Connect with us

Opini

KTT Darurat Arab-Islam di Doha: Simbol atau Titik Balik?

Published

on

Delegasi menghadiri KTT Darurat Arab-Islam di Doha membahas serangan Israel ke Qatar

Langit Doha baru saja bergetar oleh suara jet tempur, bukan parade diplomasi. Serangan Israel menorehkan luka di jantung Qatar, negeri kecil yang selama ini lebih dikenal sebagai mediator, penengah yang menjembatani musuh-musuh abadi. Namun, alih-alih meneguhkan peran itu, Doha justru dipaksa merasakan bagaimana rasanya menjadi sasaran langsung. Ironi yang getir: ketika tuan rumah perundingan justru dibombardir, ketika tempat yang mestinya aman bagi kata-kata justru direnggut oleh peluru. Peristiwa tersebut mendesak Qatar untuk menggelar KTT Darurat Arab-Islam di Doha.

Kita semua tahu, dunia Arab punya kebiasaan lama: berkumpul, menggelar KTT darurat, lalu membacakan pernyataan keras yang lebih indah di telinga ketimbang efektif di lapangan. Liga Arab, OKI, Doha Summit—semuanya sudah pernah menjadi panggung. Panggung dengan mikrofon mewah, bendera berjejer rapi, dan kata-kata lantang yang berakhir sebagai arsip. Apakah KTT Darurat Arab-Islam kali ini akan berbeda? Ataukah ia hanya menambah daftar panjang simbolisme yang manis di permukaan, tapi hambar di kedalaman?

Donasi ke Vichara via Saweria

Dukung Vichara dengan berdonasi đź’›

Serangan ke Qatar bukan peristiwa kecil. Setidaknya enam orang tewas, termasuk anak dari Khalil al-Hayya, tokoh Hamas yang sedang membahas proposal gencatan senjata dari Presiden Trump. Seorang petugas keamanan Qatar ikut gugur. Serangan itu bukan hanya operasi militer, tapi pesan politik yang kasar: Israel tak peduli garis batas, tak peduli norma internasional, dan jelas tak peduli pada upaya mediasi yang konon diharapkan AS sendiri. Jadi, di titik ini, KTT Darurat Arab-Islam bukan sekadar agenda diplomasi. Ia ujian harga diri.

Qatar sudah bereaksi keras. Perdana Menteri Mohammed bin Abdulrahman Al-Thani menyebut serangan itu pengkhianatan—bukan hanya oleh Israel, tapi juga oleh Amerika Serikat. Sebuah kalimat yang jarang keluar terang-terangan dari mulut pemimpin Teluk. Kita ingat, di tanah Qatar berdiri Pangkalan Udara Al-Udeid, salah satu aset militer terbesar AS di kawasan. Selama ini, Doha hidup dalam paradoks: menjadi tuan rumah pasukan Washington sembari menjadi mediator bagi Hamas. Kini paradoks itu pecah oleh rudal yang jatuh. Dan wajar bila Doha bicara soal mengevaluasi ulang hubungan keamanan dengan AS.

Tapi mari kita realistis sejenak. Mengevaluasi bukan berarti memutus. Kata itu bisa berarti sekadar gertakan, sekadar kartu negosiasi. Kita semua pernah mendengar ancaman semacam ini dari negara-negara Arab lain. Pada akhirnya, kerjasama militer dengan Washington tetap dipertahankan. Mengapa? Karena ketergantungan itu nyata. Persenjataan, intelijen, perlindungan ekonomi—semuanya masih berporos pada AS. Apakah Qatar benar-benar berani mencari mitra baru, katakanlah Rusia atau Tiongkok, apalagi Iran? Itu akan jadi lompatan besar, dan bukan tanpa risiko.

Namun justru di sinilah letak taruhan KTT Darurat Arab-Islam. Bila Doha berhasil meyakinkan negara-negara sekitarnya untuk bersatu melampaui retorika, maka serangan ini bisa menjadi percikan yang mengubah peta. Kita bicara soal kemungkinan—meski kecil—lahirnya aliansi keamanan regional yang lebih mandiri. Bukan sekadar Liga Arab yang rapuh, bukan sekadar OKI yang mudah dilupakan. Sesuatu yang benar-benar menantang dominasi AS dan menekan Israel dengan cara kolektif. Tentu, ini impian besar. Tapi tanpa mimpi, politik hanya jadi rutinitas rapat kosong.

Lalu, mari kita renungkan konteksnya. Israel menyerang Doha tanpa sepengetahuan Trump. Menurut laporan, Gedung Putih bahkan murka karena Netanyahu baru memberi tahu ketika misil sudah meluncur. Trump terang-terangan berkata: jangan ulangi. Tapi Netanyahu menjawab dengan nada menantang: kalau perlu, kami akan serang lagi. Bahkan duta besar Israel di Washington menambahkan, “Jika kali ini gagal, kami akan mencoba lagi.” Inilah absurditasnya: seorang sekutu menampar wajah sekutunya sendiri, dan sang sekutu hanya bisa marah tanpa berbuat banyak.

Bagi publik Arab, ini lebih dari sekadar konflik Hamas–Israel. Ini bukti bahwa Amerika tidak lagi bisa menjamin keamanan sekutunya sendiri. Dan jika Qatar benar-benar merasa dikhianati, maka legitimasi kehadiran pasukan AS di Teluk pun bisa mulai dipertanyakan. Meski kecil kemungkinan Doha mengusir AS, bayangan ancaman itu saja sudah cukup membuat Washington resah. Kita semua tahu, strategi AS di Timur Tengah bertumpu pada basis militer ini. Jika retak, seluruh bangunan bisa goyah.

Namun, mari kita ingat sejarah. Berapa banyak KTT darurat yang sudah kita saksikan? Dari Beirut, Kairo, hingga Riyadh, pola selalu sama: kecaman keras, dukungan penuh untuk Palestina, ancaman boikot, tapi realitas di lapangan tak berubah. Gaza tetap terkepung, Israel tetap melancarkan agresi, dan negara-negara Arab tetap sibuk dengan perhitungan masing-masing. Ada yang khawatir pada Iran, ada yang terikat kontrak senjata dengan AS, ada pula yang secara diam-diam menjaga hubungan dagang dengan Tel Aviv.

Jadi, wajar bila publik skeptis. KTT Darurat Arab-Islam di Doha bisa jadi hanya simbol baru: simbol perlawanan, simbol solidaritas, tapi tak lebih dari itu. Simbolisme memang penting untuk menjaga moral, tapi tanpa tindakan, ia seperti papan nama tanpa isi. Orang bisa bertepuk tangan saat deklarasi dibacakan, tapi keesokan harinya, realitas kembali berjalan seperti biasa.

Saya rasa, yang membuat situasi kali ini berbeda adalah faktor psikologis. Qatar bukan Gaza, bukan Lebanon, bukan Suriah. Ia negara Teluk yang kaya, modern, dan punya citra internasional yang relatif bersih. Menyerang Doha sama artinya menantang seluruh narasi “aman” yang selama ini dibangun. Jika itu tidak memicu reaksi kolektif, maka apa lagi yang bisa? Jika rudal jatuh di ibukota negara mediator pun tidak mampu mengguncang dunia Arab, maka mungkin benar adanya: peta Timur Tengah sudah terlalu terpaku pada Washington, tak lagi bisa digeser oleh rasa malu atau harga diri.

Tapi saya masih ingin percaya, meski sedikit. Bahwa di tengah absurditas ini, KTT Darurat Arab-Islam setidaknya bisa membuka percakapan baru. Tentang kedaulatan yang nyata, tentang keberanian melawan ketergantungan, tentang solidaritas yang lebih dari sekadar kata. Mungkin belum jadi titik balik, mungkin hanya percikan kecil. Tapi percikan kecil pun bisa menyalakan api, jika ditiup oleh angin sejarah. Dan sejarah, kita tahu, sering bergerak dengan cara yang tak terduga.

Pada akhirnya, kita kembali pada pertanyaan awal: simbol atau titik balik? Jawabannya, mungkin keduanya. Ia simbol bagi mereka yang tak sanggup bergerak, dan ia bisa menjadi titik balik bagi mereka yang berani membaca tanda-tanda zaman. Yang jelas, KTT ini adalah cermin. Cermin bagi dunia Arab untuk melihat wajahnya sendiri: apakah masih ingin hidup dalam bayangan AS dan menelan penghinaan, atau berani menulis bab baru meski penuh risiko. Kita, yang menonton dari jauh, hanya bisa berharap agar cermin itu tidak sekali lagi dipoles untuk menutupi keretakan, melainkan digunakan untuk menatap kenyataan dengan berani.

Sumber:

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel Populer