Opini
Ketika Bertanya Jadi Dosa: Sunyi Eropa di Gaza
Di sebuah ruangan konferensi pers yang dingin di Brussel, suara seorang jurnalis Italia memecah keheningan dengan pertanyaan yang seharusnya sederhana, bahkan wajar: apakah Israel harus membayar biaya rekonstruksi Gaza, sebagaimana Eropa menuntut Rusia menanggung beban kehancuran Ukraina? Tak ada nada agresif. Tak ada tuduhan. Hanya sebuah logika moral yang mencoba diuji di ruang yang konon menjadi simbol transparansi dan kebebasan. Tapi rupanya, di jantung demokrasi itu, bertanya saja kini bisa menjadi dosa.
Beberapa minggu setelah pertanyaan itu dilontarkan, Gabriele Nunziati—nama yang sebelumnya mungkin tak banyak dikenal di luar lingkar jurnalisme Italia—mendapati dirinya tanpa pekerjaan. Agenzia Nova, tempatnya bekerja, menganggap pertanyaannya “tidak pantas” dan “secara teknis salah.” Ironis, sebab dalam dunia pers, “salah” biasanya diperbaiki dengan klarifikasi, bukan pemecatan. Namun tampaknya, yang ingin dikoreksi bukan kesalahan fakta, melainkan kesalahan keberanian.
Saya rasa di sinilah absurditasnya bermula. Di tengah dunia yang mengaku mencintai kebebasan berekspresi, justru keberanian untuk berpikir konsisten dianggap ancaman. Pertanyaan Nunziati viral bukan karena provokatif, melainkan karena mengguncang kemunafikan yang sudah lama kita terima sebagai kenormalan: Eropa bersuara lantang soal keadilan di Ukraina, namun bisu ketika Gaza menjadi puing dan debu.
Uni Eropa berkhotbah tentang prinsip moral universal, tentang tanggung jawab negara agresor, tentang hak korban untuk hidup layak. Tapi semua itu tampak rapuh ketika yang menghancurkan bukan musuh, melainkan sekutu. Gaza, bagi banyak politisi di Brussel, hanyalah topik sensitif yang lebih baik dihindari. Padahal, di luar gedung-gedung itu, kenyataannya jelas: ribuan anak mati, rumah sakit hancur, dan seluruh kota berubah menjadi reruntuhan. Kalau bukan pelaku kehancuran yang bertanggung jawab, siapa lagi?
Agenzia Nova berdalih bahwa Rusia menginvasi negara lain, sementara Israel “mengalami serangan bersenjata.” Logika ini menggambarkan cara berpikir yang memelintir hukum dan etika menjadi alat pembenaran politik. Israel boleh membombardir ribuan rumah sipil karena “membela diri.” Palestina boleh menderita tanpa akhir karena “memicu konflik.” Dan siapa pun yang berani bertanya di luar narasi itu dianggap salah alamat, atau lebih buruk, agen propaganda musuh.
Kita semua tahu cara kerja narasi semacam itu. Ia mensterilkan simpati dan menggantinya dengan algoritma moral yang pilih kasih. Seperti notifikasi yang hanya berbunyi jika korban berkulit putih dan berbicara bahasa Eropa. Sementara yang lain, di selatan dunia, di Gaza, di Rafah, di Khan Younis, cukup ditulis dalam laporan kemanusiaan—tanpa wajah, tanpa nama, tanpa rasa bersalah.
Kasus Nunziati menjadi cermin betapa dalamnya bias yang berakar di tubuh pers Eropa. Sebagian besar media arus utama memosisikan diri sebagai penjaga demokrasi, tapi juga sebagai penjaga kenyamanan politik. Mereka tidak perlu diperintah untuk diam; mereka sudah paham batasnya. Sebuah bentuk sensor yang lebih berbahaya dari larangan langsung—karena tumbuh dari ketakutan, bukan paksaan.
Mari kita jujur: kebebasan pers di Eropa kini semakin tampak seperti monumen—megah tapi kosong. Ia dipamerkan dalam pidato dan konstitusi, tapi kehilangan makna ketika berhadapan dengan kekuatan ekonomi dan politik. Seorang jurnalis bisa kehilangan pekerjaan hanya karena bertanya soal keadilan yang seharusnya universal. Dan masyarakat, alih-alih marah, justru larut dalam rutinitas berita tanpa jeda, men-scroll layar seolah tragedi Gaza hanyalah trending topic sementara.
Saya jadi teringat pada pepatah lama: “Kebenaran sering kali mati bukan karena dibunuh, tapi karena diabaikan.” Nunziati tidak dipecat karena salah. Ia dipecat karena benar terlalu cepat, di saat banyak orang masih ingin memelihara kebohongan yang nyaman. Pertanyaannya menelanjangi standar ganda yang sudah lama jadi rahasia umum. Dan karena kebenaran itu menimbulkan rasa malu, ia harus disingkirkan.
Eropa selalu menampilkan diri sebagai guru moral dunia. Mereka membela kebebasan di Hong Kong, mengutuk sensor di Moskow, memuja keberanian jurnalis di Teheran. Tapi ketika sensor itu terjadi di Roma atau Brussel, mereka menyebutnya “disiplin internal.” Ketika seorang wartawan dipecat karena bertanya soal Gaza, mereka menunduk dan berbisik: “Itu bukan waktu yang tepat.” Seolah ada waktu yang tepat untuk membela kemanusiaan.
Di Indonesia, kita mungkin tidak asing dengan tekanan terhadap wartawan. Tapi melihat hal serupa terjadi di Eropa membuat ironi itu terasa global. Pers yang seharusnya menjadi ruang publik bebas kini menjadi perpanjangan tangan diplomasi. Kata “netral” disalahartikan sebagai “jinak.” Kata “seimbang” diubah menjadi “jangan ganggu kepentingan.” Dan setiap pertanyaan yang menggugat status quo menjadi semacam peluru moral yang harus dinetralisir.
Padahal, justru di sanalah fungsi jurnalisme sejati: mengguncang, bukan menenangkan; menantang, bukan menyenangkan. Jika wartawan hanya mengulang narasi resmi, maka mereka hanyalah corong yang lebih sopan dari propaganda. Dan kalau kebebasan pers di Eropa pun kini bisa dibungkam dengan alasan “malu pada sekutu,” maka dunia kehilangan satu lagi ruang tempat kebenaran bisa bernapas.
Saya membayangkan bagaimana perasaan Nunziati malam itu, setelah menerima surat pemecatan. Barangkali ia menatap layar komputer, membaca ulang pertanyaannya, mencoba memahami di mana letak “kesalahannya.” Tapi yang salah bukan ia—melainkan dunia yang lebih takut pada kata “kenapa” daripada pada roket yang jatuh di rumah sakit Gaza.
Eropa, yang pernah menjadi mercusuar rasionalitas dan kebebasan, kini tampak seperti menara gading yang rapuh. Mereka takut pada bayangan sendiri. Takut bahwa prinsip yang mereka banggakan hanya berlaku jika korban cocok dengan narasi mereka. Dan ketika seorang wartawan berani membuka tirai kemunafikan itu, mereka memilih menyingkirkan si pembuka, bukan menata ulang cerminnya.
Mungkin, pada akhirnya, kebebasan tidak hilang dalam satu ledakan besar, tapi lewat seribu keheningan kecil. Satu wartawan dipecat di Roma, satu editor dibungkam di London, satu aktivis dituduh ekstrem di Paris. Lalu dunia perlahan terbiasa. Dan ketika kita sadar, suara-suara yang dulu berani bertanya sudah berganti dengan gema kosong dari ruang konferensi yang sunyi.
Kita sering bicara tentang demokrasi sebagai ide besar, tapi lupa bahwa ia hidup lewat hal-hal kecil: keberanian bertanya, hak untuk tidak sepakat, kemampuan untuk menanggung rasa malu ketika prinsip diuji. Ketika semua itu hilang, demokrasi tinggal dekorasi.
Dan mungkin, nanti sejarah akan mencatat: di saat Gaza hancur, bukan hanya bangunan yang runtuh—tetapi juga kredibilitas moral Eropa.

Pingback: Israel Pembunuh Jurnalis Palestina Sepanjang 2025