Opini
Ketika Penculikan Maduro Dinormalisasi Dunia
Ada momen ketika dunia terasa mirip panggung sandiwara yang lupa naskahnya sendiri. Lampu terang, aktor lengkap, tetapi dialognya kacau. Kita menyaksikan sebuah tindakan yang oleh banyak laporan disebut sebagai penculikan Maduro, namun reaksi globalnya justru terdengar seperti bisikan pengantar tidur: “tenanglah, jangan eskalasi.” Di titik ini, kegelisahan bukan lagi soal Venezuela atau Amerika Serikat, melainkan tentang akal sehat yang perlahan dipreteli oleh kebiasaan buruk bernama pembiaran.
Saya rasa, kita semua tahu ada yang janggal. Dalam laporan yang beredar, termasuk kecaman resmi China, tindakan terhadap Presiden Venezuela itu disebut sebagai pelanggaran serius kedaulatan dan hukum internasional. Bahasa yang dipakai Beijing tegas, bahkan dingin: ini bukan sekadar sengketa politik, ini soal prinsip. Namun dunia, seperti tetangga yang mendengar teriakan di rumah sebelah, memilih menutup pintu dan berkata, “jangan ribut, nanti juga reda.” Ironis, karena yang terdengar bukan cekcok, melainkan dugaan kejahatan.
Di sinilah absurditas itu menampakkan wajahnya. Ketika penculikan Maduro dibicarakan, sebagian negara buru-buru menghindari kata “penculikan” dan menggantinya dengan frasa aman: ketegangan, krisis, eskalasi. Bahasa menjadi alat kosmetik. Kita diajak percaya bahwa masalahnya adalah suhu emosi, bukan tindakan. Padahal, dalam logika paling dasar yang kita ajarkan ke anak-anak, jika ada orang dirampas kebebasannya secara paksa, yang pertama dilakukan adalah menghentikan perampasan itu—bukan menenangkan suasana agar perampasan berlangsung rapi.
China, dengan segala kepentingannya yang tentu tidak steril dari geopolitik, setidaknya memilih menyebut perkara ini dengan nama aslinya. Dalam laporan yang menjadi rujukan tulisan ini, Beijing mengutuk keras apa yang disebutnya sebagai penculikan oleh Amerika Serikat dan memperingatkan konsekuensi global jika praktik semacam ini dibiarkan. Banyak yang sinis, menyebut kecaman itu sekadar manuver. Bisa jadi. Tetapi dalam dunia yang makin miskin keberanian moral, menyebut kejahatan sebagai kejahatan saja sudah terasa radikal.
Masalahnya bukan pada siapa yang mengucapkan kecaman, melainkan pada siapa yang memilih diam. Diam itu menular. Diam itu nyaman. Diam itu sering dibungkus dengan kata “pragmatis.” Kita di Indonesia paham betul logika ini. Dalam kehidupan sehari-hari, ketika ada ketidakadilan kecil—di kantor, di kampung, di sekolah—sering kali orang memilih tidak ikut campur demi “kedamaian.” Hasilnya? Ketidakadilan tumbuh, pelaku makin berani, korban belajar bahwa teriakannya sia-sia. Skala internasional tidak mengubah pola ini, hanya memperbesar dampaknya.
Pendukung pendekatan “deeskalasi” mungkin berkata, dunia harus mencegah konflik lebih besar. Argumen itu terdengar matang, seperti nasihat orang tua. Namun ada ironi pahit di dalamnya. Deeskalasi tanpa keadilan bukan pencegahan konflik, melainkan penundaan ledakan. Ketika penculikan Maduro tidak diikuti tuntutan penghentian dan pertanggungjawaban, pesan yang dikirim ke dunia sangat jelas: aturan ada, tetapi opsional. Dan aturan yang opsional pada akhirnya bukan aturan, melainkan dekorasi.
Saya teringat analogi sederhana. Bayangkan rambu lalu lintas di persimpangan ramai. Semua sepakat rambu itu penting. Tetapi suatu hari, sebuah mobil besar menerobos lampu merah tanpa sanksi. Polisi hanya berkata, “jangan emosi, yang penting lalu lintas tetap mengalir.” Esoknya, mobil lain mengikuti. Minggunya, kecelakaan terjadi. Lalu kita bertanya, sejak kapan jalan ini berbahaya? Jawabannya sederhana: sejak pelanggaran pertama dibiarkan. Begitulah preseden bekerja, pelan tapi pasti.
Dalam konteks global, preseden jauh lebih mematikan. Jika penculikan Maduro dinormalisasi, bukan mustahil negara lain akan mengklaim hak serupa. Hari ini dalihnya narkotika, besok terorisme, lusa pelanggaran HAM versi masing-masing. Dunia berubah menjadi pasar tuduhan, di mana yang kuat memetik hasil dan yang lemah menunggu giliran. China memperingatkan kekacauan ini bukan karena cinta pada Maduro, melainkan karena logika kekuasaan yang tak dibatasi hukum pada akhirnya mengancam semua pihak.
Sebagian pembaca mungkin bertanya, bukankah hukum internasional memang lemah sejak lama? Benar. Tetapi ada perbedaan antara hukum yang lemah dan hukum yang sengaja dilucuti wibawanya. Selama puluhan tahun, dunia setidaknya berpura-pura menghormati prinsip kedaulatan. Kepura-puraan itu penting, karena di sanalah norma hidup. Ketika kepura-puraan pun ditinggalkan, yang tersisa hanyalah kekuatan telanjang. Dalam kondisi itu, jangan heran jika negara kecil merasa dunia kembali ke hukum rimba.
Kita di Global South punya alasan khusus untuk gelisah. Negara-negara seperti Indonesia sering mengandalkan hukum internasional sebagai pagar, bukan karena pagarnya kokoh, tetapi karena tanpa pagar sama sekali, halaman kita terbuka bagi siapa saja. Jika penculikan Maduro diterima sebagai praktik yang “bisa diperdebatkan,” maka setiap pemimpin negara berkembang harus bertanya dengan cemas: seberapa aman kedaulatan kami jika kepentingan negara besar terganggu?
Ada pula yang mencoba menenangkan dengan berkata, kasus ini unik. Saya rasa, sejarah mengajarkan sebaliknya. Tidak ada preseden yang lahir sebagai pola. Semua dimulai sebagai pengecualian. Pengecualian lalu menjadi kebiasaan. Kebiasaan berubah menjadi norma. Dan norma yang lahir dari ketidakadilan hanya menunggu waktu untuk meledak. Di titik itu, dunia akan berpura-pura terkejut, seolah lupa bahwa tanda-tandanya sudah lama terpampang.
Sindiran paling pahit mungkin adalah ini: dunia mengaku ingin stabilitas, tetapi alergi pada keadilan. Padahal, stabilitas tanpa keadilan hanyalah ketenangan palsu. Ia seperti rumah yang rapi di atas tanah retak. Dari luar tampak aman, dari dalam menyimpan kehancuran. Kecaman China, dengan segala keterbatasannya, setidaknya mengingatkan bahwa retakan itu nyata. Bahwa penculikan Maduro bukan peristiwa terisolasi, melainkan gejala penyakit sistemik.
Menjelang akhir renungan ini, saya merasa perlu jujur. Saya tidak naif berharap dunia tiba-tiba bersatu menghukum pelanggar. Tetapi saya juga menolak menerima bahwa diam adalah satu-satunya pilihan rasional. Setiap kecaman, setiap penolakan, setiap penyebutan kejahatan dengan nama aslinya adalah benih. Mungkin kecil. Mungkin rapuh. Namun tanpa benih itu, yang tumbuh hanya hutan liar kekuasaan.
Pada akhirnya, peringatan China patut dibaca sebagai cermin, bukan sebagai propaganda semata. Jika tindakan seperti penculikan Maduro dibiarkan, jangan salahkan siapa pun ketika dunia menjadi semakin kacau, penuh kecurigaan, dan miskin rasa aman. Kekacauan itu bukan datang tiba-tiba; ia disiapkan perlahan oleh keputusan-keputusan kecil untuk diam. Dan dalam dunia yang memilih diam di hadapan kejahatan, keadilan bukan kalah—ia sengaja ditinggalkan.
