Connect with us

Opini

Ketika Kebohongan Menjadi Senjata di Gaza

Published

on

Ilustrasi editorial menggambarkan Gaza yang hancur di bawah langit digital dengan hologram perang buatan, menunjukkan ironi ketika kebohongan teknologi digunakan sebagai senjata untuk membenarkan kekerasan.

Langit Gaza tidak pernah benar-benar gelap. Ia hanya diselimuti cahaya yang salah. Di atas reruntuhan rumah sakit, di antara bayi-bayi yang kehilangan oksigen dan ibu-ibu yang menggigil ketakutan, cahaya itu menyala dari layar: video 3D buatan tentara Israel. Animasi rapi, seolah diambil dari laboratorium intelijen canggih, padahal hanya hasil tempelan dari perpustakaan aset digital, bahkan dari gim video. Dan dengan ilusi itu, sebuah bangsa diizinkan untuk membunuh.

Ironi terbesar zaman ini adalah bagaimana propaganda Israel di Gaza berubah menjadi bentuk paling halus dari kekerasan. Ia tidak lagi datang dengan peluru, tapi dengan piksel. Tidak lagi berwujud tank, tapi video simulasi yang “tampak profesional.” Kita menyaksikan bagaimana kebohongan dirakit dengan estetika teknologi tinggi, dijual sebagai kebenaran, dan disebarkan oleh media arus utama tanpa rasa malu.

Donasi ke Vichara via Saweria

Dukung Vichara dengan berdonasi 💛

Ketika tentara Israel mempublikasikan video yang mengklaim adanya markas Hamas di bawah Rumah Sakit Al-Shifa, dunia pun mempercayainya. CNN menayangkannya. BBC mengutipnya. Mark Regev, juru bicara Netanyahu, menyebutnya “ironclad”—seolah kebenaran bisa ditempa dari data palsu. Dan dengan satu video itu, ribuan nyawa kehilangan tempat berlindung terakhirnya.

Saya rasa, di sinilah letak absurditasnya: dalam perang modern, gambar bisa lebih mematikan dari bom. Sebuah video palsu dapat membuka jalan bagi pembenaran pembantaian, dan ketika kebenaran akhirnya terbongkar, darah sudah terlalu banyak tumpah untuk ditarik kembali. Inilah wajah baru kekejaman—dingin, digital, dan tampak “inovatif.”

Investigasi yang dilakukan oleh +972 Magazine dan beberapa media internasional membongkar betapa terorganisirnya operasi propaganda ini. Mereka menganalisis 43 animasi militer Israel dan menemukan banyak di antaranya menggunakan aset komersial, model 3D gratis, bahkan materi museum di Skotlandia. Tak ada “intelijen rahasia” di sana. Yang ada hanyalah industri kebohongan yang didesain agar tampak meyakinkan.

Salah satu prajurit yang terlibat dalam proyek itu mengaku, “Mereka tampak keren. Profesional. Dan orang awam tidak akan memeriksa detailnya.” Pernyataan itu terdengar sepele, tapi sebenarnya telanjang: ini bukan lagi perang untuk membela diri. Ini perang untuk mempertahankan citra—agar Israel tetap terlihat canggih di mata Barat, bahkan saat tangannya berlumuran darah bayi-bayi Gaza.

Kita hidup di era ketika citra bisa membunuh. Saya membayangkan, mungkin bagi para kreator animasi di Tel Aviv itu, membuat terowongan fiktif di bawah rumah sakit hanyalah pekerjaan kantor yang biasa. Tapi di seberang layar, di Gaza, “aset digital” mereka berubah menjadi alasan untuk menembak, menggempur, dan membumihanguskan. Sebuah ironi mengerikan dari kapitalisme militer: perang kini juga membutuhkan desainer grafis.

Bila kita pikir ini hanya masalah etika media, kita keliru. Ini adalah perang informasi Israel, bagian dari strategi kolonial yang sama tuanya dengan pendudukan itu sendiri: menciptakan narasi agar kekerasan terlihat masuk akal. Di masa lalu, Israel menuduh anak-anak Palestina sebagai “tameng hidup.” Kini, mereka membuat versi digitalnya—lebih steril, lebih modern, tapi dengan hasil yang sama: kematian.

Dan, ironisnya, dunia masih menatap layar dengan kagum. Barat tetap menyanjung “kedisiplinan teknologi pertahanan Israel,” tanpa mau melihat bahwa di balik setiap algoritma itu ada tubuh-tubuh yang membusuk di halaman rumah sakit Al-Shifa.

Saya sering berpikir, andai propaganda seperti ini terjadi di Indonesia—misalnya pemerintah menayangkan video palsu untuk membenarkan kekerasan—kita pasti marah. Kita akan menyebutnya penipuan publik. Tapi mengapa ketika Israel melakukannya, dunia hanya berdehem pelan, lalu melanjutkan makan malam seperti biasa?

Mungkin karena propaganda selalu bekerja dengan cara yang sama: ia membungkus kejahatan dalam bahasa modernitas. Israel tidak lagi berkata “kami menyerang rumah sakit,” tapi “kami menargetkan markas bawah tanah.” Kata-kata dihaluskan, kebenaran dibungkam. Dunia pun merasa lega, karena kekerasan kini tampak rasional.

Tapi Gaza mengajarkan kita satu hal: tidak ada cara yang indah untuk membunuh anak-anak. Tidak ada algoritma yang bisa menetralkan bau mayat di rumah sakit. Dan tidak ada video 3D yang bisa menghapus fakta bahwa propaganda Israel di Gaza telah menjadi pembenaran untuk genosida.

Ketika BBC akhirnya melaporkan kuburan massal di Al-Shifa, dunia tersentak sesaat. Tapi tidak lama. Siklus berita berputar cepat, dan kebohongan baru muncul menimpa kebohongan lama. Dalam keheningan itu, tubuh-tubuh tanpa kepala dikubur dalam pasir. Israel lalu mengunggah video baru, kali ini tentang “basis Hamas di sekolah.” Pola yang sama, naskah yang sama, hanya lokasi yang berbeda.

Dan di sinilah kekuatan propaganda: ia tidak perlu selalu dipercaya, cukup diulang. Karena pengulangan melahirkan kebiasaan, dan kebiasaan membuat kejahatan terasa normal.

Barangkali, inilah tragedi paling sunyi dari zaman kita: kebenaran kini butuh bukti lebih keras daripada kebohongan. Di dunia yang dikuasai algoritma dan citra, siapa yang menguasai narasi, dialah yang menentukan siapa yang disebut korban dan siapa yang dianggap teroris. Gaza bukan hanya medan perang fisik, tetapi juga cermin betapa mudahnya manusia dikendalikan oleh persepsi. Dalam perang ini, nurani dikorbankan di altar visualisasi digital. Dan selama dunia terus memuja teknologi tanpa akal sehat, selama keadilan tunduk pada estetika, kebohongan akan terus menang dengan tampilan yang sempurna.

Saya kira, ini saatnya dunia berhenti menganggap propaganda sebagai sekadar “perang narasi.” Ini adalah senjata destruktif—sama berbahayanya dengan rudal yang menghantam rumah sakit. Perbedaannya hanya satu: bom membunuh tubuh, propaganda membunuh empati.

Dan setelah dua tahun genosida, setelah 42 ribu orang kehilangan anggota tubuh, setelah 1.700 tenaga medis dibunuh, setelah rumah sakit berubah menjadi puing, mungkin pertanyaan terakhir yang harus kita ajukan bukan lagi “mengapa Israel tega?”, tapi “mengapa dunia masih percaya?”

Sebab kebenaran yang paling menyakitkan dari laporan ini bukanlah bahwa Israel berbohong, tapi bahwa kita semua—entah karena malas, takut, atau acuh—membiarkan kebohongan itu hidup.

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel Populer