Opini
Ledakan Sunyi dari Bom Waktu Ekologis
Saya membayangkan pagi itu, ketika air datang seperti kawanan kuda liar yang tak mengenal belas kasihan, menerjang desa-desa di Aceh, Sumatera Barat, hingga Sumatera Utara dengan keganasan yang bahkan tak sempat ditafsirkan sebagai bencana—karena ia datang terlalu cepat, terlalu brutal, terlalu mematikan. Dalam hitungan jam, ratusan nyawa hilang, ratusan lagi lenyap tanpa jejak, dan ribuan tubuh terluka. Kita menyaksikan reruntuhan rumah, jembatan patah, sekolah yang tinggal rangka; semuanya seolah dikembalikan ke kondisi nol. Dan anehnya, negara ini masih bertanya: kenapa? Seolah tidak tahu bahwa selama dua dekade terakhir, kita sendiri yang mengisi detonator bom waktu ekologis itu sedikit demi sedikit, setiap hari, dengan tangan kita sendiri.
Memang betul, laporan Nusantara Atlas berkata bahwa deforestasi Indonesia pada 2024 turun 14 persen. Dari 279.000 hektare menjadi 242.000 hektare. Angka yang di atas kertas terlihat seperti keberhasilan; seperti semacam kabar baik yang bisa dipamerkan dalam seminar atau diselipkan dalam pidato pejabat. Namun siapa pun yang tinggal di Nusantara ini tahu: angka yang baik tidak otomatis berarti keadaan baik. Dalam konteks hutan dan bencana, penurunan deforestasi setahun bukan obat mujarab. Ia hanya seperti menutup kran setelah rumah terlanjur kebanjiran. Hutan kita telah terluka terlalu dalam; tanah kita telah digerogoti terlalu lama; dan sungai-sungai kita telah disumbat jutaan ton sedimen dari pembukaan lahan yang tak pernah benar-benar berhenti.
Banjir bandang yang membunuh 780 orang di tiga provinsi itu bukanlah kejadian ajaib yang tiba-tiba jatuh dari langit. Ia adalah keniscayaan. Konsekuensi logis. Sebuah “hasil” dari formula yang sama selama puluhan tahun: deforestasi di hulu, permukiman di lereng, dan intensitas hujan yang kian ekstrem. Kita tahu itu. Kita hanya berpura-pura lupa. Dan laporan Nusantara Atlas, meski menyodorkan penurunan deforestasi, sebenarnya membisikkan sesuatu yang jauh lebih menakutkan: pola buruk kita tidak hilang, ia hanya berganti wajah.
Setengah deforestasi Indonesia—50 persennya—bahkan tidak bisa dijelaskan secara pasti. Ini bukan teori konspirasi; ini pengakuan jujur para peneliti. Ada lahan-lahan yang ditebang lalu dibiarkan kosong bertahun-tahun, ada kebun rakyat kecil-kecilan yang tak terlihat satelit, ada konversi hutan yang jalannya lambat dan samar, sehingga tak terdaftar dalam peta resmi. Di Sumatra, justru jenis deforestasi seperti inilah yang paling mematikan, karena ia terjadi diam-diam di lereng-lereng rawan longsor, di bantaran sungai, dan di hulu DAS yang seharusnya menjadi “sponge” air ketika hujan jatuh bertubi-tubi. Akibatnya? Saat langit membuka pintu, air tak lagi diserap tanah; ia langsung meluncur sebagai hantaman maut. Persis seperti yang terjadi dalam bencana ini.
Tentu, kita bisa berkelit: “Tapi deforestasi menurun.” Ya. Menurun di Kalimantan, Sumatra, Sulawesi. Tapi kemudian naik di Papua. Ini bukan penurunan, ini perpindahan lokasi. Semacam rotasi luka. Hutan yang habis di satu tempat, membuka pasar baru di tempat lain. Seperti pedagang yang pindah lapak, bukan berhenti berdagang. Dan ketika penurunan deforestasi di Sumatra terlihat “baik”, kenyataannya daerah-daerah itu sudah terlanjur kritis sejak lama. Kerusakan hulu tidak bisa pulih hanya karena satu tahun ada jeda tebang. Efek ekologis itu punya memori panjang; ia menyimpan luka dua dekade di tubuh tanah. Sebuah ingatan pahit yang, saya rasa, tidak akan hilang hanya karena kita punya grafik yang tampak lebih higienis.
Saya sering merasa bahwa kita mengelola hutan dengan logika yang sama seperti mengelola keuangan negara: yang penting angkanya terlihat bagus. Padahal hutan tidak bekerja seperti neraca. Ia hidup. Ia menyerap, menyimpan, dan mengatur ritme bumi. Ketika ritme itu kacau, kita ikut kacau. Dan kacau itulah yang kini menelan ratusan orang—bukan hanya karena hujan besar, tetapi karena fondasi ekologis yang sudah rapuh bertahun-tahun. Lihat saja Sumatera Barat: DAS pendek, tebing curam, topografi kompleks. Sedikit kerusakan saja sudah cukup untuk memicu banjir bandang. Tapi kita tidak melakukan sedikit kerusakan—kita melakukan banyak, selama lama, dan secara terus-menerus.
Begitu pula Aceh. Hutan primernya tersisa besar, ya, tapi struktur ekologinya sudah terfragmentasi. Jalan logging yang membelah hutan, tambang emas ilegal yang merusak sungai, pembukaan lahan kecil yang merayap seperti penyakit kronis. Saat hujan ekstrem datang, tanah yang rapuh itu tak sanggup menahan beban. Ia longsor. Ia menghanyutkan desa. Ia menelan kehidupan.
Jadi ketika BNPB merilis angka korban—780 meninggal, 564 hilang, 2.600 terluka—apakah kita benar-benar kaget? Atau kita sebenarnya sudah tahu ini akan terjadi, tetapi memilih menutup mata? Saya rasa kita lebih cocok disebut bangsa yang pandai menunda kenyataan, bukan bangsa yang tak tahu apa yang terjadi. Kita tahu. Kita selalu tahu. Kita hanya tak pernah mau menatap langsung fakta bahwa Indonesia kini duduk di atas bom waktu ekologis. Bom yang tidak terbuat dari mesiu atau logam, tetapi dari bekas hutan, sedimen sungai, dan lereng yang digunduli.
Dan jangan salah: bom ini bukan hanya untuk Sumatra. Ia sedang dirakit pelan-pelan di Papua, Maluku, dan Nusa Tenggara. Lahan food estate di Merauke, pembukaan hutan untuk sawit di Boven Digoel, jalan tambang di Halmahera, dan pertumbuhan kota-kota pesisir yang semakin dekat dengan sungai. Jika Sumatra hari ini adalah buku bab pertama tragedi ekologis, Papua bisa menjadi bab berikutnya. Dan kita, entah sadar atau tidak, sedang menuliskan kisah itu bersama-sama.
Masalahnya, kita bersikap seperti semua ini bisa diselesaikan dengan rapat koordinasi, dengan perbaikan data, dengan konferensi pers. Seolah bencana ekologis hanyalah kesalahan manajerial. Padahal ia adalah persoalan dasar: tata ruang, politik izin, kerakusan industri, dan absennya keberanian negara untuk menghentikan praktik merusak di hulu. Kita melindungi hutan di atas kertas, tetapi mengorbankannya dalam praktik. Itu sebabnya grafik Nusantara Atlas tampak cantik, tetapi tubuh bumi tetap hancur.
Pada akhirnya, saya tidak sedang menuntut kesempurnaan. Saya hanya menuntut kejujuran. Kejujuran bahwa penurunan deforestasi bukan kemenangan jika ia tidak memulihkan ekosistem. Kejujuran bahwa bencana yang menewaskan ratusan ini bukan takdir, tetapi konsekuensi. Kejujuran bahwa kita tidak sedang menghadapi “peristiwa alam”, tetapi bencana buatan manusia. Dan kejujuran bahwa kita semua, pada tingkat tertentu, berkontribusi pada ledakan sunyi bom waktu ekologis ini.
Saya ingin berharap bahwa tragedi ini menjadi titik balik. Tapi, jujur saja, kita punya sejarah panjang membiarkan tragedi lewat begitu saja—tanpa pembelajaran, tanpa perubahan, tanpa tekad menghentikan kerusakan. Maka saya hanya bisa menulis, mengingatkan, dan berharap pembaca merasakan sedikit getir sekaligus sedikit keberanian untuk bertanya: sampai kapan?
Karena satu hal yang pasti: bom waktu ekologis Indonesia tidak berhenti berdetak. Dan jika kita terus berpura-pura seolah tidak mendengarnya, jangan kaget kalau suara berikutnya adalah ledakan yang lebih besar dari apa yang baru saja menghancurkan Sumatra.

Pingback: Papua: Ketika Tentara Menjadi Kebijakan Negara
Pingback: Bencana Aceh, Negara Absen dan Agamawan Diam