Connect with us

Opini

Ketika Ben Gurion Menjadi Gerbang Pelarian Massal

Published

on

Suasana antrean panjang di Bandara Ben Gurion saat pemukim Israel menunggu keberangkatan untuk meninggalkan negara di tengah ketegangan regional.

Saya selalu teringat bagaimana sebuah bandara biasanya menjadi simbol mobilitas, kemajuan, dan dunia yang terbuka. Namun di Ben Gurion, gambaran itu berubah menjadi semacam teater kegelisahan nasional. Ada getaran aneh di udara—semacam detak jantung terburu-buru yang tak berasal dari mesin pesawat, melainkan dari langkah-langkah terbirit para pemukim yang berdesakan menuju pintu keluar negeri. Di sana, di ruang keberangkatan yang terang dan dingin itu, absurditas menjadi begitu telanjang: negara yang mengaku sebagai “benteng paling aman bagi orang Yahudi” kini justru menyaksikan warganya mengantri untuk lari secepat mungkin. Rasanya seperti menonton sebuah ironi berjalan dengan santai, sementara kebenaran pahit berdiri di sudut, tersenyum kecil tanpa banyak bicara.

Fenomena ini bukan terjadi sekali, bukan pula kebetulan musiman. Setiap kali perang, setiap kali sirene meraung, setiap kali ancaman melintas di langit, bandara Ben Gurion berubah menjadi cermin terbesar dari ketakutan kolektif. Saya rasa kita semua tahu—sebuah bangsa hanya bisa disebut kuat apabila rakyatnya memilih bertahan, bukan bila separuh populasi sekularnya menimbang pergi. Laporan Israel Democracy Institute menunjukkan bahwa hampir satu dari empat warga Israel kini mempertimbangkan migrasi. Itu angka yang mencolok, seperti lampu merah yang berkedip-kedip di tengah malam. Bahkan di kalangan sekular, angkanya melonjak hingga 39 persen. Jika ini bukan tanda bahaya, entah apa lagi namanya.

Donasi ke Vichara via Saweria

Dukung Vichara dengan berdonasi 💛

Yang lebih menarik—dan juga lebih menggelitik—adalah bagaimana gelombang pelarian ini tidak selalu disuarakan secara frontal. Tidak perlu deklarasi dramatis. Cukup antre panjang di sebuah acara bertajuk “old times are back” di Glilot, ketika ribuan pemukim memenuhi Cinema City hanya untuk mengurus paspor Portugal. Paspor Eropa tampaknya lebih meyakinkan daripada seluruh sistem pertahanan mereka sendiri. Iron Dome? Hebat, katanya. Tapi antrean panjang itu menunjukkan hal lain: keamanan psikologis tidak bisa ditembakkan dari peluncur roket, tidak bisa dipatri lewat propaganda. Rasa aman lahir dari keyakinan, dan tampaknya keyakinan itu mulai bocor seperti kran tua.

Saya tertegun membaca bahwa hampir setengah lebih warga Israel melihat eksodus ini sebagai ancaman eksistensial. Tentu saja mereka takut. Siapa yang tak gentar melihat negara yang terus membanggakan diri sebagai proyek historis kini harus menghadapi kenyataan bahwa rakyatnya tak lagi yakin ingin menjadi bagian darinya? Di sisi lain, saya melihat ironi berlapis di sini: para pemukim yang selama ini menikmati rasa superioritas kolonial justru ketakutan menghadapi konsekuensi dari politik ekspansionis mereka sendiri. Ketika perang pecah, serangan balasan datang, dan kota-kota pusat ikut terguncang, tiba-tiba narasi “wilayah aman” runtuh. Tiba-tiba bandara tidak lagi menjadi akses liburan, tetapi pintu keluar darurat.

Lihatlah bagaimana operasi militer Israel terhadap Gaza, Lebanon, Iran, dan Suriah justru memunculkan efek bumerang. Respons balik dari perlawanan Palestina dan Hizbullah membuat pemukim di utara dan selatan mengungsi ke pusat. Lalu apa yang terjadi? Ketika pusat ikut diserang, tak ada lagi tempat sembunyi. Bandara menjadi jawaban. Bandara menjadi pelarian. Bandara menjadi ruang di mana proyek Zionis tersengal-sengal mempertahankan napas. Saya bukan hendak berlebihan, tetapi pola ini terlalu jelas: setiap kali eskalasi terjadi, antrean di bandara membengkak seperti gelombang pasang. Seakan-akan setiap pesawat yang lepas landas membawa serta pecahan dari legitimasi negara.

Mengapa fenomena ini begitu menggema? Karena di balik semua klaim kekuatan, Israel adalah negara yang dibangun di atas rasa takut: takut pada sejarah, takut pada ancaman, takut kehilangan kendali atas narasi. Selama bertahun-tahun, rasa takut itu diarahkan ke luar—ke musuh, ke tetangga, ke dunia internasional. Namun kini, rasa takut itu berbalik arah dan menghantam mereka sendiri. Ketika lapisan-lapisan propaganda mulai terkelupas, yang tersisa adalah masyarakat yang tidak yakin pada masa depan anak-anaknya. Yang tersisa adalah orang-orang yang merasa harga hidup terlalu mahal untuk terus memikul beban negara yang gemar menciptakan musuh.

Saya rasa kita juga perlu menyoroti bagaimana warga Palestina ’48 merespons situasi ini. Menarik sekali: meski 34,5 persen mempertimbangkan keluar, 79 persen mengatakan bahwa bertahan di tanah mereka adalah sesuatu yang penting. Ini kontras mencolok. Mereka yang tertindas justru lebih setia pada tanahnya dibanding mereka yang berkuasa. Perasaan ini bukan sekadar patriotisme; ini adalah bentuk keteguhan yang lahir dari sejarah panjang pencabutan dan penghapusan identitas. Sementara pemukim siap pergi bila keadaan memburuk, warga Palestina memahami bahwa pergi berarti kehilangan bagian dari diri mereka. Ini bukan sekadar rumah. Ini adalah akar.

Jika saya boleh jujur, absurditas terbesar terletak pada bagaimana dua kelompok ini bergerak ke arah yang saling bertolak belakang. Pemukim yang memegang kekuasaan memilih kabur saat keadaan sulit. Warga Palestina yang tak diberi kekuasaan justru bertahan dengan segala risiko. Inilah ironi yang barangkali tidak pernah diinginkan siapa pun, tetapi terjadi begitu saja sebagai hasil dari politik kolonial yang pincang. Ketika pemukim lari, negara melemah dari dalam. Ketika Palestina bertahan, mereka memperkuat narasi bahwa tanah ini tidak bisa dipisahkan dari identitas mereka.

Dalam konteks itu, bandara Ben Gurion menjadi simbol sangat kuat. Ia bukan lagi pintu masuk bagi proyek kolonial; ia menjadi pintu keluar bagi mereka yang mulai meragukan masa depan negaranya sendiri. Saya teringat bagaimana di Indonesia, kita pernah melihat fenomena serupa pada masa krisis ekonomi atau politik: bandara tiba-tiba penuh, bukan karena musim liburan, tetapi karena ketakutan kehilangan masa depan. Namun perbedaannya, Israel mengklaim dirinya sebagai negara paling aman, paling modern, paling stabil di kawasan. Bila negara paling aman sekalipun tidak mampu membuat warganya merasa aman, apa yang sebenarnya tersisa?

Pada akhirnya, saya melihat bandara itu seperti panggung sandiwara besar: setiap paspor yang dicap, setiap koper yang diseret, setiap langkah tergesa adalah bagian dari narasi panjang tentang sebuah negara yang mulai meragukan dirinya sendiri. Mungkin ini bukan akhir. Mungkin Israel akan terus bertahan dengan semua mesin militernya. Tetapi tanda-tanda retaknya fondasi sosial sudah tampak jelas. Tidak ada negara yang bisa bertahan kuat bila rakyatnya menyimpan tiket pulang-pergi sebagai jaring pengaman mental.

Dan setiap kali pesawat meninggalkan landas pacu Ben Gurion, kita seolah melihat sepotong kecil dari proyek Zionis ikut melayang, perlahan, menjauh dari tanah yang katanya “tanah janji”. Kadang, saya pikir, sejarah punya selera humor yang aneh. Dan di Ben Gurion, humor itu terdengar seperti tawa pelan yang penuh ironi.

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel Populer