Connect with us

Opini

Ketika Presiden Iran Deklarasikan Perang

Published

on

Ilustrasi editorial tentang perang senyap terhadap Iran, menampilkan Presiden Iran berdiri tenang di tengah tekanan ekonomi dan geopolitik global.

Ada ironi yang nyaris grotesk dalam cara dunia modern berbicara tentang perang. Kita hidup di zaman ketika sebuah negara bisa dilumpuhkan tanpa satu pun bom dijatuhkan, tanpa pasukan asing menyeberangi perbatasan, tanpa deklarasi resmi yang ditandatangani di meja diplomasi. Namun dampaknya terasa nyata: harga kebutuhan pokok melonjak, mata uang terjun bebas, dan kehidupan sehari-hari berubah menjadi latihan bertahan hidup. Maka ketika Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyatakan bahwa negaranya berada dalam perang penuh dengan Amerika Serikat, “Israel”, dan Eropa, saya rasa itu bukan ledakan emosi, melainkan pengakuan telanjang atas realitas yang selama ini dipaksa kita sebut dengan nama lain.

Pernyataan itu, sebagaimana dilaporkan Al-Mayadeen, segera memancing kegaduhan. Banyak yang tergesa-gesa menyebutnya provokatif, berlebihan, bahkan berbahaya. Namun kegaduhan itu sendiri mengungkap masalah yang lebih dalam: dunia internasional terbiasa dengan perang yang tidak mau mengaku sebagai perang. Kita semua tahu, tetapi memilih berpura-pura tidak tahu. Dalam konteks itu, ketika Presiden Iran deklarasikan perang, yang sebenarnya terjadi adalah pembalikan logika: Iran bukan sedang memulai konflik, melainkan menyebut konflik yang telah lama dimulai oleh pihak lain.

Donasi ke Vichara via Saweria

Dukung Vichara dengan berdonasi 💛

Selama bertahun-tahun, Amerika Serikat menerapkan sanksi ekonomi yang bukan sekadar simbolik, melainkan sistematis dan melumpuhkan. Ekspor minyak dibatasi, transaksi keuangan diputus, bahkan negara ketiga yang mencoba berdagang dengan Iran diancam sanksi sekunder. Ini bukan kebijakan netral. Ini adalah serangan langsung terhadap kemampuan sebuah negara untuk bernapas. Eropa, meski sering tampil dengan bahasa diplomasi dan keprihatinan, ikut berdiri dalam barisan yang sama. “Israel” menjalankan perang bayangan—sabotase, operasi intelijen, serangan siber—yang jarang diakui, tetapi efeknya nyata. Dalam kondisi seperti ini, menyebut semuanya sekadar “tekanan” terasa seperti satire yang kejam.

Ketika Presiden Iran deklarasikan perang, ia tidak sedang mengangkat bendera agresi, melainkan menolak ilusi. Ia menyebut apa yang selama ini dipoles dengan bahasa teknokratis sebagai apa adanya: perang multidimensi. Perang yang tidak mencari kemenangan cepat, tetapi kelelahan jangka panjang. Perang yang tidak mengandalkan tank, tetapi neraca perdagangan. Perang yang tidak menargetkan markas militer, tetapi dapur rakyat. Jika kita jujur, sulit menyangkal bahwa dampak sanksi ekonomi sering kali lebih merusak kehidupan sipil dibandingkan serangan militer terbatas.

Perbandingan yang dibuat Pezeshkian dengan Perang Iran–Irak terasa mengganggu, tetapi justru di situlah letak kejujurannya. Perang delapan tahun melawan Saddam Hussein adalah konflik brutal, tetapi setidaknya memiliki garis depan yang jelas dan musuh yang kasat mata. Perang hari ini jauh lebih kabur. Tidak ada tanggal mulai yang resmi, tidak ada gencatan senjata yang bisa dirayakan. Ia merayap pelan, menyusup ke ruang sosial, ekonomi, dan psikologis. Ketika Presiden Iran deklarasikan perang, ia mengakui bahwa medan tempur kini ada di mana-mana, termasuk di dalam negeri sendiri.

Pernyataan tentang pengepungan dari segala arah—ekonomi, politik, budaya, keamanan—bukan hiperbola. Ia menggambarkan kondisi di mana negara dipaksa berfungsi dalam ruang yang terus menyempit. Pada titik ini, deklarasi tersebut lebih mirip laporan situasi daripada ancaman. Bahkan ketika Pezeshkian menyinggung bahwa klaim Barat tentang kelemahan Iran hanyalah fantasi, nada yang muncul bukan euforia, melainkan kewaspadaan. Ia tahu betul bahwa tekanan eksternal sering kali bertujuan memecah belah dari dalam, membuat masyarakat lelah, sinis, dan saling curiga.

Namun, deklarasi ini juga membawa pesan lain yang tak kalah penting: kesiapan. Ketika Presiden Iran deklarasikan perang, ia secara implisit menyatakan bahwa Iran tidak lagi akan berpura-pura bahwa semua ini hanyalah perselisihan diplomatik. Ini bukan ajakan untuk menyerang, melainkan peringatan bahwa eskalasi berikutnya tidak akan terjadi sepihak. Dalam bahasa strategi, ini adalah pernyataan deterrence. Pesannya sederhana, bahkan dingin: jika perang senyap ini ingin diubah menjadi perang terbuka, Iran tidak akan menghindar. Dunia boleh menyebutnya keras, tetapi dalam politik kekuatan, kejelasan sering kali lebih menenangkan daripada ambiguitas.

Di sinilah banyak pembaca tergelincir. Ada kecenderungan untuk membaca setiap pernyataan tegas dari Teheran sebagai tanda hasrat konflik. Padahal, jika ditelaah lebih jernih, deklarasi ini justru bertujuan mencegah salah perhitungan. Sejarah konflik modern penuh dengan contoh bagaimana ambiguitas berujung bencana. Dengan menyebut dirinya berada dalam perang, Iran menurunkan ambang ilusi dan menaikkan ambang tanggung jawab. Setiap tindakan ke depan—baik dari Iran maupun dari lawannya—akan dibaca dalam kerangka konflik terbuka, bukan sekadar insiden terpisah.

Pendekatan yang ia tekankan—berbasis lingkungan, komunitas, dan masjid—sering dibaca secara sempit sebagai romantisme ideologis. Namun dalam konteks perang non-konvensional, pendekatan ini memiliki logika tersendiri. Ketika negara diserang secara ekonomi, ketahanan sosial menjadi garis pertahanan terakhir. Ini bukan hal asing. Banyak negara, termasuk yang sering kita anggap mapan, mengandalkan solidaritas sosial saat krisis. Bedanya, Iran melakukannya di bawah tekanan global yang konsisten, bukan krisis sementara.

Tentu, pendekatan ini tidak tanpa risiko. Generasi muda Iran hidup di dunia yang jauh berbeda dari era revolusi atau perang Iran–Irak. Media sosial, urbanisasi, dan koneksi global membentuk ekspektasi baru. Namun justru di sinilah makna deklarasi itu menjadi jelas: ia adalah upaya membangun kesadaran bahwa apa yang dialami Iran hari ini bukan sekadar kegagalan kebijakan domestik, melainkan konsekuensi langsung dari perang senyap yang dipaksakan dari luar. Ini bukan pembelaan buta, melainkan konteks yang sering dihapus dari perbincangan internasional.

Dampaknya melampaui Iran. Ketika Presiden Iran deklarasikan perang, Timur Tengah kembali diingatkan betapa rapuhnya stabilitas kawasan. Setiap kunjungan pejabat tinggi, setiap kebijakan sanksi baru, setiap operasi bayangan berpotensi memicu reaksi berantai. Jalur energi global, pasar minyak, dan keamanan pelayaran berada dalam ketegangan laten. Dunia internasional, terutama Eropa, terjebak dalam paradoks: menginginkan stabilitas, tetapi terus mendukung kebijakan yang memelihara konflik berkepanjangan.

Yang paling ironis, mungkin, adalah reaksi diam dari pihak-pihak yang dituduh. Tidak ada bantahan serius, tidak ada upaya membantah substansi klaim perang senyap itu. Yang ada hanya penghindaran istilah “perang”, seolah dengan menolak kata tersebut, realitas bisa diubah. Padahal, bagi jutaan warga Iran yang hidup di bawah tekanan ekonomi, istilah itu bukan metafora. Ia adalah pengalaman sehari-hari. Ketika Presiden Iran deklarasikan perang, ia berbicara dari realitas itu, bukan dari ruang konferensi pers yang steril.

Pada akhirnya, deklarasi ini memaksa kita untuk berpikir ulang tentang definisi perang di abad ke-21. Apakah perang hanya sah disebut perang jika ada ledakan dan korban langsung? Ataukah ketika kebijakan dirancang untuk melumpuhkan kehidupan sebuah bangsa secara sistematis? Pertanyaan ini tidak nyaman, tetapi perlu diajukan. Dunia terlalu lama menikmati perang yang tidak mau mengaku sebagai perang, karena perang semacam itu terasa lebih bersih di atas kertas.

Ketika Presiden Iran deklarasikan perang, ia tidak menyalakan api baru. Ia menunjuk api yang telah lama menyala, meski selama ini disembunyikan di balik bahasa kebijakan. Deklarasi itu adalah pernyataan bahwa Iran memahami permainan yang sedang dimainkan, dan tidak lagi bersedia berpura-pura bahwa semuanya hanyalah dinamika normal hubungan internasional. Apakah ini akan membawa dunia lebih dekat ke konflik terbuka atau justru mencegahnya, bergantung pada bagaimana pihak lain membaca pesan ini. Namun satu hal jelas: perang senyap tidak lagi senyap. Dan dunia kini tak punya alasan untuk berpura-pura tidak mendengarnya.

1 Comment

1 Comment

  1. Pingback: Analisis Geopolitik Iran dan Penutupan Ruang Udara

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel Populer