Opini
Negeri yang Ditinggalkan: Ketika Zionisme Kehilangan Rumahnya
Di Bandara Ben Gurion, koper-koper berbaris rapi seperti barisan pengungsi yang melarikan diri dari perang. Tapi ini bukan pengungsi Gaza, bukan warga Lebanon, bukan korban perang yang tersudut di bawah reruntuhan. Ini orang-orang Israel sendiri—yang pergi meninggalkan negeri yang konon dijanjikan Tuhan, dengan wajah letih dan mata kosong yang tak lagi menyala. Ironi terasa tebal di udara: negara yang selama ini mengusir, kini justru ditinggalkan.
Data resmi yang dikutip oleh Ynet menunjukkan sebuah kenyataan pahit: dalam lima tahun terakhir, lebih dari 145 ribu warga Israel memilih keluar dan tak kembali. Tahun demi tahun, angka itu meningkat. 34 ribu pada 2020, 41 ribu pada 2021, 59 ribu pada 2022, hingga memuncak 82 ribu pada 2023. Tahun ini, hingga Agustus saja, 49 ribu telah pergi sementara yang kembali tak sampai seperempatnya. Angka yang mencolok bukan hanya karena besar, tapi karena menggambarkan sesuatu yang jauh lebih dalam dari sekadar statistik migrasi. Ia adalah tanda bahwa keyakinan terhadap negeri itu sedang runtuh dari dalam.
Sebagian menyebutnya reverse Aliyah, kebalikan dari mitos lama “pulang ke tanah yang dijanjikan.” Kini justru mereka yang dulu datang dengan semangat ideologis, pergi dengan rasa kecewa. Ada yang pergi diam-diam, ada pula yang dengan lantang menyebut: “Negara ini tak lagi memberi masa depan.” Ironis, sebab bagi puluhan tahun zionisme berdiri di atas narasi pulang—dan kini puluhan ribu memilih jalan sebaliknya.
Pemerintahan Benjamin Netanyahu tentu tak bisa lepas dari sorotan. Di bawah kekuasaannya, Israel bukan hanya berperang di Gaza, tapi juga dengan dirinya sendiri. Reformasi yudisial yang melemahkan Mahkamah Agung menyalakan api demonstrasi raksasa di Tel Aviv. Kota yang dulu disebut “gelembung liberal” kini penuh spanduk dan amarah. Orang-orang yang dulu menyebut diri patriot kini memproklamasikan kehilangan harapan. Saya rasa, ini bukan sekadar krisis politik. Ini krisis identitas sebuah bangsa yang kehilangan makna tentang dirinya.
Ketika bom jatuh di Gaza, sebagian orang Israel bersorak atas nama keamanan. Tapi tak sedikit yang menunduk malu, menyadari bahwa dunia menatap mereka bukan sebagai korban, tapi pelaku. Perang yang katanya untuk mempertahankan diri berubah menjadi tontonan kekejaman yang memukul balik moral nasional. Ketika anak-anak Palestina mati di reruntuhan, sebagian warga Israel menulis surat pengunduran diri—bukan dari jabatan, tapi dari negara. Mereka pergi ke Kanada, Berlin, Australia, di mana mereka bisa hidup tanpa dihantui sirine dan rasa bersalah.
Zionisme lahir dari rasa takut, dan kini mati oleh ketakutan itu sendiri. Rasa aman yang dijanjikan berubah menjadi jebakan psikologis yang tak berujung. Masyarakat hidup dalam paranoia permanen—takut roket, takut dunia, takut masa depan. Ketika rasa takut menjadi identitas nasional, maka keberanian untuk bertahan akan perlahan menguap. Dan mungkin inilah yang kini terjadi: keberanian itu habis, tergantikan oleh kelelahan yang mengeras menjadi keputusan untuk pergi.
Pemerintah menyebut ini ancaman strategis. Betul, karena eksodus warga sipil berarti hilangnya tenaga produktif, talenta teknologi, dan kapital manusia yang menopang ekonomi dan militer. Tapi lebih dari itu, ini adalah ancaman ideologis: kehilangan keyakinan terhadap proyek zionis itu sendiri. Bagaimana bisa sebuah negara mempertahankan “tanah suci” jika warganya tak lagi menganggapnya rumah?
Saya teringat pepatah tua: “Negara yang terlalu lama berperang akan kehilangan anak-anaknya, bukan karena mereka mati, tapi karena mereka pergi.” Itulah Israel hari ini. Perang yang tak berkesudahan—di Gaza, di Lebanon, di benak sendiri—telah menyalakan api di setiap rumah tangga. Para ibu lelah mendengar sirene, para ayah lelah menjelaskan pada anaknya kenapa mereka harus membenci tetangga. Dan ketika kebencian menjadi rutinitas, yang tersisa hanyalah keinginan untuk diam—atau pergi sejauh mungkin.
Banyak yang mengira eksodus ini hanyalah efek perang. Padahal akar masalahnya jauh lebih dalam. Negara ini retak oleh kontradiksi yang tak tertahankan: ingin disebut demokrasi, tapi menerapkan apartheid; ingin dianggap kuat, tapi ketakutan pada bayangannya sendiri. Dunia melihatnya sebagai penjajah, dan sebagian warganya mulai menyadari kebenaran pahit itu. Maka mereka memilih hengkang, bukan karena kalah, tapi karena enggan menjadi bagian dari kebohongan yang terus dipertahankan dengan darah orang lain.
Dalam laporan Ynet, MK Gilad Kariv menyebut fenomena ini sebagai “tsunami sosial.” Kata itu tepat. Sebab tsunami tidak datang tiba-tiba; ia diawali oleh surutnya air, tanda bahwa ada kekuatan besar di bawah permukaan. Begitu juga Israel: di balik kibaran bendera dan parade militer, ada kehampaan yang perlahan menarik segalanya keluar. Nasionalisme kehilangan daya rekatnya, dan yang tersisa hanyalah kebanggaan kosong yang tidak bisa memberi makan atau makna.
Kita semua tahu, bangsa yang berdiri di atas ketakutan tidak akan bertahan lama. Dan Netanyahu telah mengubah ketakutan itu menjadi sistem. Ia menanam dinding di sekeliling negaranya, tapi lupa membangun jembatan di dalamnya. Ia membungkam lawan politik dengan dalih keamanan, tapi lupa bahwa ketakutan tidak bisa menjadi ideologi abadi. Maka ketika roket berhenti, ketakutan tetap tinggal—di kepala warganya sendiri.
Ada kesamaan yang mungkin terasa jauh tapi sebenarnya dekat. Di banyak negara, termasuk di sini, kita juga melihat bagaimana ketakutan dijadikan alat politik. Bagaimana pemimpin yang gagal menata kehidupan justru memelihara ancaman agar rakyat tetap patuh. Tapi di Israel, permainan itu sudah mencapai titik balik. Ketika rakyat tak lagi percaya pada narasi ketakutan, mereka tidak melawan. Mereka pergi. Dalam diam yang paling menyakitkan.
Eksodus Israel adalah cermin yang memantulkan kegagalan proyek zionis: proyek yang dibangun di atas trauma, kekerasan, dan ilusi keunggulan moral. Kini, di tengah dunia yang mulai menolak genosida di Gaza, warga sendiri menolak menjadi bagian darinya. Mereka meninggalkan tanah itu bukan karena benci pada sejarahnya, tapi karena tak tahan dengan masa depannya.
Netanyahu mungkin masih bisa menekan Gaza, mengebom Lebanon, atau mengancam Iran. Tapi ia tak bisa menahan warganya sendiri untuk tidak membeli tiket keluar. Itulah kekalahan paling sunyi dari seorang pemimpin: ketika rakyatnya berhenti percaya, bahkan tanpa perlu berteriak.
Saya rasa, sejarah sedang menulis bab baru yang aneh: negara yang lahir dari ide “pulang ke rumah” kini sedang kehilangan rumahnya sendiri. Bukan karena dirampas, tapi karena ditinggalkan. Dan ketika ideologi mulai kehilangan pengikutnya, tak ada tank, tak ada rudal, tak ada propaganda yang bisa menyelamatkannya. Pada akhirnya, zionisme mungkin tidak akan runtuh karena perang—melainkan karena kehabisan orang yang mau tinggal di bawah panjinya.
