Opini
Ketika Traktor Berteriak, Parlemen Eropa Pura-Pura Tuli
Di Brussels, pusat kekuasaan Uni Eropa, ada dua jenis suara yang hari itu saling bertabrakan. Yang pertama datang dari dalam gedung: suara pidato diplomatik, kalimat-kalimat steril tentang stabilitas, solidaritas, dan komitmen bersama—diucapkan dengan nada datar sambil menyeruput kopi mahal. Yang kedua datang dari luar: klakson traktor, ban terbakar, dan bau slurry yang memaksa semua orang mengingat satu hal yang sering dilupakan para pengambil keputusan—makanan tidak tumbuh di ruang rapat.
Media memilih menertawakan suara kedua. Karena suara pertama terlalu akrab, terlalu mapan, terlalu aman untuk dikritik.
Para petani kembali ke Brussels, dan seperti biasa mereka digambarkan sebagai gangguan: berisik, bau, tidak estetis, dan—ini yang paling menyebalkan—terlalu nyata. Mereka mengganggu makan siang, menutup jalan, merusak suasana kota yang seharusnya rapi dan sopan. Sebuah kota yang dibangun untuk kebijakan, bukan untuk orang-orang yang menanggung akibatnya.
Satir media arus utama menggambarkan para petani seperti suporter sepak bola yang datang untuk mengamuk. Analogi yang menarik, meski jujur saja, sangat tidak adil. Suporter datang untuk hiburan. Petani datang karena mata pencaharian mereka diperas perlahan, rapi, dan legal oleh kebijakan yang disahkan jauh dari ladang.
Yang lucu—atau tragis—adalah bagaimana kekerasan simbolik selalu dinormalisasi jika datang dari atas. Harga dipotong, subsidi dihapus, standar lingkungan diperketat tanpa transisi adil, pasar dibuka lebar untuk produk impor murah—semua itu disebut reformasi. Tapi ketika petani membalas dengan api ban dan klakson, itu disebut anarki.
Uni Eropa menyukai kata “dialog”. Tetapi dialog versi mereka selalu punya prasyarat: tenang, tertib, sesuai jadwal, dan tidak mengganggu lalu lintas kekuasaan. Petani yang datang ke Brussels jelas tidak memenuhi etika dialog tersebut. Mereka lupa satu hal penting: suara orang miskin hanya sah jika disampaikan dengan bahasa orang kaya.
Maka ketika klakson traktor memainkan “Crazy Frog”, para kolumnis tertawa. Padahal itu mungkin satu-satunya musik yang masih terdengar oleh telinga yang sudah terlalu lama tersumbat jargon kebijakan. Proposal sudah dikirim, surat sudah ditandatangani, audiensi sudah diminta—semuanya menguap seperti asap rapat pleno. Tersisalah suara paling purba dalam politik: gangguan.
Lucunya lagi, aparat keamanan yang biasanya tegas kepada warga biasa mendadak menjadi filsuf jalanan saat berhadapan dengan petani. Mungkin mereka sadar, ini bukan soal hukum, tapi soal legitimasi. Sulit menangkap orang yang sebenarnya sedang menunjukkan kegagalan sistem yang Anda jaga.
Media pun membantu merapikan kegagalan itu dengan humor. Karena humor adalah cara paling sopan untuk tidak membicarakan ketimpangan. Lebih mudah menulis tentang klakson Mozart daripada menjelaskan kenapa petani Eropa kalah bersaing dengan produk impor yang dihasilkan tanpa standar yang sama. Lebih ringan mengejek bau kotoran ternak daripada mengulas bagaimana rantai pasok pangan dikendalikan segelintir korporasi.
Dan tentu saja, perhatian dunia sedang tertuju ke tempat lain. Ada perang, ada geopolitik, ada Ukraina. Semua itu penting, kata para pemimpin, dan mereka tidak salah. Tetapi menjadi ironis ketika solidaritas Eropa terasa jauh lebih cepat mengalir melintasi perbatasan daripada ke desa-desa sendiri. Untuk krisis eksternal, miliaran euro bisa ditemukan. Untuk petani yang memproduksi makanan sehari-hari, jawabannya sering berupa “penyesuaian anggaran”.
Para petani ini tidak punya kursi di parlemen Eropa. Mereka tidak punya akses ke lobi mahal atau kolom opini berpengaruh. Mereka punya satu keistimewaan yang tersisa: kemampuan untuk menghentikan segalanya. Jalan bisa diblokir. Kota bisa lumpuh. Karena ketika mereka berhenti bekerja, ilusi kemakmuran runtuh dengan cepat.
Itulah yang paling ditakuti kekuasaan: bukan api ban, tapi pengingat bahwa sistem ini rapuh. Bahwa di balik semua pidato tentang nilai-nilai Eropa, ada jutaan orang yang diminta menopang bangunan ini tanpa pernah diajak merancangnya.
Maka satir tentang petani sebenarnya adalah satir tentang Eropa itu sendiri. Tentang sebuah proyek politik yang suka berbicara atas nama rakyat, tetapi panik ketika rakyat berbicara dengan caranya sendiri. Tentang demokrasi yang nyaman selama protes bisa disaring, dikurasi, dan dijadikan konten ringan.
Para petani disebut kuno, kasar, tidak modern. Padahal justru mereka yang paling konkret memahami realitas. Mereka tahu berapa harga pupuk, berapa margin yang tersisa, berapa lama tanah bisa diperas sebelum mati. Pengetahuan ini tidak bisa diringkas dalam satu slide presentasi, dan karena itu sering diabaikan.
Jika hari ini Brussels berisik, itu bukan karena para petani tidak beradab. Itu karena sistem politik terlalu sopan untuk jujur. Terlalu halus untuk mengakui bahwa di balik slogan “Eropa Bersatu”, ada jurang antara mereka yang membuat kebijakan dan mereka yang menanggungnya.
Jadi biarkan traktor datang. Biarkan klakson berbunyi. Jika perlu, biarkan bau slurry mengingatkan siapa pun yang lupa bahwa pangan tidak datang dari dokumen PDF. Karena selama parlemen masih pura-pura tuli, suara paling masuk akal memang harus datang dengan cara yang tidak nyaman.
Dan mungkin, hanya mungkin, gangguan itu bukan ancaman bagi demokrasi Eropa—melainkan satu-satunya bukti bahwa ia masih hidup.
