Opini
Ketika Trump Menyulut Bara Dagang yang Membakar Dunia
Ada ironi yang sulit diabaikan ketika Amerika Serikat—negara yang mengaku sebagai kampiun kebebasan pasar—justru terjebak dalam lingkaran proteksionisme yang ia ciptakan sendiri. Dunia menyaksikan satu lagi babak absurd dari perang dagang AS–China, yang kini bukan lagi sekadar soal tarif, tapi soal siapa yang mengendalikan masa depan industri global. Dan seperti biasa, di tengah semua itu, Donald Trump berperan bukan sebagai negarawan, melainkan sebagai pedagang yang kehilangan kendali atas pasar yang dulu ia kuasai.
Bayangkan: China kini tak hanya membatasi ekspor logam tanah jarang, tapi juga mewajibkan lisensi bagi siapa pun yang mengekspor produk berteknologi tinggi yang mengandung sedikit saja jejak mineral dari mereka. Dunia seakan baru sadar bahwa hampir setiap perangkat—dari ponsel di saku kita hingga kendaraan listrik di jalan—bergantung pada bahan yang diolah di pabrik-pabrik China. Dan dengan satu keputusan, Beijing menekan tombol yang mengguncang rantai pasokan dunia. Sebuah langkah kecil di atas kertas, tapi getarannya terasa di seluruh bursa saham dan ruang rapat perusahaan teknologi di Silicon Valley.
Sementara itu, Trump tampak kebingungan. Pemerintahannya menambah daftar entitas China yang dibatasi aksesnya ke chip canggih, tapi tak lama kemudian memberi pengecualian bagi beberapa perusahaan besar Amerika. Seolah-olah Washington sedang berperang dengan bayangannya sendiri. Trump ingin menekan China, tapi juga ingin memanfaatkan pasar China. Ia ingin tampak tegas di depan publik Amerika, tapi tak siap menghadapi konsekuensi ekonomi yang menghantam pemilihnya sendiri. Itulah absurditasnya: perang dagang yang dijalankan tanpa strategi, hanya didorong oleh ego dan impuls politik jangka pendek.
Para pengamat menyebutnya TACO—“Trump Always Chickens Out.” Sebuah istilah yang lahir dari frustrasi terhadap pola lama: menggertak keras, tapi mundur begitu pasar saham terhuyung. China membaca pola itu seperti membaca naskah lama. Mereka tahu Trump lebih takut pada penurunan indeks Dow Jones daripada pada kemarahan Xi Jinping. Maka ketika Trump kembali mengancam tarif baru, Beijing hanya tersenyum dingin. Mereka tahu siapa yang lebih tahan lapar. Mereka tahu Amerika sedang bermain api di ladang yang disiram bensin oleh keserakahannya sendiri.
Kita tahu, logam tanah jarang bukan sekadar bahan mentah; ia adalah simbol kekuasaan di era baru. Dalam setiap gram neodymium atau terbium tersimpan potensi kontrol atas industri otomotif, pertahanan, dan energi hijau. Dan China, dengan lebih dari 70 persen kapasitas pemrosesan dunia, memegang kunci itu dengan tenang. Ia bukan lagi sekadar pabrik dunia; ia adalah sumber daya dunia itu sendiri. Ketika Beijing mulai membatasi ekspor, itu bukan hanya pukulan ekonomi—itu adalah peringatan filosofis: bahwa dominasi Barat atas rantai pasokan global sudah berakhir.
Namun yang menarik, perang dagang ini tak hanya mengguncang ekonomi global; ia juga mengubah cara China memandang dirinya sendiri. Dulu, Beijing selalu menolak gagasan decoupling (pemutusan hubungan ekonomi) dari Amerika dengan alasan “lose-lose situation.” Tapi kini, nada itu berubah. China sudah menyiapkan infrastruktur ekonomi alternatif: memperluas pasar lewat Belt and Road Initiative, mempererat hubungan dagang dengan Rusia, Afrika, hingga Amerika Latin, dan secara perlahan membangun sistem keuangan yang tak sepenuhnya bergantung pada dolar. Sementara Amerika masih sibuk menambal kebijakan domestiknya, China sudah menulis bab baru tentang globalisasi versi mereka sendiri.
Saya rasa inilah bagian yang paling membuat risau Washington: kesadaran bahwa kekuasaan ekonomi global kini tidak lagi tunggal. AS kehilangan monopoli simbolik atas “aturan main dunia.” Ia pernah menuduh China meniru segalanya—teknologi, strategi, bahkan mimpi. Tapi kini yang ditiru adalah keberanian untuk menantang tatanan lama. China belajar dari kebijakan sanksi AS, lalu membuat versinya sendiri. Mereka menyaksikan Washington menekan negara lain lewat daftar hitam dagang, lalu menciptakan Entity List versi Beijing. Dunia tiba-tiba menemukan dua kekuatan besar yang saling memantulkan cermin—dan bayangan keduanya membuat ekonomi global gemetar.
Lalu di mana posisi kita, negara seperti Indonesia, di tengah dua raksasa yang saling cakar ini? Di satu sisi, kita menikmati investasi dari China; di sisi lain, kita bergantung pada pasar AS. Kita memakai ponsel yang komponennya dibuat di China dengan chip rancangan Amerika, lalu mengeluh ketika harga naik karena perang tarif. Ironinya, kita hidup di tengah perang yang tak kita mulai, tapi dampaknya menembus dapur rumah tangga kita. Harga kendaraan listrik naik, biaya produksi pabrik melonjak, dan kita kembali mendengar alasan lama: “karena perang dagang.”
Saya tak ingin menyederhanakan ini menjadi cerita “China baik, Amerika jahat” atau sebaliknya. Keduanya sama-sama menggunakan kekuatan ekonomi sebagai alat dominasi. Bedanya, AS melakukannya dengan gaya penguasa lama yang masih percaya bahwa dunia akan tunduk pada dolar, sementara China melakukannya dengan kesabaran yang menghitung setiap langkah. Jika AS masih sibuk dengan retorika kebebasan pasar, China sibuk menulis ulang definisi pasar itu sendiri.
Ada sesuatu yang nyaris puitis dalam kontradiksi ini. Negara yang dulu memimpin globalisasi kini menutup diri dengan tarif dan daftar larangan. Negara yang dulu dituduh komunis tertutup justru membuka jaringan dagang ke tiga benua. Dunia terbalik, dan mungkin memang sudah saatnya. Karena yang sedang runtuh bukan sekadar dominasi ekonomi Amerika, tapi juga ilusi bahwa pasar bebas bisa hidup berdampingan dengan politik kepentingan yang rakus.
Namun tentu saja, kejatuhan hegemon tidak selalu berarti kebebasan bagi dunia. Sebab setiap kekosongan kekuasaan akan segera diisi oleh kekuatan lain yang tak kalah agresif. China memang tampak tenang, tapi langkah-langkahnya bukan tanpa ambisi. Mereka ingin memastikan bahwa dunia tidak lagi berputar di sekitar Washington, tapi di sekitar Beijing. Dan kita semua, entah suka atau tidak, sedang menjadi bagian dari eksperimen besar itu—eksperimen tentang siapa yang akan menulis ulang masa depan ekonomi global.
Pada akhirnya, perang dagang ini adalah cermin bagi peradaban modern. Kita sibuk berbicara tentang inovasi, efisiensi, dan keberlanjutan, tapi di balik layar, segalanya masih ditentukan oleh siapa yang memiliki bahan mentah dan siapa yang mampu menahannya. Dunia ini, betapapun digitalnya, masih tunduk pada tanah dan logam. Dan ironinya, perang yang tampak tentang chip dan data ternyata masih berakar pada tambang dan kerak bumi.
Trump mungkin akan terus berkoar tentang “deal besar” yang akan ia buat dengan China. Tapi sejarah tahu, bukan dia yang sedang mengendalikan permainan. China sudah belajar terlalu banyak, terlalu cepat. Mereka tahu Trump haus akan kesepakatan, bukan kemenangan. Dan dalam dunia diplomasi, itu kelemahan yang mematikan. Maka ketika pertemuan Trump–Xi nanti digelar, kita tak sedang menyaksikan negosiasi dua pemimpin, tapi upacara simbolik: satu kekuasaan yang menurun, dan satu kekuasaan yang sedang menanjak dengan tenang.
Saya rasa dunia sedang berada di ambang decoupling besar-besaran—bukan hanya ekonomi, tapi juga ideologis. Dan mungkin, sebagaimana semua perubahan besar dalam sejarah, ini dimulai dengan sesuatu yang tampak sederhana: keputusan China untuk menahan sebagian logam di gudangnya, dan keputusan Trump untuk menahan sebagian nalar di kepalanya. Dari situ, sejarah pun bergerak.
