Connect with us

Opini

Ketika Perang Menjadi Komoditas: Amerika, Venezuela, dan Bisnis Ketakutan

Published

on

Editorial illustration of the U.S. burning the Caribbean under the banner of “Democracy,” symbolizing military hypocrisy toward Venezuela.

Ada sesuatu yang absurd ketika perang mulai terdengar seperti laporan keuangan. Ketika berita tentang kapal perusak, drone, dan rudal Tomahawk dibacakan dengan nada yang sama seperti saham yang naik di bursa. Ketika “ancaman terhadap stabilitas kawasan” berarti peluang kontrak baru bagi korporasi senjata. Inilah dunia kita sekarang—sebuah panggung besar di mana peperangan bukan lagi tragedi manusia, tapi investasi jangka panjang. Dan di tengah Karibia, bayangan perang antara Amerika Serikat dan Venezuela sedang berubah menjadi ladang emas bagi industri senjata.

Kita semua tahu, perang selalu butuh alasan. Dulu agama, sekarang “demokrasi”, “perang melawan teror”, atau “narco-terorisme”. Kali ini, alasan itu adalah para “narco-teroris” di wilayah Karibia, istilah yang elastis, lentur, bisa disesuaikan dengan siapa pun yang menghalangi kepentingan Amerika Serikat. Di bawah dalih itu, Washington mengerahkan armada perangnya ke sekitar Venezuela: kapal induk Gerald R. Ford, kapal perusak USS Gravely, kapal selam nuklir USS Newport News, hingga pesawat pengintai P-8 Poseidon. Terlihat gagah, heroik, bahkan futuristik. Tapi di balik semua itu, ada aroma logam dan uang yang jauh lebih kuat daripada semangat moral.

Donasi ke Vichara via Saweria

Dukung Vichara dengan berdonasi 💛

Laporan Responsible Statescraft mengungkap angka-angka yang membuat kepala berputar: satu kapal perusak kelas Arleigh Burke bernilai sekitar 2,5 miliar dolar. Satu pesawat tempur AC-130J Ghostrider—165 juta dolar. Satu drone MQ-9 Reaper—sekitar 30 juta dolar. Dan ketika semua mesin ini dikerahkan di lautan Karibia, artinya bukan hanya operasi militer sedang berjalan, tapi juga mesin bisnis sedang berputar. Karena yang dijual bukan cuma senjata, tapi juga layanan pemeliharaan, perpanjangan kontrak, upgrade sistem, dan—pada akhirnya—rasa takut.

Lockheed Martin, RTX (dulu Raytheon), Boeing, General Dynamics, dan General Atomics kini duduk di puncak rantai makanan geopolitik. Mereka bukan hanya pembuat senjata, tapi pengatur napas anggaran militer AS. Menurut laporan itu, biaya pemeliharaan bisa mencapai 70% dari total nilai suatu sistem. Jadi, bahkan setelah perang selesai—atau bahkan tanpa perang sekalipun—uang tetap mengalir. Sistem ini dirancang agar krisis tak pernah benar-benar berakhir.

Kita lihat saja contohnya: General Atomics baru saja mendapat kontrak 14,1 miliar dolar untuk mendukung drone MQ-9 Reaper. Lockheed Martin menandatangani kesepakatan 3,1 miliar dolar untuk sistem tempur Aegis. RTX menjual ratusan misil Tomahawk senilai lebih dari satu miliar dolar. Di atas kertas, semua ini disebut “persiapan keamanan regional”. Tapi di realitas, ia lebih menyerupai perlombaan menimbun keuntungan di atas ketegangan.

Saya rasa, inilah wajah kapitalisme militer yang paling jujur. Tidak lagi bersembunyi di balik jargon “perlindungan dunia bebas”, tapi terang-terangan menggandeng ancaman untuk menambah laba. Dan yang lebih ironis: kita sudah terbiasa mendengar ini. Tiap kali Washington meningkatkan tensi—entah di Teluk Persia, Pasifik Selatan, atau sekarang di Karibia—pasar saham industri pertahanan ikut menanjak. Dunia marah, tapi pasar tersenyum.

Apa yang terjadi di sekitar Venezuela hari ini bukanlah pertarungan dua pihak yang setara. Amerika Serikat adalah pihak yang menginisiasi tekanan, dan Venezuela terpaksa bereaksi. AS mengatur panggung, Venezuela dipaksa menari di bawah sorotan. Maka, keliru jika menyamakan keduanya seolah sama-sama “memelihara rasa takut”. Washington memproduksi ketakutan sebagai komoditas politik dan ekonomi; Caracas hanya berusaha bertahan di tengah tekanan militer dan ekonomi yang menghimpit. Yang satu menanam krisis, yang lain mencoba bertahan dari panennya.

Venezuela punya sejarah panjang melawan dominasi Amerika. Negara itu menolak resep ekonomi neoliberal, menggandeng Rusia dan Tiongkok, dan tetap keras kepala mempertahankan kontrol atas cadangan minyaknya—terbesar di dunia. Dan di mata Washington, itu dosa besar. Maka, tak mengherankan jika pengerahan militer ini dibaca oleh Presiden Nicolás Maduro sebagai langkah menuju “perubahan rezim”, strategi lama dengan kemasan baru.

Namun yang paling mengganggu adalah bagaimana masyarakat global tampak lelah memperhatikan. Dunia sudah terlalu sering melihat “intervensi untuk demokrasi” berujung pada reruntuhan. Irak, Libya, Suriah—semuanya diawali dengan niat baik, katanya. Tapi lihat apa yang tersisa. Sekarang, dengan dalih memberantas “narco-terorisme”, AS kembali mengerahkan kekuatan penuh di Karibia, seolah sejarah tak pernah mengajarkan apa-apa.

Di sisi lain, kita tak bisa menutup mata terhadap logika bisnis yang menopang semuanya. Perusahaan senjata tak butuh perang besar; mereka hanya butuh ketegangan yang stabil. Sedikit panas, sedikit dingin, cukup untuk memastikan anggaran militer tak pernah dipotong. Dalam konteks ini, Venezuela bukan target militer, melainkan objek ekonomi-politik—alat dalam permainan besar mempertahankan relevansi dan dominasi global Amerika.

Bila kita tarik ke konteks lokal, fenomena ini tak jauh berbeda dengan apa yang terjadi di banyak negara berkembang, termasuk Indonesia. Kita sering melihat bagaimana proyek-proyek keamanan dikemas dengan retorika nasionalisme, padahal di baliknya ada bisnis besar: pengadaan alat, kontrak jasa, modernisasi sistem. Hanya saja, skala kita tak sebesar Amerika. Tapi logika dasarnya sama: rasa takut dijadikan aset, dan keamanan dijual seperti komoditas.

Kita semua tahu, perang bukan hanya tentang peluru. Ia tentang siapa yang menulis narasinya. Dan narasi yang paling kuat biasanya datang dari mereka yang punya dana kampanye, akses ke media, dan saham di perusahaan senjata. Karena itu, ketika laporan seperti ini muncul, kita harus membacanya bukan sekadar sebagai berita, tapi sebagai peringatan: dunia sedang dikendalikan oleh mereka yang diuntungkan oleh ketidakamanan.

Bahkan istilah “stabilitas” kini terdengar ironis. Bagaimana mungkin stabilitas dicapai dengan menempatkan kapal perang di halaman belakang negara lain? Bagaimana bisa keamanan lahir dari ancaman? Tapi begitulah logika zaman ini: semakin besar rasa takut yang mereka sebarkan, semakin tinggi nilai saham pertahanan mereka. Dunia terbalik, dan kita semua menjadi penontonnya—atau lebih buruk, pembayarnya, lewat pajak, lewat harga minyak, lewat krisis ekonomi yang selalu datang setelah bom meledak di tempat lain.

Dan di sinilah ironi mencapai puncaknya: Amerika Serikat selalu tampil sebagai pihak tak berdosa. Setiap kali api peperangan disulut, mereka berdiri di podium, berbicara tentang demokrasi, tentang perdamaian, seolah bukan mereka yang membawa obor di tangan. Seperti di Venezuela hari ini—perang diposisikan sebagai jawaban bagi mereka yang menolak tunduk. Mereka membakar, lalu berpura-pura menjadi pemadam. Mereka menghancurkan, lalu datang dengan kontraktor untuk membangun kembali, sambil menghitung laba.

Jadi bukan kita semua yang menjadi sumber persoalan; bukan dunia yang sakit karena “dua pihak yang sama keras kepala.” Yang sakit adalah satu sistem kekuasaan yang selalu menganggap peperangan sebagai solusi, dan yang lain sebagai biang masalah. Amerika Serikat bukan korban sejarah—ia adalah penulisnya. Dan selama naskah itu terus dibaca tanpa dikoreksi, maka negara-negara seperti Venezuela akan terus hidup di tepi ancaman, sementara Washington terus menulis kisah kemenangan palsunya di atas reruntuhan bangsa lain.

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel Populer