Connect with us

Opini

Ketika Kekerasan Israel Disambut dengan Tepuk Tangan

Published

on

Settlers cheering as Gaza burns in the background, ilustrasi editorial satir tentang dukungan publik terhadap kekerasan

Ada momen-momen dalam sejarah ketika absurditas tidak lagi butuh panggung; ia berdiri sendiri, telanjang, dan kita hanya bisa menatapnya sambil bertanya-tanya apakah dunia memang sedang sakit atau kita yang terlalu waras. Membaca laporan tentang survei pemukim Israel itu, saya merasa seperti menonton pertunjukan yang salah: sebuah tragedi yang dipromosikan sebagai komedi gelap, di mana aktor-aktornya dengan bangga mengangkat tangan untuk mendukung pembunuhan tanpa ancaman, penggunaan tameng manusia, atau penghancuran populasi sipil. Mereka tepuk tangan. Benar-benar tepuk tangan. Dan di tengah absurditas inilah, kekerasan Israel terhadap rakyat Palestina mendapat restu moral dari sebagian masyarakatnya sendiri. Sebuah ironi yang terasa begitu pahit, sampai-sampai kita nyaris tidak yakin apakah kita sedang membaca survei atau litani kebejatan.

Saya membayangkan ruangan tempat survei itu dilakukan. Mungkin sederhana, mungkin sangat biasa, seperti saat kita diminta mengisi survei kepuasan layanan PLN atau BPJS. Bedanya, pertanyaannya bukan “Apakah pelayanan kami memuaskan?” melainkan “Apakah Anda setuju orang tak bersenjata ditembak saja?” Dan 62 persen menjawab: tentu saja, kenapa tidak? Ada yang bilang angka itu cuma statistik, tapi saya tak pernah percaya pada frase “cuma statistik” ketika yang dipertanyakan adalah nyawa manusia. Satu orang yang mendukung kekerasan Israel secara membabi buta sudah cukup untuk membuat dunia gelisah. Bagaimana jika ratusan? Ribuan? Dan ini baru dari sampel 600 orang. Angka kecil, tapi mentalitasnya besar—besar dan gelap.

Donasi ke Vichara via Saweria

Dukung Vichara dengan berdonasi 💛

Kita di Indonesia tahu betul betapa opini publik bisa seperti ombak: kadang tenang, kadang menggulung tanpa ampun. Tapi ada satu hal yang selalu membuat kita cemas: ketika ombak membawa bersama lumpur kebencian yang dibiarkan mengendap terlalu lama. Dalam survei itu, 53,8 persen responden mendukung penggunaan warga sipil Palestina sebagai tameng manusia. Tameng manusia—bahkan di film-film murahan sekalipun, tindakan itu digambarkan sebagai kejahatan paling pengecut. Tapi di dunia nyata, ia diubah menjadi pilihan logis, bahkan “strategis”. Saya tak tahu bagaimana seseorang bisa membenarkan hal seperti itu, kecuali jika nuraninya telah lama ditinggalkan di tikungan sejarah.

Namun, bagian paling menyedihkan bukanlah angka-angka itu. Bagian paling menyedihkan adalah bagaimana sebagian masyarakat merayakan kekerasan Israel seolah itu pesta kemenangan. Ketika video kehancuran Gaza diunggah dengan musik gembira. Ketika slogan “No Arabs, no terrorists” ditempel di paket makanan seperti stiker lucu di kotak bekal anak sekolah. Ketika seruan untuk “menghapus Gaza dari peta” diteriakkan sambil membawa bendera, seolah penghapusan populasi adalah olahraga akhir pekan. Kita sering mendengar pinternya teknologi, canggihnya drone, kuatnya tank. Jarang kita bicara tentang hati manusia yang bisa menjadi lebih keras dari baja, lebih tajam dari peluru, dan lebih buta dari malam tanpa bulan.

Saya rasa, sebagian orang salah memahami sumber kekerasan Israel. Mereka mengira itu berawal dari keputusan politik, dari strategi militer, dari dokumen-dokumen yang ditandatangani di ruang rapat. Padahal kenyataannya jauh lebih mengerikan: kekerasan dimulai dari kepala-kepala manusia biasa. Dari keyakinan berbahaya bahwa nyawa “yang lain” lebih murah, lebih tipis, lebih layak hilang. Dan ketika keyakinan itu sudah menjadi normal, tentara hanyalah perpanjangan tangan publik yang telah kehilangan cermin moralnya.

Dalam teori konflik, ada satu konsep yang selalu membuat saya merinding: ketika publik memberi tepuk tangan pada kekerasan, kekerasan itu akan terus berulang. Survei itu membuktikan hal tersebut. Bayangkan, 84 persen responden menilai tindakan militer Israel di Gaza “sangat baik”. Sangat baik—seolah pemboman rumah, pembantaian keluarga, dan penghancuran kota adalah karya seni yang pantas diberi nilai A+. Mungkin setelah ini mereka akan memberikan sertifikat penghargaan: “Terima kasih telah menghancurkan Gaza dengan efisien.”

Dan jangan lupa 60,6 persen yang menolak investigasi terhadap tentara yang menyiksa tahanan Palestina. Tentu saja ditolak—bagaimana mungkin sebuah masyarakat yang menganggap kekerasan Israel sebagai sesuatu yang wajar mau mengakui bahwa tindakan itu salah? Itulah masalah ketika moralitas mayoritas dibiarkan mengatur rasa keadilan: apa yang seharusnya menjadi dosa berubah menjadi kebajikan, apa yang seharusnya dihukum malah diberi medali.

Ada kalimat dalam laporan itu yang terus menggema di kepala saya: bahwa kekerasan ini bukan hanya terjadi, tetapi didukung. Dan ketika dukungan itu datang dari warga biasa, bukan hanya dari politisi, kita sedang menyaksikan kelahiran kekerasan yang jauh lebih panjang umurnya daripada umur pemerintahan mana pun. Kekerasan Israel terhadap rakyat Palestina menjadi normal karena masyarakat yang menontonnya telah terbiasa dengan pemandangan darah. Mereka tidak lagi melihat tragedi. Mereka melihat “kesempatan.”

Di Indonesia, kita terbiasa dengan pepatah “mulutmu harimaumu”. Tapi dalam konteks ini, pepatahnya berubah: “pilihanmu tentaramu.” Bayangkan jika 60 persen dari mereka yang mendukung kekejaman itu mendaftar sebagai tentara. Apa yang terjadi? Tidak perlu membayangkan, sebenarnya. Kita sudah melihat jawabannya di layar televisi, di foto-foto puing, di angka korban yang tak lagi bisa dihitung dengan jari. Kekerasan yang direstui publik akan menemukan jalannya, cepat atau lambat.

Dan mungkin inilah yang paling menyakitkan: bagaimana sebuah bangsa dapat menyebut dirinya demokrasi sambil menutupi mata terhadap kehancuran di seberang pagar. Demokrasi bukan hanya tentang memilih pemimpin; ia tentang menjaga martabat manusia. Jika martabat itu hilang, apa yang tersisa? Kotak suara? Parlemen? Upacara bendera? Semuanya menjadi dekorasi belaka ketika hati manusia telah memutuskan bahwa sebagian manusia lain tak layak hidup.

Akhirnya, saya sampai pada satu kesimpulan pedih: genosida tidak dijalankan oleh monster, tetapi oleh orang-orang yang yakin mereka sedang melakukan sesuatu yang benar. Orang-orang yang menepuk tangan sambil menyaksikan kobaran api. Orang-orang yang merasa bangga karena bisa mendukung kekerasan Israel tanpa sedikit pun rasa bersalah. Dalam dunia seperti ini, bahaya terbesar bukanlah tank atau rudal. Bahaya terbesar adalah tepuk tangan itu sendiri.

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel Populer