Connect with us

Opini

Ketika Nurani Inggris Bangkit Menolak Genosida Gaza

Published

on

Ilustrasi editorial protes warga Inggris di depan Parlemen London menolak genosida Gaza, memegang bendera Palestina di bawah langit kelabu.

Di jalan-jalan kota London, spanduk “Free Palestine” kini terasa lebih lazim daripada bendera Inggris di jendela rumah. Barangkali ini bukan hal besar bagi sebagian orang, tapi bagi bangsa yang dulu menjadi pelindung paling setia bagi Israel, ini seperti melihat bayangan lama retak di depan mata. Ada sesuatu yang bergeser di dasar batin masyarakat Inggris—sesuatu yang tak bisa lagi ditutup dengan kata “konflik.”

Survei terbaru dari YouGov menunjukkan bahwa hanya 12 persen warga Inggris kini bersimpati kepada Israel. Angka yang bahkan lebih kecil dari jumlah orang yang percaya bumi datar. Ironis, bukan? Dua tahun setelah Operasi Badai al-Aqsa, simpati terhadap Israel justru jatuh ke titik terendah, sementara dukungan untuk Palestina menyentuh rekor tertinggi, 38 persen. Di negeri yang dulu menulis Balfour Declaration, kini mayoritas warganya menyebut genosida Gaza “tidak bisa dibenarkan.” Sepertinya, penjajah kehilangan pesonanya di tanah yang dulu melahirkannya.

Donasi ke Vichara via Saweria

Dukung Vichara dengan berdonasi 💛

Saya rasa, yang terjadi bukan sekadar perubahan opini—ini kebangkitan moral yang tertunda. Dua tahun penuh gambar-gambar anak kecil terbungkus kain kafan, rumah sakit berubah puing, dan suara sirine menyaingi azan. Semua itu mengikis pelan-pelan propaganda yang selama ini mengaku berbicara atas nama keamanan. Tak ada lagi ruang bagi retorika “hak membela diri” ketika yang dibela adalah mesin pembunuh, dan yang dibunuh adalah harapan.

Ada yang menarik: 57 persen warga Inggris kini menilai serangan Israel di Gaza tidak bisa dibenarkan. Ini bukan angka sepele; ini adalah mosi tidak percaya terhadap narasi resmi Barat. Ketika setengah populasi menolak dalih pemerintah dan media mereka sendiri, itu artinya kebohongan sudah bocor dari segala sisi.

Kita semua tahu, opini publik di Barat bukan sekadar angka—ia adalah bahan bakar bagi legitimasi politik. Dan ketika bahan bakar itu habis, mesin kekuasaan mulai batuk-batuk. Para politisi Inggris mungkin masih berusaha menjaga keseimbangan antara “dukungan pada Israel” dan “kemanusiaan untuk Palestina,” tapi rakyatnya sudah lebih dulu mengambil sikap.

Barangkali karena rakyat lebih jujur dalam membaca penderitaan. Mereka tak hidup di dalam ruang diplomasi, melainkan di dunia nyata yang diisi oleh gambar-gambar dari Gaza yang melintas di gawai setiap hari. Di situlah propaganda lama kehilangan taringnya. Narasi besar Israel tentang “melawan teror” runtuh oleh potongan video bocah yang berteriak memanggil ibunya di bawah reruntuhan.

Apa yang terjadi di Inggris ini semacam cermin global. Dunia yang dulu menatap Gaza dengan jarak kini menatapnya dengan rasa bersalah. Karena terlalu lama diam. Terlalu lama percaya pada mitos bahwa kekuasaan bisa membenarkan segalanya. Kini, mereka mulai sadar bahwa diam berarti turut menyalakan api.

Di sisi lain, penurunan dukungan publik terhadap Israel adalah tamparan bagi elite politik Inggris. Mereka yang selama ini menutup mata terhadap kejahatan perang, kini menghadapi warganya sendiri yang mulai bertanya: mengapa kita membiayai pembunuhan? Mengapa kita menutup mata pada kelaparan yang disengaja? Mengapa kita masih mengekspor senjata kepada pelaku genosida?

Pertanyaan-pertanyaan itu mengganggu, tapi juga sehat. Karena bangsa yang berhenti mempertanyakan, sejatinya sedang berhenti menjadi manusia.

Fakta bahwa 44 persen warga Inggris kini mendukung pengakuan resmi terhadap Palestina menandakan sesuatu yang lebih besar dari sekadar simpati: ini tentang keinginan untuk memperbaiki kesalahan sejarah. Bagi Inggris, yang pernah memberi mandat kolonial kepada Zionisme seabad lalu, pengakuan Palestina bukan sekadar politik luar negeri—ia adalah bentuk penebusan dosa.

Dan mungkin, penebusan itu sedang dimulai dari jalanan. Dari anak muda yang membawa poster di Hyde Park. Dari ibu-ibu yang mengirim donasi untuk Gaza. Dari para pekerja yang menolak diam. Mereka semua, dengan cara sederhana, sedang menulis ulang bab kecil dari sejarah yang pernah disusun bangsanya sendiri dengan tinta penjajahan.

Apa yang menarik dari survei ini juga adalah kejujuran rakyat dalam melihat dua sisi tragedi. Empat puluh lima persen warga Inggris menyalahkan pemerintah Israel atas kelanjutan pertumpahan darah, sementara empat puluh persen menyalahkan Hamas. Ini bukan tanda kebingungan; ini tanda kedewasaan politik. Rakyat Inggris tak lagi menelan narasi tunggal. Mereka tahu perang ini tak hitam-putih. Tapi mereka juga tahu siapa yang lebih banyak menumpahkan darah.

Dan lihatlah ironi yang menakutkan itu: di negara yang konon membela “demokrasi liberal,” sebagian besar warganya kini lebih selaras dengan nurani global daripada pemerintah mereka sendiri. Pemerintah Inggris masih bicara soal “keamanan Israel,” sementara rakyatnya bicara tentang bayi yang mati kelaparan. Ini bukan perbedaan pendapat, ini perbedaan kemanusiaan.

Kita bisa belajar sesuatu dari perubahan opini ini. Bahwa kebenaran, meski lama tertimbun, selalu menemukan jalannya. Butuh dua tahun kebiadaban, ratusan ribu korban, dan miliaran gigabyte video penderitaan untuk membuat masyarakat Inggris menatap Gaza bukan sebagai berita luar negeri, tapi sebagai tragedi manusia.

Dan bukankah itu yang paling menakutkan bagi Israel? Bahwa dunia akhirnya sadar. Bahwa yang mereka sebut “perang melawan teror” hanyalah tabir untuk membenarkan kolonialisme modern. Bahwa kata “keamanan” digunakan untuk menjustifikasi penghancuran. Bahwa genosida bisa dilakukan dengan dalih hukum internasional, selama pelakunya adalah sekutu Barat.

Kita tahu, perubahan opini publik tidak serta-merta mengubah kebijakan. Tapi ia menyiapkan panggung bagi perubahan politik yang lebih besar. Dulu rakyat Inggris juga pernah menolak perang Irak. Butuh waktu, memang. Tapi akhirnya, sejarah mencatat siapa yang benar. Begitu pula Gaza: mungkin belum sekarang, tapi arus sejarah sedang mengarah pada pembebasan.

Mungkin kelak, anak-anak yang kini tumbuh di Inggris akan membaca bahwa di masa ketika dunia bungkam, ada generasi yang mulai bersuara. Bahwa di tengah propaganda dan kebohongan, ada rakyat yang memilih berpihak pada kebenaran.

Dan pada saat itu, sejarah akan mengingat: genosida Gaza bukan hanya tentang kematian ribuan jiwa di tanah Palestina. Tapi juga tentang kebangkitan nurani di negeri-negeri yang pernah membiarkan penindasan itu terjadi.

Sebab terkadang, perubahan besar dimulai bukan dari kekuasaan, tapi dari kesadaran. Dari rasa malu yang tumbuh di hati manusia. Dari pengakuan bahwa diam di hadapan kejahatan adalah bentuk kejahatan itu sendiri.

Jadi, ketika rakyat Inggris hari ini berbalik menolak genosida Gaza, mereka sejatinya sedang menulis ulang definisi kemanusiaan. Sebuah pengingat bahwa keadilan tak selalu datang dari peluru atau parlemen, tapi dari suara nurani yang menolak bungkam.

Dan mungkin, inilah awal dari runtuhnya mitos lama: bahwa Israel selalu benar, dan dunia tak berdaya untuk melawannya. Karena sekali nurani bangkit, tak ada propaganda yang mampu mematikannya lagi.

 

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel Populer