Opini
Ketika Amerika Menggantikan Israel di Gaza
Perang yang tak pernah benar-benar berhenti kini berubah wajah. Gaza, tanah yang sudah lama menjadi luka terbuka di tubuh dunia, tampaknya akan memasuki babak baru: bukan lagi di bawah todongan senjata Israel, tetapi di bawah bayang-bayang bendera Amerika Serikat. Di langit yang masih berbau mesiu dan debu, rencana pembangunan markas militer besar AS senilai setengah miliar dolar di perbatasan Gaza terdengar seperti lelucon pahit—stabilisasi yang justru lahir dari jantung perang. Katanya untuk perdamaian. Tapi seperti biasa, yang membawa “perdamaian” justru adalah mereka yang paling sibuk menyiapkan pasukan.
Kita semua tahu pola lamanya. Israel menggempur, dunia mengecam, lalu Amerika turun tangan. Bedanya kali ini, Washington tidak lagi sekadar menjadi “penasehat” di belakang layar. Ia bergerak ke depan, mengambil alih peran yang gagal dimainkan Tel Aviv selama lebih dari dua tahun: menundukkan Gaza dan menata ulang kekuasaan atas nama “stabilitas internasional.” Sebuah istilah yang terdengar manis di meja diplomasi, tetapi getir bagi siapa pun yang tahu apa artinya di lapangan: pengawasan total, kontrol militer, dan pendudukan yang berganti kulit.
Menurut laporan Shomrim yang kemudian dikutip banyak media, AS akan membangun markas besar di dekat Jalur Gaza untuk menampung ribuan pasukan dalam rangka mendukung apa yang disebut sebagai International Stabilization Force (ISF). Proyek ini menelan biaya sekitar 500 juta dolar—angka yang cukup untuk memberi makan seluruh anak Gaza selama bertahun-tahun, tapi justru dipakai untuk membangun pangkalan perang baru. Ironi yang menyakitkan, namun bukan hal baru dalam kamus geopolitik Amerika.
Markas ini akan menjadi pusat dari Civil-Military Coordination Center (CMCC), lembaga yang sudah mulai beroperasi di Kiryat Gat sejak bulan lalu. CMCC bertugas mengawasi gencatan senjata, menyalurkan bantuan, dan memastikan “keamanan pascaperang.” Di atas kertas, ia tampak seperti lembaga sipil-militer yang netral. Tapi seperti dikatakan Michael Milshtein, mantan kepala urusan Palestina di intelijen Israel, keberadaan pusat ini “akan mengubah status Israel sebagai aktor utama di Gaza.” Dengan kata lain: Washington kini memegang kendali penuh.
Inilah babak baru dari drama lama. Ketika tangan Israel sudah terlalu berlumur darah, Amerika datang mengenakan sarung tangan diplomasi. Tapi fungsi tetap sama: memastikan Gaza tetap dalam jangkauan kontrol Barat. Mereka menyebutnya oversight. Kita tahu itu artinya pengawasan. Tapi bagi rakyat Gaza, kata itu berarti satu hal: kelanjutan dari penjajahan dalam bentuk yang lebih halus.
Saya rasa, banyak orang di luar sana sudah lelah mendengar kata “stabilisasi.” Kata itu terdengar seperti penenang yang dijual kepada publik dunia untuk menutupi kenyataan pahit. Faktanya, sejak rencana AS ini dijalankan, hanya 28 persen dari 600 truk bantuan harian yang dijanjikan berhasil masuk ke Gaza. Sementara itu, lebih dari 240 warga Palestina tewas di bawah apa yang disebut sebagai “gencatan senjata.” Jika ini yang disebut stabilitas, maka stabilitas macam apa yang mereka maksud?
Langkah Amerika ini, sesungguhnya, adalah pengakuan atas kegagalan Israel. Setelah dua tahun perang brutal, ribuan korban sipil, dan tekanan internasional yang tak berhenti, Tel Aviv akhirnya terpaksa menerima kenyataan: mereka tidak bisa menaklukkan Gaza. Perlawanan tak padam, citra global hancur, dan kepercayaan sekutunya terkikis. Di titik itu, Washington masuk—bukan sebagai penengah, tapi sebagai pengganti. Seolah berkata: “Baiklah, kalau kalian tak sanggup, biar kami yang urus.”
Tapi publik yang jeli melihatnya tahu: ini bukan penyelesaian, ini pengambilalihan. Amerika menggantikan Israel di garis depan, membawa pesan yang sama dengan bahasa yang lebih sopan. Di masa lalu, invasi dilakukan dengan tank dan rudal; kini, dengan “pusat koordinasi” dan “pasukan stabilisasi.” Namun, ujungnya tetap sama: Gaza tidak dibiarkan berdaulat.
Langkah ini juga membuka pertanyaan moral yang sulit dihindari. Bagaimana mungkin sebuah negara yang selama ini membekingi pemboman, memveto resolusi gencatan senjata, dan mengalirkan senjata miliaran dolar ke Israel tiba-tiba menjadi penjaga perdamaian? Bukankah ini seperti serigala yang mengaku sedang melindungi domba setelah kenyang memangsa? Dunia mungkin pura-pura percaya, tapi rakyat Gaza pasti tahu perbedaan antara penjaga dan penjajah.
Bagi Amerika, proyek ini punya nilai strategis yang besar. Pangkalan di dekat Gaza berarti pijakan permanen di jantung Timur Tengah, di antara Mesir, Israel, dan Laut Mediterania—wilayah paling sensitif di dunia. Dengan itu, Washington tak hanya mengontrol Gaza, tetapi juga arus politik regional: hubungan Mesir dengan Hamas, pengaruh Iran, hingga jalur gas di Mediterania Timur. Maka jangan heran jika mereka memolesnya dengan kata-kata manis tentang kemanusiaan. Kekuasaan selalu butuh narasi yang terlihat bermoral agar bisa diterima.
Namun, justru di situlah absurditasnya. Dunia seolah menerima bahwa pendudukan bisa dibenarkan asal dibungkus dengan retorika multilateral. Bahwa intervensi bisa terlihat mulia asal melibatkan banyak bendera. Bahwa Gaza bisa diawasi atas nama kemanusiaan, padahal inti masalahnya adalah kemanusiaan yang diabaikan.
Kalau diibaratkan dalam kehidupan sehari-hari, situasi ini seperti tetangga yang selama bertahun-tahun membantu pelaku kekerasan di rumah sebelah—memberi uang, memberi senjata—lalu tiba-tiba datang membawa polisi dan berkata, “biar saya yang menengahi.” Bagi orang luar, mungkin tampak heroik. Tapi bagi korban yang sudah babak belur, tak ada bedanya: kekuasaan tetap berada di tangan yang sama, hanya ganti wajah.
Kita di Indonesia, yang akrab dengan bahasa “penertiban” dan “stabilisasi” dalam sejarah sendiri, seharusnya peka terhadap permainan kata ini. Kita tahu betul bagaimana istilah itu bisa menutupi kekerasan yang sebenarnya. Maka ketika Amerika berbicara tentang “stabilization force,” kita sepatutnya bertanya: stabil bagi siapa? Aman bagi siapa? Karena di Gaza, stabilitas sering kali berarti keheningan setelah pemboman—bukan perdamaian sejati.
Pada akhirnya, rencana ini hanyalah babak lanjutan dari siklus panjang penguasaan atas Gaza. Dari pendudukan Israel ke pengawasan Amerika. Dari bom terbuka ke pengendalian diplomatik. Dari penjarahan terang-terangan ke penjajahan yang dibungkus dalam rapat-rapat internasional. Dunia mungkin akan menganggap ini kemajuan, tapi bagi rakyat Gaza, itu tetap rantai—hanya kini berlapis bendera baru.
Dan seperti semua proyek yang dibangun di atas kepalsuan moral, cepat atau lambat ilusi ini akan runtuh. Sebab tidak ada “markas stabilitas” yang bisa menenangkan tanah yang haus keadilan. Tidak ada coordination center yang bisa mengatur napas orang-orang yang kehilangan keluarga. Gaza tidak butuh pangkalan baru. Gaza butuh kebebasan. Dan Amerika, betapapun lihainya memainkan kata, bukan datang untuk memberikannya.

Pingback: Mandat PBB dan Strategi Penyelamatan Israel