Connect with us

Opini

Ketika Tentara Israel Bunuh Diri, Negara Diam

Published

on

Ilustrasi tentara Israel duduk sendirian dalam ruang gelap, bayangan gedung negara membisu di belakangnya, simbol krisis moral dan meningkatnya bunuh diri militer.

Ada sesuatu yang ganjil, bahkan nyaris absurd, ketika sebuah negara yang setiap hari memamerkan kekuatan militernya justru diam-diam menyaksikan tentaranya runtuh dari dalam. Kita membaca angka, grafik, laporan tahunan—semuanya tampak dingin dan administratif. Tetapi di balik statistik itu ada tubuh-tubuh muda yang berhenti bernapas oleh tangan mereka sendiri. Sejak invasi Israel ke Gaza pada 2023, dan mencapai titik tertinggi pada 2025, angka bunuh diri tentara Israel terus meningkat. Bagi saya, ini bukan sekadar krisis kesehatan mental. Ini adalah alarm moral yang meraung, namun sengaja dikecilkan volumenya.

Laporan yang Anda kirimkan memberi pijakan penting. Ia tidak datang dari ruang hampa, melainkan dari lanskap perang yang terus membara, dari Gaza yang dihancurkan hari demi hari, dan dari tentara yang dipaksa hidup di antara perintah negara dan suara hati sendiri. Angka bunuh diri tentara Israel yang melonjak pada 2025—tertinggi dalam lebih dari satu dekade—bukan kebetulan statistik. Ia adalah produk langsung dari perang yang tak mengenal jeda, dari kekerasan yang dinormalisasi, dari genosida yang dibungkus jargon keamanan.

Donasi ke Vichara via Saweria

Dukung Vichara dengan berdonasi đź’›

Saya rasa kita semua tahu, perang selalu meninggalkan trauma. Tapi tidak semua trauma berujung pada kematian yang dipilih sendiri. Ada sesuatu yang lebih dalam di sini. Sesuatu yang membuat seorang tentara—yang dilatih, dipersenjatai, dan dipuja sebagai pelindung negara—memutuskan bahwa hidup setelah perang lebih menakutkan daripada kematian. Angka bunuh diri tentara Israel menjadi semacam catatan kaki yang mengganggu dalam narasi resmi: bahwa operasi militer ini terkendali, rasional, dan perlu. Jika semua itu benar, mengapa tubuh-tubuh ini menyerah?

Negara sering menyebut ini sebagai “beban psikologis perang”. Sebuah frasa yang terdengar klinis, nyaris sopan. Tetapi laporan menunjukkan bahwa lonjakan ini berkorelasi langsung dengan invasi Gaza yang dimulai 2023 dan tak kunjung berhenti hingga hari ini. Artinya, semakin lama operasi berjalan, semakin banyak nyawa yang hilang—bukan hanya di Gaza, tetapi juga di barak-barak militer Israel sendiri. Ironis, ya. Negara mengklaim membela hidup warganya, tetapi gagal menjaga hidup tentaranya sendiri.

Di sini, angka bunuh diri tentara Israel berfungsi seperti cermin retak. Ia memantulkan bayangan genosida yang tidak hanya menghancurkan korban, tetapi juga merusak pelaku. Banyak analis menyebut istilah moral injury—cedera moral—ketika seseorang dipaksa melakukan atau menyaksikan tindakan yang bertentangan dengan nilai dasarnya. Saya kira istilah itu terlalu sopan. Ini bukan sekadar cedera. Ini luka yang menggerogoti makna hidup.

Bayangkan seseorang pulang dari tugas, duduk di meja makan, menatap anaknya, lalu mengingat reruntuhan rumah di Gaza. Kita tidak perlu menjadi psikolog untuk memahami ketegangan batin itu. Dalam budaya kita, ada ungkapan “hati tidak bisa dibohongi”. Barangkali itulah yang terjadi. Propaganda bisa menipu pikiran, tetapi hati—entah bagaimana—tetap mencatat.

Yang membuat situasi ini semakin getir adalah bagaimana negara merespons. Alih-alih mempertanyakan kebijakan perang, solusi yang ditawarkan seringkali teknokratis: lebih banyak konselor, lebih banyak hotline, lebih banyak program “ketahanan mental”. Seolah-olah masalahnya ada pada individu yang rapuh, bukan pada sistem yang brutal. Padahal, angka bunuh diri tentara Israel justru menunjukkan bahwa sistem itu sendiri yang sakit.

Di titik ini, kita masuk ke wilayah ironi yang pahit. Negara yang mengklaim perang ini perlu demi keamanan justru menciptakan ketidakamanan psikologis akut bagi aparatnya. Seperti seseorang yang membakar rumah untuk mengusir nyamuk, lalu heran mengapa ia kehilangan tempat tinggal. Setiap tahun, setiap laporan baru, menambah lapisan absurditas itu.

Konteks lokal kita di Indonesia mungkin terasa jauh dari Gaza, tetapi logikanya dekat. Kita tahu bagaimana aparat yang terus-menerus ditempatkan dalam situasi represif sering kali mengalami kelelahan mental. Bedanya, skala dan intensitas di Gaza jauh lebih ekstrem. Ketika angka bunuh diri tentara Israel mencapai puncaknya pada 2025, itu menandai sesuatu yang lebih dari sekadar krisis internal. Itu tanda bahwa narasi negara mulai bocor, dan kebocoran itu terjadi di level paling personal: hidup dan mati.

Ada yang mungkin berkata, “Ini urusan internal Israel.” Pernyataan itu terdengar netral, tapi sesungguhnya politis. Karena perang di Gaza bukan urusan internal. Ia disiarkan ke seluruh dunia, didanai oleh aliansi internasional, dan dibela di forum global. Maka dampaknya—termasuk runtuhnya psikologi tentara—juga relevan secara global. Angka bunuh diri tentara Israel menjadi bagian dari biaya yang harus ditanggung dunia ketika kekerasan dibiarkan.

Yang lebih mengkhawatirkan, jika perang ini terus berlanjut tanpa jeda, tren ini hampir pasti berlanjut. Trauma tidak mengenal garis finish. Setiap rotasi pasukan, setiap operasi baru, menumpuk beban yang sama. Dalam jangka panjang, ini berpotensi menggerogoti fondasi sosial Israel sendiri: keluarga yang kehilangan anak bukan di medan perang, tetapi di kamar tidur mereka; masyarakat yang dipaksa berpura-pura bahwa semua baik-baik saja.

Saya rasa di sinilah makna politik paling penting dari angka bunuh diri tentara Israel. Ia adalah indikator bahwa genosida bukan hanya kejahatan terhadap korban, tetapi juga bumerang bagi pelakunya. Bukan karena empati negara, tetapi karena realitas psikologis manusia. Kekerasan ekstrem selalu menuntut tumbal, dan kadang tumbal itu datang dari barisan sendiri.

Penutupnya, saya ingin jujur. Saya tidak menulis ini untuk mengundang simpati bagi militer Israel. Saya menulis ini untuk menolak kebohongan bahwa kekerasan bisa dikelola tanpa konsekuensi. Setiap angka bunuh diri adalah dakwaan sunyi terhadap kebijakan perang yang tak bermoral. Selama Gaza terus dibombardir, selama genosida ini dilanjutkan, kita akan terus membaca laporan-laporan seperti ini. Dan setiap kali, dunia akan dihadapkan pada pilihan yang sama: menutup mata, atau mengakui bahwa mesin kekerasan ini sudah lama keluar jalur.

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel Populer