Opini
Kolonialisme Rasa Kemanusiaan: Bantuan yang Datang dengan Rencana Pengusiran
Bantuan, seharusnya, adalah tangan yang mengulurkan harapan. Tapi di Gaza, bantuan datang dengan wajah dua sisi—yang satu membawa kotak makanan, yang lain membawa rencana pengusiran massal. Laporan terbaru dari Financial Times menunjukkan betapa dalam dan busuknya niat yang bersembunyi di balik jargon “rekonstruksi pascaperang” dan “pembangunan Gaza.” Proyek bantuan ini bukan sekadar niat baik yang tersesat, melainkan desain kolonialisme modern yang disusun dengan rapi di balik meja-meja rapat, file Excel, dan model finansial.
Bayangkan: sebuah firma konsultan besar dari AS, Boston Consulting Group (BCG), diminta untuk menghitung berapa biaya yang dibutuhkan untuk memindahkan setengah juta warga Palestina keluar dari Gaza. Bukan karena mereka sedang liburan, tapi karena dianggap penghalang bagi proyek “pembersihan” wilayah. Konon mereka akan “diberi opsi relokasi sukarela.” Diberi uang saku, subsidi sewa, dan sedikit makanan. Istilah yang terdengar humanis, padahal tak lebih dari cara halus mengatakan: “Pergilah dari tanahmu, karena kami ingin membangunnya tanpa kamu.”
Begitu rapi, begitu profesional. Penghapusan etnis yang disimulasikan lewat skema bantuan. Jika dulu kolonialisme datang dengan kapal perang, kini ia datang dengan presentasi PowerPoint dan proposal investasi. Gaza, yang berdarah dan terbakar, bukan dipulihkan untuk rakyatnya, tetapi diimpikan sebagai Riviera versi Timur Tengah oleh para investor properti Amerika. Tanahnya “sangat bernilai,” kata Jared Kushner. Tentu saja, setelah manusia-manusianya disingkirkan lebih dulu.
Inilah kolonialisme baru: ia datang tidak dengan meriam, tapi dengan amplop bantuan dan jargon-jargon LSM. Ia tak menyuruhmu tunduk, tapi membujukmu pindah. Dan bila kamu menolak, pelurulah yang bicara. Skema relokasi ini bahkan disebut “sukarela.” Tapi siapa yang benar-benar punya pilihan ketika air diblokade, makanan tak tersedia, dan tiap bantuan datang dengan risiko ditembak di tempat distribusi?
Yang membuat segalanya lebih memuakkan adalah bagaimana skema ini dipoles dengan embel-embel “kemanusiaan.” Gaza Humanitarian Fund (GHF), yang katanya menggantikan PBB dan LSM internasional dalam menyalurkan bantuan, diduga terlibat dalam manuver yang lebih dalam dari sekadar logistik. GHF berada di bawah bayang-bayang strategi militer, bukan kasih sayang. Bahkan, laporan Haaretz menyebut tentara Israel diperintahkan menembak warga sipil yang mencari makanan di titik distribusi bantuan GHF. Ironi paling hitam: bantuan yang memancing kematian.
Barat—terutama AS—kini tak lagi sekadar pelaku pasif. Mereka bukan lagi penonton yang pura-pura buta terhadap kekejaman Israel. Mereka sudah jadi arsitek aktif dari rencana pembersihan etnis yang diselimuti bahasa kemajuan. BCG mungkin hanya disewa untuk menghitung, tapi siapa pun tahu bahwa saat seseorang menghitung ongkos relokasi ratusan ribu manusia, itu bukan proyek etis. Itu adalah studi kelayakan untuk penghapusan.
Dan inilah wajah lain dari peradaban yang katanya paling maju. Mereka menyebut diri sebagai pelindung demokrasi, penjaga HAM, mercusuar dunia bebas. Tapi begitu berhadapan dengan penderitaan rakyat Palestina, peradaban itu berubah menjadi makelar properti dan manajer bencana. Gaza, dalam logika mereka, adalah “tanah kosong yang potensial”—tentu setelah penghuninya dihapus dari peta.
Kita harus menyebut ini dengan namanya yang tepat: kolonialisme berkedok bantuan. Ini bukan soal pembangunan, bukan soal rekonstruksi, dan bukan pula soal perdamaian. Ini soal pengambilalihan. Soal penguasaan lahan. Soal bisnis. Soal kapitalisme rakus yang bersinergi dengan militerisme brutal. Ketika Kushner bicara soal nilai tepi pantai Gaza, ia tak bicara soal rakyatnya. Ia bicara tentang potensi investasi.
Bantuan, dalam konteks ini, telah kehilangan makna. Ia bukan lagi bentuk solidaritas, tapi strategi. Ia bukan tangan yang menyembuhkan, tapi peta jalan untuk pengusiran. Dan jika dunia terus menutup mata terhadap ini, maka kata “kemanusiaan” harus kita kubur bersama puing-puing Gaza.
Indonesia—dan dunia Selatan Global—tak boleh lagi berdiri di tengah-tengah. Netralitas dalam situasi seperti ini bukanlah kebijaksanaan, tapi kolaborasi diam-diam. Kita, yang pernah dijajah, harus lebih peka terhadap kolonialisme yang berganti rupa. Kita, yang pernah dilucuti hak atas tanah, harus bisa mencium niat busuk di balik proposal bantuan.
Lihatlah Gaza, dan kita akan lihat masa depan dunia yang dibentuk oleh kapitalisme global tanpa nurani. Di mana bantuan berarti pengendalian, dan rekonstruksi berarti penghapusan. Dunia di mana spreadsheet menggantikan hati nurani, dan nilai manusia ditentukan oleh seberapa cepat mereka mau hengkang dari rumahnya sendiri.
Maka jangan heran jika hari ini mereka membicarakan Gaza dalam rapat-rapat korporasi. Gaza bukan lagi isu kemanusiaan bagi mereka, tapi studi kasus pengelolaan konflik dan aset properti. Jika berhasil di Gaza, siapa tahu, model ini bisa dijual ke tempat lain. Sudan, Yaman, bahkan mungkin Papua. Ini bukan sekadar krisis regional. Ini adalah blueprint untuk masa depan kelam dunia—di mana derita manusia hanyalah kolom dalam laporan laba rugi.
Kini saatnya untuk jujur. Tak ada lagi ruang untuk menyebut ini sekadar “kesalahan” atau “salah kelola.” Ini adalah kejahatan yang dibungkus elegan. Ini adalah kolonialisme yang mengenakan jas Armani dan membawa tas penuh proposal. Gaza bukan hanya korban serangan militer, tapi korban dari grand design kapitalisme predator yang menjadikan derita manusia sebagai modal.
Dan jika kita, yang mengaku peduli, hanya menatap dan mengutuk tanpa mengungkap struktur busuk di balik bantuan itu, maka kita sedang membiarkan proyek kolonialisme baru ini terus berkembang—menyebar, menyamar, dan pada akhirnya, menelan siapa saja yang lemah.
Gaza adalah alarm. Bukan hanya tentang Palestina. Tapi tentang bagaimana dunia sedang diambil alih oleh mereka yang mampu membungkus pengusiran dengan narasi kemajuan. Kita tak bisa lagi menelan mentah istilah-istilah seperti “pembangunan berkelanjutan,” “rekonstruksi,” atau “bantuan kemanusiaan” tanpa bertanya: siapa yang diuntungkan, dan siapa yang disingkirkan?
Karena dalam dunia yang rusak ini, bantuan pun bisa menjadi peluru. Tapi kali ini, ia berbentuk cek, tidak berisik, dan lebih mematikan.
