Connect with us

Opini

Netanyahu Tak Sendiri: Demokrasi yang Memilih Genosida

Published

on

Benjamin Netanyahu standing with cheering Israeli citizens as Gaza burns in the background.

Langit Gaza sudah lama tidak punya warna. Ia hanya tahu abu, api, dan serpihan tubuh manusia. Tapi di seberang sana, di negeri yang menyebut dirinya “satu-satunya demokrasi di Timur Tengah,” sebuah survei justru menampilkan pemandangan yang lebih absurd: Benjamin Netanyahu, sang arsitek kehancuran, tetap menjadi pilihan utama rakyatnya. Ya, Likud — partai yang memimpin genosida paling brutal abad ini — masih unggul dalam setiap jajak pendapat. Ironi macam apa yang lebih getir dari itu?

Mungkin di tempat lain, pemimpin yang gagal, korup, dan berdarah-dingin akan tersingkir oleh rakyatnya. Tapi tidak di Israel. Di sana, kegagalan bisa diubah menjadi keberanian, dan kejahatan bisa dipoles menjadi “pertahanan diri.” Menurut survei Channel 12 News yang dikutip Haaretz pada 24 Oktober, Likud masih meraih 27 kursi di Knesset, sementara tokoh-tokoh lain seperti Naftali Bennett dan Yair Golan hanya menyusul di belakang. Seakan rakyat Israel menatap reruntuhan Gaza bukan dengan rasa bersalah, tapi dengan rasa bangga.

Donasi ke Vichara via Saweria

Dukung Vichara dengan berdonasi 💛

Saya rasa, inilah puncak dari tragedi moral: ketika bangsa yang mengaku lahir dari trauma Holocaust kini bersatu dalam keyakinan bahwa 2 juta manusia Palestina tak berhak hidup. Data dari Accord Center bahkan lebih mencengangkan — 62 persen warga Israel percaya “tidak ada orang tak bersalah di Gaza.” Di antara mereka yang beragama Yahudi, angkanya melonjak menjadi 76 persen. Artinya, mayoritas mendukung penghancuran total, bukan karena disesatkan propaganda semata, tapi karena benar-benar mempercayai bahwa genosida adalah bentuk keadilan.

Jadi, ketika dunia sibuk mengutuk Netanyahu, kita mungkin lupa bahwa ia tidak berjalan sendirian. Di belakangnya, berdiri jutaan warga yang dengan sadar memberinya mandat. Mereka tidak menutup mata — mereka menyetujui. Mereka tidak diam karena takut — mereka diam karena setuju. Itulah mengapa sanksi, kecaman, atau resolusi PBB seolah tak berarti apa-apa. Sebab masalahnya bukan satu orang di puncak kekuasaan, tapi keseluruhan sistem kepercayaan yang sudah lama busuk dari dalam.

Ada kalimat yang diucapkan seorang profesor dari Bar-Ilan University, Eitan Shamir: “Masyarakat tidak puas dengan pemerintah, tapi mereka tetap melihat Netanyahu sebagai pemimpin paling mampu memimpin perang dan krisis.” Saya tidak tahu apa yang lebih menyedihkan — kenyataan bahwa rakyat tahu pemerintahan mereka gagal, atau kenyataan bahwa mereka tetap memilihnya demi kelanjutan perang. Di situ terlihat jelas bagaimana militerisme bukan lagi alat politik, melainkan agama baru.

Mungkin kita bisa membayangkan ini seperti seseorang yang terus menyalakan api di rumah sendiri lalu memanggil pemadam yang sama untuk memadamkannya — lagi dan lagi. Netanyahu menciptakan krisis, lalu menjual dirinya sebagai solusi. Ia gagal mencegah serangan 7 Oktober, gagal menjaga ekonomi, gagal menjaga reputasi global, tapi semua itu tidak berarti apa-apa di hadapan rasa takut dan kebencian kolektif. Dalam ketakutan, rakyat cenderung memilih tangan besi — bahkan jika tangan itu meneteskan darah mereka sendiri.

Dan lihat bagaimana ekstremisme justru menemukan panggungnya. Itamar Ben Gvir, menteri keamanan yang dikenal rasialis, masih mendapat delapan kursi lewat partai Otzma Yehudit. Sementara Bezalel Smotrich, arsitek kebijakan kolonialisme pemukim, mungkin gagal mencapai ambang batas parlemen, tapi pikirannya sudah menjadi bagian dari arus utama. Di Israel hari ini, bahkan yang disebut “oposisi” pun jarang berbicara soal perdamaian. Mereka hanya berbeda dalam taktik perang, bukan prinsip kemanusiaan. Semua berbicara tentang “keamanan,” tak satu pun tentang kebenaran.

Laporan Brown University di Amerika menggambarkan situasi Gaza tanpa eufemisme diplomatik: dalam dua tahun terakhir, lebih dari 10 persen populasi tewas atau cacat berat. Sisa penduduk hidup dalam kondisi yang “secara sengaja dirancang” untuk melumpuhkan kehidupan mereka. Itu bukan perang. Itu penghancuran sistematis atas kehidupan — genosida yang disahkan oleh parlemen dan dibiayai oleh pajak warga Israel. Dan sebagian dari mereka mungkin sedang menonton di televisi, menyantap makan malam, lalu men-tweet: “Kami hanya membela diri.”

Dunia seolah menonton tragedi ini seperti menonton serial yang panjang: penuh darah, tapi juga penuh rating. Amerika dan sekutunya terus mengirim bom, lalu berpura-pura prihatin dengan jumlah korban. Eropa membisu dengan wajah diplomatik, hanya karena terlalu takut kehilangan kontrak dagang. Tapi di tengah semua kemunafikan itu, survei terbaru ini menjadi bukti bahwa penyakit utama tidak datang dari luar, melainkan dari dalam Israel sendiri. Mereka tidak sedang dikendalikan oleh pemimpin gila; mereka sedang memilih untuk gila bersama.

Ada yang bilang, demokrasi adalah cermin kehendak rakyat. Jika benar begitu, maka hasil survei ini menunjukkan wajah asli Israel hari ini: dingin, sinis, dan kehilangan nurani. Demokrasi di sana telah berubah menjadi mesin pembenaran kekerasan. Ia tidak lagi melindungi nilai kemanusiaan, melainkan menjustifikasi kolonialisme. Sebuah demokrasi yang memilih genosida — dan melakukannya dengan rasa bangga — adalah paradoks yang hanya bisa muncul ketika moral sudah mati.

Sebagai orang Indonesia, kita tentu tidak asing dengan ironi semacam ini. Kita pernah melihat bagaimana ketakutan bisa diubah menjadi alat politik; bagaimana mayoritas bisa menindas minoritas sambil merasa benar. Tapi setidaknya, kita masih punya ruang untuk malu. Di Israel, rasa malu itu sudah lama dikubur di bawah reruntuhan rumah warga Gaza. Di sana, kematian anak-anak dianggap statistik, bukan tragedi.

Saya tak tahu apakah dunia masih berharap muncul “pemimpin moderat” dari Israel. Mungkin itu hanya ilusi moral yang nyaman bagi diplomasi. Karena faktanya, bahkan tokoh-tokoh seperti Naftali Bennett atau Yair Lapid tidak menawarkan jalan damai. Mereka hanya ingin cara perang yang lebih rapi, bukan perang yang berakhir. Dan setiap kali satu Gaza hancur, ada Gaza lain yang siap menjadi eksperimen berikutnya.

Netanyahu mungkin akan terus berkuasa, entah sampai kapan. Tapi yang lebih menakutkan bukanlah dia — melainkan bangsa yang terus memilihnya. Sebab jika rakyat masih melihat genosida sebagai “pertahanan,” maka yang sedang mati bukan hanya Gaza, tapi juga kemanusiaan itu sendiri. Dan di titik itu, tidak ada lagi bedanya antara pelaku dan pendukung; mereka semua berdiri di sisi sejarah yang sama — sisi yang kelak akan diingat dunia sebagai zaman ketika manusia berhenti merasa bersalah.

2 Comments

2 Comments

  1. Pingback: Netanyahu dan Propaganda Baru Resolusi Gaza

  2. Pingback: Kritik Internal Israel dan Runtuhnya Strategi Netanyahu

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel Populer