Opini
Negeri yang Tersesat di Balik Temboknya Sendiri
Yair Lapid mungkin tidak bermaksud membuat dunia tertawa getir, tapi ucapannya tentang krisis terbesar dalam sejarah Israel terdengar seperti pengakuan yang lama ditunggu: negeri itu sedang tenggelam dalam jebakan yang ia buat sendiri. Di tengah reruntuhan Gaza, di antara suara sirene dan pidato kemenangan yang kosong, Israel kini menatap bayangannya sendiri di cermin dan melihat sesuatu yang mengerikan—bukan musuh, bukan Hamas, melainkan dirinya sendiri.
Kita tahu, setiap imperium yang berdiri di atas kekerasan pada akhirnya akan dihadapkan pada konsekuensi moralnya sendiri. Namun jarang sekali proses kehancuran itu begitu telanjang seperti sekarang. Lapid menyebutkan fakta yang mengguncang: pejabat tinggi mengundurkan diri, kepala badan keamanan dalam negeri akan diseret ke pengadilan, dan investasi asing mulai hengkang. Negara yang dulu disanjung karena “inovasi dan keamanan” kini ditinggalkan bahkan oleh para pemodal yang dulu memujanya. Norwegia, lewat dana kedaulatannya, menarik investasi dari bank-bank Israel—sebuah langkah yang bukan sekadar ekonomi, tapi simbolik: dunia mulai cuci tangan dari darah Gaza.
Ada ironi di sini. Ketika dunia akhirnya berani mengatakan “cukup”, justru elite Israel sendiri masih sibuk menata kebohongan baru. Serangan ke Gaza, yang disebut sebagai balasan atas serangan Hamas, ternyata didasarkan pada dusta yang bahkan Pentagon tahu sejak awal. Bom yang meledak di Rafah, yang dijadikan alasan untuk menghujani Gaza dengan peluru, ternyata berasal dari alat berat milik mereka sendiri. Sebuah tragedi yang diubah jadi propaganda. Dan yang paling memilukan, banyak orang mempercayainya—setidaknya untuk beberapa hari.
Namun kebohongan, seperti halnya pasir di gurun, tak bisa digenggam selamanya. Perlahan ia merembes keluar di sela jari-jari kekuasaan. Video excavator yang merobohkan bangunan di Rafah menjadi bukti bahwa yang mereka sebut “terowongan teroris” hanyalah dalih. Dunia menonton, kali ini dengan mata terbuka. Tak ada lagi ruang untuk percaya pada narasi lama tentang “hak membela diri.”
Dan sementara itu, Netanyahu—sang perdana menteri yang kini lebih mirip simbol keputusasaan ketimbang kekuasaan—menolak menghadiri konferensi internasional di Sharm El-Sheikh. Ia memilih diam di rumah, seolah dunia yang mulai menolak Israel hanyalah angin lalu. Tapi semua orang tahu, itu bukan sikap, itu ketakutan. Netanyahu tahu ia sedang kehilangan kendali. Ia tahu, untuk pertama kalinya dalam sejarah, narasi Israel bukan lagi miliknya.
Yang menarik, angka-angka yang disebut Lapid bukan sekadar statistik. Seratus empat puluh dua negara kini mengakui Palestina. Itu bukan hanya catatan diplomatik, itu pergeseran sejarah. Sebuah tanda bahwa peta moral dunia sedang bergeser, dan Israel bukan lagi pusat gravitasi moralnya. Di Eropa, produk-produk Israel perlahan lenyap dari rak-rak supermarket. Tak ada kampanye besar, tak ada poster, hanya kesunyian yang berbicara: “kami tak ingin menjadi bagian dari ini.”
Saya rasa, ini adalah bentuk hukuman paling menyakitkan bagi rezim yang terbiasa hidup dari perhatian. Israel tumbuh dalam keyakinan bahwa ia selalu menjadi pusat dunia—pusat penderitaan, pusat simpati, pusat legitimasi. Tapi kini, di tengah kehancuran Gaza, dunia mulai bosan. Empati berubah jadi jijik, dan diam berubah jadi penolakan.
Krisis ini bukan hanya soal politik. Ini tentang kehilangan jiwa. Israel, yang dibangun di atas gagasan “tanah yang dijanjikan,” kini berubah menjadi tanah yang ditinggalkan. Lihat saja: para pejabatnya saling menyalahkan, lembaga-lembaga keamanan tak lagi dipercaya, dan rakyatnya sendiri mulai bertanya apa arti semua ini. Apakah “keamanan” yang dijanjikan justru menjadi penjara terbesar mereka? Apakah “identitas” yang mereka bela mati-matian kini menjadi alasan untuk kehilangan kemanusiaan?
Di sisi lain, Palestina—yang selama puluhan tahun hanya disebut sebagai “wilayah sengketa”—kini mendapat pengakuan moral yang lebih kuat dari sebelumnya. Dunia mulai menyebut namanya dengan rasa hormat, bukan sekadar belas kasihan. Dalam ironi yang nyaris puitis, penderitaan menjadi bentuk eksistensi yang paling jujur.
Kita semua tahu, kebenaran kadang datang dengan cara yang brutal. Dan kali ini, kebenaran itu datang dalam bentuk krisis paling dalam di jantung Zionisme. Lapid mungkin ingin memperingatkan publik tentang bahaya politik domestik, tapi kata-katanya justru mengungkap sesuatu yang lebih dalam: Israel sedang membusuk dari dalam, bukan karena serangan roket, melainkan karena kehilangan makna.
Apa artinya “negara” jika para pemimpinnya hidup dari kebohongan? Apa artinya “keamanan” jika setiap serangan justru menambah ketakutan? Apa artinya “kemenangan” jika setiap bom yang jatuh menghancurkan sisa-sisa legitimasi di mata dunia? Pertanyaan-pertanyaan ini bukan hanya retorika. Ia kini menjadi percakapan nyata di dalam masyarakat Israel sendiri.
Dulu, propaganda bisa menutupi luka. Kini, bahkan propaganda tak mampu menyembunyikan bau busuknya. Setiap kebohongan yang terungkap memperlebar jurang antara rakyat dan pemerintah. Setiap rekaman yang viral dari Gaza menghapus satu lapis lagi dari ilusi “moral army.”
Dan kita di Indonesia, yang setiap hari menyaksikan potongan-potongan berita tentang Gaza, tak bisa tidak melihat refleksinya di sekitar kita. Betapa kekuasaan bisa begitu yakin pada kebohongan yang ia ciptakan, sampai akhirnya tersedak olehnya sendiri. Betapa bangsa bisa terpecah bukan karena musuh di luar, tapi karena keserakahan dan ketakutan di dalam.
Israel kini seperti rumah yang megah tapi retak dari fondasinya. Setiap retakan itu adalah kebohongan yang disimpan terlalu lama. Lapid benar, ini krisis terbesar dalam sejarah mereka. Tapi ia mungkin belum menyadari bahwa krisis ini bukan untuk diselesaikan—melainkan untuk dihadapi sebagai konsekuensi sejarah.
Saya tidak percaya pada kejatuhan yang instan. Tapi saya percaya pada proses pembusukan yang pasti. Dan Israel kini berada di tahap itu: ketika kekuasaan masih berdiri, tapi jiwanya telah pergi. Ketika tentara masih bersenjata, tapi kepercayaannya telah mati.
Dunia tak lagi membeli cerita lama tentang “hak untuk bertahan hidup.” Dunia kini melihat bahwa yang sebenarnya bertahan hidup hanyalah mesin perang, bukan kemanusiaan. Dan di sisi lain, rakyat Palestina—yang tak punya senjata, tak punya negara, tak punya sekutu besar—justru bertahan dengan sesuatu yang lebih kuat dari senjata: keyakinan bahwa mereka masih punya hak untuk hidup sebagai manusia.
Mungkin inilah puncak ironi sejarah: negara yang paling mengaku terancam justru menjadi ancaman bagi dirinya sendiri. Dan musuh yang paling mereka takuti—Palestina—justru menjadi cermin yang memantulkan kebenaran pahit: bahwa penjajahan tak bisa selamanya disamarkan sebagai keamanan.
Lapid mungkin ingin memperingatkan bahaya krisis politik. Tapi dunia mendengar sesuatu yang lain—pengakuan bahwa Zionisme telah kehilangan napasnya. Dan sekali kehilangan makna, tak ada lagi bom, tank, atau kampanye yang bisa mengembalikannya.
Kita sedang menyaksikan sebuah babak baru: ketika Israel mulai kehilangan bukan hanya legitimasi, tapi juga arah. Negeri itu kini benar-benar tersesat di balik temboknya sendiri.
