Connect with us

Opini

Ketika PBB Hanya Bicara, Buruh Italia Bertindak

Published

on

Ilustrasi buruh pelabuhan Italia tegas menantang, berlawanan dengan gedung PBB yang hanya berisi pidato kosong.

Di sebuah ruangan megah di New York, para diplomat bersuara lantang. Mikrofon-mikrofon menyala, kamera televisi menyorot, dan kata-kata “seruan gencatan senjata” mengalir deras, seperti aliran sungai yang indah tapi tak pernah sampai ke muara. Begitulah PBB. Penuh pidato, sarat jargon, kaya seruan. Namun, di jalanan Genoa, pemandangan sama sekali berbeda. Buruh pelabuhan yang berpeluh dan berdebu justru memilih langkah konkret: siap menghentikan semua perdagangan dengan “Israel” bila kapal bantuan ke Gaza diserang lagi. Ironi ini mencolok, dan entah mengapa terasa menyesakkan.

Kita sering dibuat terbuai oleh janji manis diplomasi. Para elit global menjanjikan “tekanan” dan “langkah nyata” seolah dunia sedang bergerak menuju keadilan. Padahal, di lapangan, Gaza terus dibombardir, blokade tetap menjerat, dan anak-anak masih berbaris dalam antrean roti yang tak kunjung datang. Perbedaan ini begitu telanjang: satu pihak berbicara di ruang berpendingin udara, pihak lain berbaris di dermaga, bersiap menghalangi kapal bersenjata. Saya rasa, kita semua paham siapa yang sesungguhnya lebih jujur dalam solidaritas.

Donasi ke Vichara via Saweria

Dukung Vichara dengan berdonasi 💛

Riccardo Rudino, pemimpin kolektif buruh pelabuhan CALP, dengan suara lantang berkata, “Blocking things is the people’s weapon. We don’t have tanks; we don’t have missiles.” Kalimat sederhana, tapi mengguncang. Ia menyodorkan fakta pahit: rakyat jelata tak punya instrumen kekuasaan selain tubuh mereka sendiri, tangan mereka sendiri, dan keberanian mereka sendiri. Bandingkan dengan Sekretaris Jenderal PBB yang setiap minggu mengulang seruan penghentian serangan, seolah dunia akan bergeser hanya dengan resonansi kata. Kata-kata tanpa tindakan, seperti drum kosong yang berdentum keras tapi tak menghasilkan apa-apa.

Buruh di Genoa tidak bicara “nanti.” Mereka bicara “sekarang.” Mereka menyatakan jika flotilla bantuan kembali diserang, pelabuhan akan ditutup untuk segala aktivitas terkait “Israel.” Tidak ada basa-basi diplomatik, tidak ada kalimat yang harus disetujui oleh 15 anggota Dewan Keamanan dengan hak veto yang mematikan. Inilah politik akar rumput: lugas, berisiko, dan sekaligus menggetarkan. Justru di situlah letak moralitas yang hilang dari meja-meja perundingan PBB.

PBB sering menekankan pentingnya “aksi kolektif global.” Namun, ketika dunia menunggu implementasi nyata, lembaga itu hanya melahirkan resolusi yang mudah diabaikan. Resolusi demi resolusi menumpuk, menjadi tumpukan kertas yang lebih mirip museum kegagalan moral. Dalam sejarah panjang konflik Palestina, berapa banyak resolusi PBB yang dilanggar tanpa konsekuensi? Terlalu banyak untuk dihitung. Bandingkan dengan buruh Italia, yang satu kali saja mereka menutup pelabuhan, dampaknya langsung terasa dalam rantai perdagangan.

Bisa kita bayangkan, apa jadinya bila seruan PBB punya daya paksa sekuat ancaman buruh Genoa? Mungkin blokade Gaza sudah lama runtuh. Mungkin anak-anak Gaza tidak lagi menggambar pesawat tempur di buku catatan mereka. Namun, realitas berkata lain: kekuatan nyata justru lahir dari pelabuhan, bukan dari podium.

Greta Thunberg, aktivis lingkungan yang ikut dalam Global Sumud Flotilla, menambahkan dimensi lain dalam kisah ini. Kehadiran tokoh global muda di kapal bantuan menjadi semacam simbol bahwa solidaritas tidak mengenal batas isu. Jika anak muda di Swedia bisa menyeberangi laut demi menantang blokade, apa arti semua pidato panjang pejabat PBB yang bahkan tak beranjak dari kursinya? Saya rasa, di sinilah absurditasnya. Solidaritas yang nyata justru lebih banyak lahir dari aktivis, buruh, dan relawan, bukan dari mereka yang mengklaim sebagai “penjaga perdamaian dunia.”

Pemerintah Italia, tentu saja, bereaksi dengan wajah diplomatik khasnya. PM Giorgia Meloni menganggap flotilla itu “gratuitous, dangerous, irresponsible.” Ia lebih memilih jalur aman: biarkan bantuan dikirim lewat jalur yang sudah “disetujui,” dengan Israel tetap memegang kendali. Pilihan itu terdengar rasional di meja rapat kabinet, tapi di telinga rakyat, ia hanyalah cermin kepatuhan pada kekuatan dominan. Lagi-lagi, pemerintah berdiri di sisi kehati-hatian, sementara rakyat pekerja justru melangkah ke garis depan solidaritas.

Perbandingan ini juga terasa relevan bagi kita di Indonesia. Kita sering mendengar seruan pejabat tinggi negeri ini untuk mendukung Palestina, tetapi dalam praktiknya hanya sebatas donasi, doa bersama, atau konferensi pers. Penting, iya. Tapi apakah cukup? Bayangkan jika buruh di Tanjung Priok, Surabaya, atau Belawan mengikuti langkah buruh Genoa, menolak kapal atau barang yang berhubungan dengan “Israel.” Efeknya bisa jauh lebih besar daripada seribu pidato. Tentu risikonya besar pula, tapi bukankah sejarah selalu digerakkan oleh mereka yang berani menanggung risiko?

PBB hari ini ibarat guru besar yang pandai berceramah tapi tak pernah turun ke lapangan. Buruh Italia, sebaliknya, adalah murid yang tak banyak bicara tapi berani menghadapi konsekuensi. Dan dunia, entah kenapa, lebih sering mendengarkan guru besar yang kehilangan kredibilitas ketimbang murid yang jujur. Kita semua tahu, ketidakadilan global tidak akan runtuh hanya dengan “seruan.” Ia runtuh ketika rantai pasok terganggu, ketika mesin perdagangan macet, ketika tekanan ekonomi memaksa elite untuk duduk dan mendengar.

Ada yang bilang, tindakan buruh itu utopis. Tapi bukankah dulu, memaksa rezim apartheid Afrika Selatan bertekuk lutut juga dianggap mustahil? Rudino mengingatkan kita: “It seemed impossible with South Africa. But after a total block, they freed Mandela and held elections.” Kata-kata ini mengajarkan bahwa sejarah bukanlah milik mereka yang pesimis. Ia milik mereka yang mau mencoba, meski awalnya terlihat konyol atau mustahil.

Saya jadi teringat ungkapan sederhana: “Perubahan besar selalu dimulai dari tindakan kecil yang berani.” Buruh pelabuhan Italia mungkin tidak akan segera menghentikan perang di Gaza. Namun, aksi mereka bisa memicu gerakan serupa di Eropa, bahkan di dunia. Dan ketika satu demi satu dermaga menutup akses bagi kapal-kapal menuju “Israel,” maka tekanan itu akan jauh lebih terasa ketimbang 100 kali resolusi PBB.

Pada akhirnya, kontras ini memaksa kita memilih: apakah kita puas dengan seruan indah tanpa aksi nyata, ataukah kita siap mengakui bahwa perubahan datang dari tangan-tangan kasar buruh pelabuhan yang rela menghadapi risiko? Dunia sudah terlalu lama menunggu janji elite global yang tak pernah ditepati. Mungkin sudah waktunya mendengar suara yang keluar dari dermaga Genoa—suara keras, jujur, dan penuh keberanian.

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel Populer