Opini
Logika Terbalik Dunia: Donor yang Sekaligus Penghancur Gaza
Malam di Gaza kini bukan hanya gelap karena listrik yang padam—ia gelap karena nurani dunia ikut padam bersamanya. Di antara 55 juta ton reruntuhan yang menimbun tanah sekepal itu, ada sesuatu yang jauh lebih berat dari puing: kemunafikan global. Ketika UNDP mengumumkan bahwa 70 miliar dolar dibutuhkan untuk membangun kembali Gaza, dunia menanggapinya dengan tepuk tangan basa-basi. Seolah-olah angka itu hanyalah proyek ekonomi, bukan bukti sahih dari genosida yang disponsori bersama.
Saya membaca laporan itu dan tertegun. Bukan karena besarnya biaya yang disebutkan, tapi karena absurditas logika di baliknya. Dua tahun genosida menghasilkan 55 juta ton reruntuhan—setara dengan 13 piramida Giza, kata perwakilan UNDP. Tapi siapa yang akan membangun kembali piramida kesedihan itu? Dunia berkata: para donor. Donor dari Arab, Eropa, Amerika. Dunia seolah lupa bertanya: donor siapa? bukankah mereka juga yang merusak Gaza?
Kita masih ingat ketika Rusia menyerang Ukraina, Barat dengan lantang menyerukan bahwa Moskow harus membayar biaya rekonstruksi Kyiv. Mereka bahkan merancang skema penyitaan aset Rusia untuk membangun kembali apa yang dihancurkan. Tapi untuk Gaza, logika itu tiba-tiba lumpuh. Tak ada yang berkata bahwa zionis—atau para penyandang dana perang mereka di Barat—harus menanggung biaya kehancuran yang mereka ciptakan sendiri. Sebaliknya, mereka kini berbicara tentang “solidaritas kemanusiaan” dan “dukungan internasional untuk rekonstruksi.” Betapa anggun kata-katanya, betapa menjijikkan maknanya.
Bayangkan, 200.000 ton bahan peledak dijatuhkan ke wilayah seluas separuh Jakarta. Setengah juta rumah hancur, 835 masjid lenyap, tiga gereja dan empat puluh makam ikut rata. Dan setelah itu, mereka yang memasok bomnya kini bersiap mengirim dolar untuk membangun kembali. Inilah kapitalisme moral versi baru: hancurkan dulu, bantu sesudahnya, lalu branding diri sebagai penyelamat.
Saya rasa inilah yang membuat Gaza menjadi cermin paling jujur bagi dunia. Ia memperlihatkan bahwa keadilan internasional adalah selektif. Jika Ukraina korban agresi, maka Gaza hanyalah “dampak konflik.” Jika Rusia dianggap pelaku, maka zionis disebut “pembela diri.” Dan jika Barat merasa berhak menuntut tanggung jawab Rusia, maka di Gaza mereka justru menuntut rakyat yang dibantai untuk berterima kasih kepada para donor.
Laporan UNDP menyebut baru 81.000 ton puing yang berhasil diangkat dari total 55 juta. Itu bahkan belum seperlima persen. Artinya, bahkan untuk membersihkan jejak kejahatan ini, diperlukan waktu puluhan tahun. Tapi siapa yang akan membayar tahun-tahun itu? Apakah rakyat Gaza harus menunggu kemurahan hati negara-negara yang memveto resolusi penghentian perang di PBB? Atau menunggu dana dari korporasi yang menjadikan “bantuan kemanusiaan” sebagai proyek citra?
Turki lewat Presiden Erdogan mengatakan akan menggalang dana dari Teluk, Eropa, dan Amerika di bawah kerangka OIC dan Liga Arab. Tentu itu terdengar baik, tapi apakah itu benar-benar solusi? Pengalaman mengajarkan bahwa setiap kali Gaza hancur, proyek rekonstruksi berubah menjadi panggung politik. Tender, birokrasi, dan pencitraan menenggelamkan kepentingan rakyat yang kehilangan segalanya. Gaza tak butuh filantropi; ia butuh pertanggungjawaban.
Mari kita pinjam logika Barat sendiri. Jika pelaku kehancuran harus menanggung biaya pemulihan, maka zionis dan sekutunya yang wajib membayar setiap batu yang runtuh di Gaza. Bukan UNDP, bukan donor, bukan lembaga kemanusiaan. Karena ini bukan bencana alam, ini kejahatan manusia. Tidak ada gunung meletus, tidak ada gempa, tidak ada badai. Yang ada adalah keputusan politik untuk menghancurkan satu bangsa—dengan teknologi, dana, dan perlindungan diplomatik dari dunia yang kini berpura-pura peduli.
Ada ironi yang nyaris sinis di sini. Negara-negara yang mengucurkan triliunan dolar untuk mempersenjatai zionis kini menyumbangkan beberapa miliar untuk “membangun kembali Gaza.” Seperti pencuri yang menyisakan uang receh di dompet korban untuk menunjukkan betapa “manusiawinya” dia. Dunia seolah ingin melupakan bahwa setiap rumah yang hancur di Gaza punya alamat, punya keluarga, punya cerita—dan punya pelaku.
UNDP dan lembaga-lembaga lain tentu bekerja dari niat baik. Tapi ketika kerja kemanusiaan dilepaskan dari konteks keadilan, ia berubah menjadi kosmetika luka. Reruntuhan diangkat, tetapi sistem yang menyebabkan reruntuhan itu tetap dibiarkan hidup. Lalu dunia menamainya “recovery.”
Saya tak bisa tidak membandingkannya dengan pengalaman di negeri ini. Kita tahu bagaimana bencana demi bencana di Indonesia sering menjadi proyek bagi mereka yang punya akses, bukan pemulihan bagi yang menderita. Di Gaza pun begitu, hanya skalanya jauh lebih brutal. Yang membedakan: di sini bencana datang dari alam, di sana datang dari negara yang mengklaim diri “demokratis.”
Sebagian orang mungkin berkata, setidaknya dunia mau membantu. Tapi bagi rakyat Gaza, setiap dolar dari tangan para penghancur terasa seperti ejekan. Bagaimana mungkin mereka yang mengebom rumahmu, kini memintamu bersyukur karena mereka membantu membangunnya kembali? Itu bukan bantuan, itu manipulasi moral.
Gaza hari ini menjadi kuburan besar bagi arsitektur moral dunia. Tidak ada rekonstruksi sejati tanpa keadilan. Tidak ada keadilan jika pelaku masih bebas dan dunia masih menyebutnya “negara.” Tidak ada kedamaian jika pelaku genosida duduk di forum internasional dengan status yang sama seperti korbannya.
Dan saya pikir, di titik ini, dunia Islam harus berhenti menjadi penonton yang kagum pada angka-angka bantuan. Setiap batu yang akan diletakkan di tanah Gaza harus membawa satu pesan: bahwa pembangunan tanpa pembebasan hanyalah perpanjangan penjajahan.
70 miliar dolar mungkin cukup untuk membangun rumah-rumah baru, tapi tidak cukup untuk menghapus trauma jutaan jiwa yang kehilangan keluarga. Tidak cukup untuk menghapus dosa kolektif dunia yang membiarkan genosida disiarkan langsung tanpa sanksi. Dan tidak cukup untuk membeli kembali harga diri yang telah diinjak oleh “donor” yang sama yang dulu menekan tombol rudal.
Jadi, siapa yang harus membangun Gaza? Jawabannya sederhana: mereka yang menghancurkannya. Siapa yang harus menanggung biayanya? mereka yang menyalakan apinya. Dan siapa yang harus memastikan hal ini tidak terulang? kita semua—jika masih punya hati untuk marah.

Pingback: Ketika Israel Kubur Bantuan di Gaza, Dunia Diam
Pingback: Israel Kembali Gempur Gaza di Tengah Gencatan Senjata