Opini
Kematian Otoritas Media di Era AI
Di Amerika, kepercayaan pada media jatuh ke titik nadir. Bayangkan, kurang dari tiga dari sepuluh orang percaya bahwa koran, televisi, dan radio masih mampu menyajikan berita secara adil. Sisanya? Mereka entah sinis, apatis, atau sudah terang-terangan menganggap media arus utama sekadar pabrik propaganda. Gallup melaporkan hanya 28% warga yang masih punya “great deal” atau “fair amount” trust. Angka itu bukan sekadar statistik. Itu epitaf, tulisan nisan bagi otoritas media tradisional yang dulu diagungkan.
Dulu, di era Watergate, jurnalis adalah pahlawan. Mereka menyingkap kebohongan penguasa dan membuktikan bahwa pena bisa lebih tajam daripada pedang. Sekarang, pena itu dianggap tumpul, atau lebih buruk, dianggap berkarat karena dicelupkan dalam tinta partisan. Ironi ini menohok. Dari hampir 70% tingkat kepercayaan di tahun 1970-an hingga jatuh bebas ke angka 28% pada 2024, grafik kepercayaan pada media ibarat lifeline yang terus menurun menuju titik nol. Kalau media adalah jantung demokrasi, maka Amerika sedang mengalami serangan jantung yang kronis.
Saya rasa yang lebih menarik bukan sekadar penurunan angkanya, melainkan jurang politik yang makin lebar. Hanya 8% Republikan percaya pada media. Sementara Demokrat, meski lebih tinggi, hanya 51%. Bayangkan, di negeri yang katanya mercusuar demokrasi, kebenaran kini tergantung pada warna partai. Fakta diperlakukan seperti menu restoran: Anda percaya versi A kalau Demokrat, dan Anda menolak mentah-mentah kalau Republikan. Pada titik ini, media bukan lagi wasit, melainkan pemain yang ikut gaduh di lapangan.
Donald Trump tentu bukan satu-satunya penyebab, tapi ia berhasil memanfaatkan retakan itu menjadi jurang besar. Sejak awal ia menyebut media sebagai “fake news,” dan sebagian publik menganggapnya benar. Ketika laporan Harvard Kennedy School menunjukkan liputan tentang 100 hari pertama Trump mayoritas negatif, para pendukungnya merasa mendapat pembenaran. Ketika Media Research Center menghitung lebih dari 90% pemberitaan malam tentang Trump bernuansa negatif, keyakinan itu semakin tebal: media dianggap musuh. Maka tidak heran jika Trump meluncurkan rilis “100 Days of Hoaxes,” lengkap dengan daftar 48 laporan yang ia cap hoaks. Media mungkin menyangkal, tapi di mata jutaan orang, vonis sudah jatuh: media adalah pembohong.
Namun, menyalahkan Trump semata jelas terlalu dangkal. Laporan Reuters Institute mengungkap lapisan lain: perubahan struktural dalam ekosistem informasi. Anak muda Amerika, khususnya di bawah 35 tahun, lebih memilih mendapatkan berita dari TikTok, YouTube, podcast, dan kini chatbot AI. Mengapa? Karena terasa lebih dekat, lebih cepat, dan—ironisnya—lebih jujur. Mereka tidak mencari gaya bahasa formal koran, mereka mencari suara yang terdengar seperti teman. Mereka tidak mau analisis panjang di halaman opini, mereka ingin ringkasan 30 detik yang bisa ditonton di sela makan siang.
Dan di sinilah kematian otoritas media itu nyata. Bukan hanya karena publik tidak percaya, tapi karena publik sudah menemukan pengganti. Media sosial dan teknologi AI kini menjadi rujukan, meski kita tahu keduanya penuh bias, disinformasi, dan jebakan algoritma. Ini seperti orang yang kecewa pada dokter, lalu lebih percaya pada tukang jamu di pinggir jalan. Kadang jamunya manjur, tapi sering kali hanya membuat sakit bertambah parah. Tapi setidaknya, kata mereka, jamu terasa lebih ikhlas daripada dokter yang dianggap serakah.
Jika kita tarik ke konteks Indonesia, pola ini tidak asing. Di sini pun media arus utama sering dituduh partisan, entah pro-pemerintah atau pro-oposisi. Sementara publik ramai-ramai mencari “kebenaran” di grup WhatsApp keluarga, akun TikTok politik, atau podcast yang penuh teori konspirasi. Kita semua tahu ada bahaya besar di situ, tapi siapa yang bisa melarang? Apalagi ketika media arus utama sendiri lebih sibuk mengejar klik daripada kredibilitas, lebih doyan memuat gosip selebritas ketimbang riset mendalam soal kebijakan publik.
Krisis kepercayaan pada media ini, bagi saya, bukan hanya fenomena Amerika. Ia adalah cermin global tentang matinya otoritas lama dan lahirnya otoritas baru yang rapuh. Generasi AI tak lagi memuja institusi besar, mereka percaya pada “teman digital” yang personal, cepat, dan interaktif. Media tradisional mencoba mengejar, tapi sering terlambat, sering canggung. Seperti orang tua yang mencoba meniru gaya anak muda, hasilnya lebih sering memalukan daripada meyakinkan.
Tetapi pertanyaan besarnya: apakah ini kemajuan atau kemunduran? Di satu sisi, runtuhnya monopoli media bisa dianggap demokratisasi informasi. Semua orang bisa bersuara, semua orang bisa jadi wartawan dadakan. Namun di sisi lain, ketiadaan standar membuat “fakta” menjadi cair. Kita tidak lagi punya konsensus bersama tentang kebenaran. Hari ini, berita bisa jadi nyata di satu kubu dan dianggap hoaks di kubu lain. Dunia seolah kehilangan gravitasi epistemik.
Saya ingin menggarisbawahi satu hal: krisis media sebenarnya adalah krisis kepercayaan. Media kehilangan kepercayaan karena gagal menjaga jarak dari kekuasaan, gagal menahan diri dari sensasi, gagal memahami perubahan cara publik mengonsumsi informasi. Tapi publik juga kehilangan kepercayaan karena terlalu cepat menyerahkan diri pada algoritma yang hanya memanjakan selera pribadi. Hasilnya: polarisasi, disinformasi, dan rasa sinis kolektif terhadap apa pun yang disebut berita.
Di titik ini, saya hampir bisa bilang: media tradisional bukan sekadar kehilangan relevansi, tapi kehilangan jiwa. Mereka tidak lagi dipercaya sebagai saksi kebenaran, hanya dianggap sebagai aktor tambahan dalam drama politik. Dan ketika kepercayaan mati, otoritas pun ikut terkubur. Maka judul yang paling pas barangkali bukan “krisis media,” melainkan “kematian otoritas media.”
Tapi, seperti semua kematian, selalu ada warisan yang ditinggalkan. Media tradisional mungkin sedang sekarat, namun ide tentang jurnalisme yang jujur, independen, dan berpihak pada publik masih bisa hidup. Pertanyaannya, siapa yang mau menghidupkannya kembali? Apakah AI akan mengambil alih peran itu dengan kecepatan algoritmanya? Atau justru publik yang harus kembali menuntut standar baru, bukan sekadar memeluk apa pun yang terdengar nyaman di telinga?
Saya tidak punya jawaban pasti. Namun saya yakin, tanpa upaya serius merebut kembali kepercayaan publik, media tradisional hanya akan dikenang seperti surat kabar tua yang menguning di pojok laci. Pernah berjaya, pernah dipercaya, lalu pelan-pelan dilupakan.

Pingback: Media Barat Propaganda Israel: Analisis Bias Struktural