Opini
Kubah Besi Digital: Saat Israel Mengendalikan Kesadaran Dunia
Saya membayangkan dunia seperti layar kaca raksasa—berkilau, penuh warna, tapi palsu. Di balik sinarnya, ada tangan-tangan yang sibuk mengatur algoritma, menulis doa menjadi data, dan menjadikan iman sebagai target iklan. Dunia digital kini bukan lagi ruang kebebasan, tapi teater bayangan di mana kenyataan direkayasa, dan kebenaran dipaksa tunduk pada propaganda. Dan dari semua pemain di panggung itu, Israel tampaknya sedang memimpin orkestra kebohongan global dengan teknologi dan dana miliaran dolar.
Laporan terbaru Haaretz yang kemudian dikutip The Cradle membuka tabir yang selama ini hanya kita duga. Israel, negara yang selalu mengaku korban di mata dunia, ternyata tengah menjalankan kampanye masif untuk membentuk opini publik Amerika Serikat dengan cara yang sulit dibedakan dari operasi intelijen. Bukan sekadar iklan wisata atau promosi budaya, melainkan operasi pengaruh (influence operation) yang menyusup sampai ke gereja-gereja, kampus-kampus Kristen, bahkan sistem kecerdasan buatan seperti ChatGPT dan Claude. Ironis, bukan? Negara yang mengklaim membela demokrasi justru menggelontorkan jutaan dolar untuk membungkam kebebasan berpikir.
Enam juta dolar untuk Brad Parscale, mantan arsitek digital kampanye Donald Trump. Tiga juta dolar lagi untuk konsultan evangelikal yang tahu betul cara mengubah ayat-ayat menjadi senjata retorik. Belum termasuk dana dari Kementerian Luar Negeri dan pariwisata Israel, yang menggandeng jaringan media konservatif dan perusahaan periklanan global. Semua diarahkan ke satu tujuan: menanamkan narasi bahwa mendukung Israel berarti bagian dari iman. Bahwa mencintai Palestina sama dengan membela kejahatan. Bahwa Tuhan berdiri di sisi yang memiliki drone.
Kita semua tahu propaganda bukan hal baru. Tapi yang membuat laporan ini mengerikan adalah skalanya—dan caranya. Bayangkan “geofencing” terbesar dalam sejarah Amerika: jutaan ponsel umat Kristiani dipetakan, gereja demi gereja diidentifikasi, lalu diserbu dengan pesan digital yang dibungkus doa. “Pray for Israel,” kata iklan itu. Tapi di balik doa itu, ada tangan algoritma yang menuntun jemari Anda, memastikan simpati Anda tidak pernah menyentuh Gaza.
Saya rasa, inilah bentuk kolonialisme baru. Dulu, tanah direbut dengan senjata. Kini, kesadaran direbut dengan data. Israel tidak lagi perlu menembak siapa pun di New York atau Texas untuk menaklukkan hati mereka. Cukup dengan satu kampanye digital yang lihai memainkan ketakutan dan keyakinan, dunia bisa dibujuk untuk percaya bahwa pengeboman rumah sakit di Gaza adalah tindakan “pembelaan diri.” Begitulah cara kerja Digital Iron Dome—bukan melindungi warga, melainkan melindungi citra.
Lebih jauh lagi, laporan itu mengungkap sesuatu yang bahkan lebih berbahaya: operasi untuk memengaruhi sistem AI seperti ChatGPT. Terdengar seperti fiksi ilmiah, tapi ini nyata. Ada klausul kontrak yang secara eksplisit menyebut “Search and Language Operation” untuk membentuk hasil pencarian dan keluaran generatif AI agar lebih “seimbang”—istilah halus untuk “berpihak.” Kita sedang memasuki era ketika propaganda tidak lagi diketik oleh manusia, tetapi disusun otomatis oleh mesin. Dan ketika AI mulai meniru bias politik, siapa yang bisa memisahkan mana fakta dan mana fabrikasi?
Inilah paradoks zaman kita: teknologi yang seharusnya membebaskan pikiran justru menjadi alat penaklukan baru. Saya jadi teringat pepatah lama: “Siapa yang menguasai informasi, menguasai dunia.” Tapi kini, pepatah itu sudah usang. Yang benar adalah: siapa yang menguasai algoritma, menguasai kesadaran.
Yang menarik, laporan tersebut muncul bersamaan dengan data survei Reuters-Ipsos yang menunjukkan 60 persen warga Amerika kini mendukung pengakuan negara Palestina. Artinya, meski miliaran dolar telah digelontorkan, kenyataan di lapangan tetap menembus dinding propaganda. Fakta tentang ribuan anak Gaza yang tewas tak bisa disembunyikan dengan tagar. Darah terlalu terang untuk ditutupi oleh iklan pariwisata. Barangkali, inilah yang paling menakutkan bagi mereka: dunia yang akhirnya belajar melihat tanpa kacamata propaganda.
Bila dipikir, strategi Israel ini tak jauh beda dengan cara para penguasa otoriter membentuk “realitas resmi.” Di Indonesia, kita juga mengenal versi lembutnya: buzzer politik, tagar berbayar, dan framing media yang diatur. Hanya saja, Israel melakukannya dengan skala dan teknologi yang jauh lebih canggih, serta dengan tujuan yang lebih licik—menormalisasi kekerasan. Di tangan mereka, AI bukan alat edukasi, tapi mesin pemutihan dosa kolektif.
Bayangkan, generasi muda evangelikal di Amerika—yang mulai mempertanyakan moralitas perang—kini menjadi sasaran kampanye “berbasis Alkitab” yang dirancang oleh konsultan politik. Mereka diajari bahwa Palestina identik dengan Hamas, bahwa perang adalah kehendak Tuhan, dan bahwa berdamai sama saja dengan mengkhianati iman. Di sinilah absurditasnya: agama yang mengajarkan kasih berubah menjadi mesin ideologi yang justru menjustifikasi penindasan.
Saya melihat ini sebagai refleksi dunia yang semakin kehilangan orientasi moral. Ketika bahkan kecerdasan buatan bisa dipaksa berpihak, kita seolah hidup dalam simulasi yang meniru kenyataan, tapi kehilangan nurani. Semua bisa diatur: dari pencarian Google hingga doa di gereja. Dunia tampak bebas, tapi pikirannya telah dipenjara oleh algoritma.
Namun begini paradoksnya: setiap upaya kontrol justru melahirkan kesadaran baru. Makin besar dana propaganda, makin keras pula suara tandingannya. Makin mereka menekan, makin banyak orang mencari sendiri kebenaran. Generasi digital bukanlah generasi yang mudah dibodohi selamanya. Mereka mungkin dikurung oleh algoritma, tapi mereka juga tahu cara membobolnya.
Mungkin inilah yang membuat saya, dan mungkin kita semua, harus lebih waspada tapi juga lebih yakin. Karena perang ini bukan lagi antara Israel dan Palestina saja, tetapi antara yang berkuasa dan yang berpikir. Antara yang memanipulasi dan yang menolak tunduk. Dan di tengah banjir informasi palsu, menjadi manusia yang masih mau mencari kebenaran adalah bentuk perlawanan paling sederhana—dan paling penting.
Israel boleh membangun kubah besi digitalnya. Tapi sejarah selalu punya cara untuk menembus tembok buatan manusia. Dan ketika semua algoritma usang, ketika kebohongan tak lagi bisa diperbarui, yang tersisa hanyalah satu hal yang tak bisa dimanipulasi: kenyataan bahwa kebenaran, betapapun mereka coba sembunyikan, selalu menemukan jalannya.
