Opini
Media Barat Menjadi Alat Propaganda Terselubung Israel
Di pagi yang tampak biasa-biasa saja, saya duduk di depan layar komputer, menatap tajuk-tajuk berita yang datang dari media barat—New York Times, BBC, Le Monde, Guardian, Reuters—seolah mereka adalah menara suar kebenaran, pilar kredibilitas jurnalisme global. Namun di balik kilau profesionalisme itu, terdapat kegelisahan yang tajam dan pelik: mengapa kata Israel berulang-ulang terucap dengan megah, sementara kata Palestine seakan disamarkan, dibisikan, atau bahkan dihapus? Rasanya seperti mendengarkan satu pihak bercerita tanpa pernah memberikan mikrofon kepada pihak yang lain — dan lebih dari itu, seperti menyaksikan pencapaian nyata kalimat dominan yang menenggelamkan yang lain dalam lembah keheningan.
Laporan “Framing Gaza” yang dirilis pada 20 November mengguncang ketenangan yang kita anggap lumrah. Data menunjukkan bahwa media barat yang disebut paling kredibel dalam jurnalistik tidak setara dalam menyebut Palestine. The New York Times, misalnya, disebut menggunakan kata “Israel” dalam judul sebanyak 1.868 kali, sedangkan “Palestine” hanya 10 kali — rasio 187 banding 1. Dalam tubuh artikel pun, ketimpangannya tetap seram: 69.653 penyebutan “Israel” dibandingkan dengan 2.411 penyebutan “Palestine”. BBC, Le Monde, Der Spiegel dan outlet besar lainnya memperlihatkan pola yang sama. Fakta ini bukan kebetulan; ini adalah struktur sistematis. Struktur erasure semacam ini, ironisnya, dibungkus dalam liputan profesional yang kerap dipuja sebagai jurnalisme objektif.
Melihat angka-angka ini, tidak bisa dibilang enteng sebagai “kelalaian” jurnalistik. Mereka yang duduk di balik layar penulisan media barat paham betul kaidah jurnalisme — keseimbangan, verifikasi, konteks — dan kemungkinan besar sangat sadar akan konsekuensi dari pemilihan kata. Jadi, ketika mereka terus menerus menyebut “Israel” dengan dominan dan mengecilkan “Palestine”, itu bukan kesalahan pemula. Mereka paham. Mereka terlatih. Dan itu yang membuat lelucon ini menjadi menggigit: media barat bias Israel bukan sekadar salah kuantitas — ini manajemen narasi.
Menyebut media barat sebagai alat propaganda Israel bukan hiperbola belaka. Laporan tersebut menguak bahwa dominasi narasi bukan cuma soal headline atau jumlah penyebutan kata, tetapi bagian dari operasi propaganda yang terstruktur. Ada yang disebut “digital war”: penggunaan filter AI, akun tersembunyi, influencer berbayar, serta pelaporan massal yang menyapu platform demi menjadikan versi Israel sebagai suara utama. Belum lagi pengeluaran Israel untuk iklan YouTube senilai puluhan juta, mentarget warga Eropa dengan pesan pro-Israel yang sudah dipoles rapi agar tampak mulus, wajar, dan berdasar rasa keadilan. Semua itu bukan kecelakaan redaksional – ini bagian dari kampanye sistematis, dan media barat seringkali menjadi corongnya.
Ironisnya, di balik klaim independensi dan netralitas, media besar barat seakan menjadi sekutu aktif legitimasi. Ada elemen “Legitimization Cell” militer Israel: sebuah sel yang didedikasikan untuk menciptakan narasi pembenaran atas serangan dan bahkan kematian jurnalis Gaza, membranding mereka sebagai “afiliasi Hamas” demi menutup reputasi dan mengulang framing bahwa apa yang terjadi adalah “pembelaan diri.” Dalam hal ini, media barat tidak hanya menyimpang dari kaidah jurnalistik; mereka turut serta dalam konstruksi politis yang dramatis dan berbahaya.
Sikap semacam ini justru memperparah apa yang kita sebut “erasure struktural”: tidak cukup hanya menyebutkan “Palestine” dalam konteks protes atau “aksi pro-Palestine,” tetapi menyembunyikan identitas rakyat Palestina sendiri. Ketika judul-judul artikel melulu bicara “pro‑Palestine protests” tanpa menyebut penderitaan, kerusakan, atau warga Gaza sebagai subjek utama, itu semacam penghilangan wujud manusia, seolah mereka bukan aktor utama dalam cerita yang mereka alami. Kita semua tahu: ini lebih dari sekadar pilihan redaksional — ini soal siapa yang layak berbicara dan siapa yang disisihkan dalam narasi global.
Dalam pengalaman sehari-hari, hal ini terasa seperti seseorang menonton pertandingan tanpa tahu siapa tim tamu. Bayangkan Anda di warung kopi, menanyai orang-orang lokal tentang konflik yang mereka alami, lalu Anda baca koran barat yang hanya melaporkan sudut pandang satu pihak. Anda mungkin mengangguk, menganggap itu objektif; padahal Anda sedang disuguhi versi yang sudah disaring dan disusun. Sama seperti membaca menu tanpa tahu bahan dasarnya. Hanya karena ia terlihat lengkap, bukan berarti ia menyajikan seluruh rasa.
Sebagian orang mungkin berargumen bahwa media barat bebas memilih fokus; mereka tidak punya kewajiban untuk menyebut kata “Palestine” setiap kali, atau memberikan porsi menyamakan antara Israel dan Palestina. Tapi kita perlu bertanya: apakah netralitas bisa diwujudkan dengan cara yang tampak secara matematis, dengan menyusun kata yang berat sebelah demi menjaga citra seimbang? Saya rasa tidak. Karena kalau keberimbangan itu hanya dalam ilusi angka dan tidak dalam kedalaman makna, maka kita sedang berbicara tentang framing, bukan jurnalisme sejati.
Kita juga harus reflektif: apa dampaknya bagi publik global, khususnya di negara-negara seperti Indonesia? Kita yang sering melihat media barat sebagai rujukan dan panutan, menjadi rentan terhadap narasi yang telah dipoles rapi. Kepercayaan kita pada media barat bisa disalahgunakan sebagai pintu masuk propaganda. Sekali narasi dominan ini terbentuk, publik internasional dapat terpengaruh dalam cara pandang tentang konflik Gaza: bukan sebagai kisah penderitaan, tetapi sebagai laga geopolitik yang dijustifikasi. Dan di sini, kepercayaan itu terbeli oleh data dan framing yang asimetris.
Bahwa media barat menggunakan teknologi digital—AI filter, akun bayangan, influencer—untuk menguatkan narasi pro-Israel adalah bukti bahwa jurnalisme modern sudah menyatu dengan operasi propaganda negara. Mereka tidak hanya memberitakan konflik, tetapi turut membentuk opini publik global melalui cara-cara halus namun sistematis. Kita tidak bisa diam dan berpura-pura ini hanya sebuah kegagalan editorial: ini adalah penyalahgunaan kredibilitas jurnalistik demi tujuan politis.
Tentu, tidak semua jurnalis barat adalah agen propaganda. Ada wartawan independen yang turun ke lapangan, melaporkan dari Gaza, merekam derita warga Palestina. Tapi kenyataannya, laporan mereka sering kali tenggelam dalam gelombang besar framing media barat bias Israel. Dan itulah yang paling menyedihkan: keahlian jurnalistik yang seharusnya menjadi tameng kebenaran malah digunakan untuk memperkuat satu narasi dominan. Kita semua tahu kekuatan media barat dalam menentukan peta pemahaman dunia — dan ketika kekuatan itu dipakai untuk mendiskreditkan satu pihak, untuk meredam suara yang lain, kita tak bisa diam begitu saja.
Pendekatan kritis semacam ini bukan semata kritik akademis; ini panggilan moral. Media yang mengklaim kredibilitas jurnalistik harus dipertanggungjawabkan ketika mereka bermain dengan rasio penyebutan “Israel” versus “Palestine” yang jauh timpang. Mereka harus diingatkan bahwa jurnalisme bukan sekadar soal laporan—itu soal empati, keadilan naratif, dan pertanggungjawaban sosial. Jika mereka mengabaikannya, maka kredibilitas mereka rapuh: tidak lagi sebagai mercu jurnalisme, melainkan sebagai instrumen propaganda yang pintar berkamuflase.
Saya mengajak kita semua — pembaca, jurnalis, pengamat — untuk membuka mata. Kita perlu lebih kritis terhadap media barat yang kerap dianggap sebagai kiblat kebenaran. Kita harus bertanya, bukan hanya “apa yang mereka tulis,” tetapi “mengapa mereka menulis demikian,” “siapa yang mereka suarakan,” dan “apa yang mereka sembunyikan.” Karena dalam konflik yang sangat berat seperti Gaza, menyembunyikan satu kata bisa berarti menghapus satu kehidupan dari narasi dunia.
Dan akhirnya, saya tegaskan: menyebut media barat sebagai alat propaganda Israel bukan tuduhan murahan. Ini adalah refleksi atas analisis data konkret, bukan praduga tanpa dasar. Bila mereka paham betul kaidah jurnalistik namun tetap menata framing yang jelas timpang — itu bukan khilaf; itu sebuah pilihan politik, sebuah sistem narasi yang menguntungkan satu kubu. Maka dari itu penting sekali kita menjaganya dengan kesadaran kritis, agar suara Palestina tidak tertelan oleh megafon media barat bias Israel.

Pingback: 400 Juta Dolar untuk Mega Proyek Pencitraan Israel