masam. Bagaimana tidak? Normalisasi Suriah Israel—frasa yang seperti menampar telinga—hadir justru di saat pesawat tempur zionis masih hilir-mudik menembus langit Suriah, meninggalkan asap dan reruntuhan.

Saya rasa kita semua paham, negosiasi yang digadang-gadang sebagai “keamanan” ini tak lahir dari ruang penuh kepercayaan. Ia lahir dari luka, dari situasi yang memaksa. Bayangkan seseorang yang rumahnya terus digedor maling, lalu terpaksa duduk satu meja dengan sang perampok hanya untuk meminta jangan dipukul terlalu keras. Apakah itu perdamaian? Atau hanya jeda antara satu tamparan dan tamparan berikutnya?

Donasi ke Vichara via Saweria

Dukung Vichara dengan berdonasi 💛

Laporan yang beredar menyebut pertemuan rahasia di London berlangsung lima jam. Lima jam yang katanya penuh proposal dan tanggapan. Di seberang meja, ada Menteri Urusan Strategis Israel Ron Dermer; di sisi lain, Menteri Luar Negeri Suriah Asaad al-Shibani; di tengah, utusan Amerika Serikat Tom Barrack, dan tentu bayangan Donald Trump yang konon ikut mendorong. Normalisasi Suriah Israel dikemas rapi sebagai “kesepakatan keamanan”, seolah hanya bicara teknis gencatan senjata dan pemantauan perbatasan. Namun siapa yang bisa melupakan fakta bahwa perbatasan itu sendiri sedang diduduki?

Zionis, dengan sejarah panjang pelanggaran kesepakatan, kembali meminta demilitarisasi dan jaminan keamanan. Suriah menegaskan kedaulatan dan keutuhan wilayah. Sebuah drama klasik: pihak yang diduduki menuntut hak dasar, pihak yang menduduki menuntut jaminan agar bisa terus merasa aman. Ini seperti maling yang meminta korban tidak menyalakan alarm agar suasana tetap “tenang”. Kita semua tahu, ironi semacam ini bukan hal baru.

Di banyak sudut negeri, dari Bekasi hingga Beirut, orang bertanya dengan nada getir: bagaimana percaya pada pihak yang berkali-kali melanggar kesepakatan internasional? Dari Perjanjian Oslo hingga berbagai gencatan senjata di Gaza, jejak ingkar itu panjang. Normalisasi Suriah Israel, kalau jadi kenyataan, apa jaminannya tak akan menjadi bab berikutnya dari daftar pengkhianatan itu?

Kita bisa menelusuri konteks lokal untuk merasakannya. Bayangkan kampung yang tiap malam dirazia preman. Warga akhirnya duduk bareng preman itu, menandatangani perjanjian supaya setidaknya tak ada lagi lemparan batu ke atap rumah. Mungkin ada jeda keributan. Tapi apakah itu kemerdekaan? Tentu tidak. Itu cuma cara bertahan hidup.

Suriah, setelah perang panjang dan sanksi ekonomi yang mencekik, mungkin memang mencari jeda semacam itu. Sebuah napas di sela desingan. Dan saya mengerti, kadang kompromi adalah jalan yang tersisa ketika kekuatan sudah terkuras. Tetapi menyebutnya sebagai “kemajuan menuju perdamaian” terdengar seperti lelucon pahit. Normalisasi Suriah Israel tidak otomatis berarti jalan menuju kebebasan; ia bisa jadi sekadar ruang tunggu yang berbau debu mesiu.

Ada juga dimensi geopolitik yang sulit diabaikan. Amerika Serikat, sang mediator abadi, selalu hadir dengan agenda. Mereka menamai perannya “penengah,” padahal sejarah intervensi Washington di Suriah dan kawasan sekitarnya lebih sering menyalakan api ketimbang memadamkan. Ketika Trump disebut terlibat “intensif” dalam proses ini, orang hanya bisa tersenyum sinis. Intensif untuk siapa? Untuk stabilitas regional atau untuk citra politik dalam negeri? Pertanyaan itu menggantung seperti lampu jalan yang kelap-kelip di malam gelap.

Ironi berikutnya terletak pada cara media memberitakan. Kata-kata seperti “progres” dan “kesepakatan bersejarah” muncul di beberapa kanal, seolah-olah ini adalah kisah cinta yang akhirnya menemukan jalan damai. Padahal di tanah Suriah, sirene peringatan masih meraung, dan keluarga masih menggali puing mencari sanak. Normalisasi Suriah Israel terdengar manis hanya bagi mereka yang menulis berita dari gedung berpendingin, jauh dari reruntuhan.

Saya juga tak bisa mengabaikan ingatan sejarah: setiap kali kesepakatan dicapai, zionis menemukan celah untuk kembali melangkahi garis. Dari Golan yang diduduki hingga pelanggaran udara di Suriah selatan, bukti bahwa komitmen mereka rapuh terhampar jelas. Maka wajar bila banyak yang melihat langkah Damaskus kali ini bukan sebagai lompatan berani, melainkan jebakan halus yang menormalisasi pendudukan.

Namun di balik sinisme, kita juga dihadapkan pada dilema manusiawi. Suriah yang porak-poranda butuh ruang bernapas. Anak-anak butuh sekolah yang tidak diselimuti debu ledakan. Orang tua butuh malam tanpa dentum bom. Apakah menandatangani kesepakatan yang rapuh demi jeda kemanusiaan itu sebuah dosa? Atau justru tindakan realistis? Di sini letak tragedinya: pilihan yang tersedia bukan antara baik dan buruk, melainkan antara buruk dan lebih buruk.

Tetapi satu hal tetap harus digarisbawahi: menyebut kesepakatan ini sebagai “normalisasi” memang tepat. Sebab meski para pejabat Suriah menolak istilah itu, faktanya proses negosiasi menciptakan saluran komunikasi reguler, membiasakan publik pada ide bahwa pendudukan dapat dinegosiasikan. Inilah normalisasi yang paling licik: bukan upacara besar dengan bendera berkibar, melainkan proses kecil, berulang, yang membuat yang tidak normal terasa lumrah.

Mungkin kita, yang jauh di Indonesia, merasa ini hanya kisah asing. Tapi percayalah, aroma ironi ini familiar. Kita juga tahu bagaimana kekuasaan bisa memaksa kompromi, bagaimana bahasa politik menghaluskan kekerasan menjadi “kesepakatan”. Itulah mengapa berita tentang Normalisasi Suriah Israel seharusnya membuat kita waspada, bukan sekadar penasaran.

Pada akhirnya, saya melihat langkah Damaskus ini sebagai pilihan yang pahit. Tidak ada kemenangan, hanya jeda dari kekalahan. Bukan kemerdekaan, hanya ruang untuk mengatur napas. Dan selama pendudukan tetap berlangsung, setiap kesepakatan yang tak menyebut pembebasan wilayah hanyalah catatan baru dalam buku panjang normalisasi penjajahan. Kita boleh berdebat soal taktik dan strategi, tapi kita tidak boleh menipu diri: kesepakatan ini tidak menghapus fakta bahwa Suriah masih dijajah, dan penjajahan tidak pernah sah hanya karena ditulis rapi di atas kertas.

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel Populer