Connect with us

Opini

Kekuasaan, Seks, dan Impunitas: Dunia Epstein Tak Pernah Mati

Published

on

Symbolic illustration of power, corruption, and Epstein’s lingering influence in politics.

Ada sesuatu yang ganjil dari cara dunia memperlakukan aib. Kadang ia dikecam dengan lantang, kadang dirayakan dalam diam. Jeffrey Epstein sudah mati, tapi setiap kali dokumen baru tentang dirinya muncul, dunia seakan hidup kembali dalam kebisuan yang sama: terkejut, tapi tak benar-benar berubah. Kini, ketika ribuan halaman email dan laporan baru dibuka oleh Komite Pengawasan DPR AS, yang tampak bukan hanya jejak seorang predator seksual, melainkan peta ekosistem kekuasaan yang selama ini menyuburkannya.

Epstein tidak sekadar penjahat. Ia adalah cerminan dari bagaimana uang, kekuasaan, dan impunitas saling memelihara. Dalam dokumen terbaru itu, ia digambarkan masih memantau pergerakan Donald Trump bahkan setelah hubungan mereka memburuk. Pilot pribadinya rutin mengirim jadwal penerbangan presiden, memberi kabar kapan Trump tiba di Palm Beach, bahkan memperingatkan soal kemungkinan pemeriksaan Secret Service. Bagi sebagian orang, itu mungkin hanya logistik penerbangan. Tapi bagi saya, ini lebih dari itu — ini tentang bagaimana kekuasaan begitu memikat hingga orang yang telah diasingkan dari lingkarannya pun masih ingin merasa dekat dengannya.

Donasi ke Vichara via Saweria

Dukung Vichara dengan berdonasi 💛

Epstein tahu kekuasaan bukan sesuatu yang mati ketika hubungan pribadi membeku. Kekuasaan hidup di udara, di bandara, di setiap jadwal yang dicatat oleh pilotnya. Ia tahu siapa yang harus didekati, siapa yang harus diamati, dan siapa yang cukup penting untuk “diketahui keberadaannya.” Dan Trump, entah ia menyadarinya atau tidak, tetap menjadi bagian dari orbit itu — bahkan ketika ia sudah menjadi presiden Amerika Serikat.

Dalam email lain, Epstein menulis kepada Lawrence Summers, mantan Menteri Keuangan AS, menyebut Trump “gila” dan “jahat melampaui keyakinan.” Di momen lain, ia menulis pada wartawan New York Times, menyebut presiden itu “kesepian dan gila,” serta “penuh kebohongan.” Nada-nada seperti itu mungkin terdengar seperti hinaan pribadi, tapi bagi saya, ia lebih menyerupai pengakuan dosa. Karena hanya orang yang pernah menikmati kedekatan dengan kekuasaan yang tahu persis busuknya dari dalam.

Yang lebih mengganggu lagi, Epstein tidak hanya memantau Trump. Dalam dokumen itu ada juga catatan tentang Joe Biden ketika masih menjabat wakil presiden. “Biden di West Palm Beach hari ini,” tulis seorang asisten. Tak ada indikasi hubungan pribadi, tapi pola pengawasan yang sama muncul: kekuasaan diikuti, dicatat, dipantau — bukan karena rasa kagum, melainkan karena kekuasaan selalu punya nilai tukar. Ia adalah mata uang paling stabil di dunia gelap semacam itu.

Dan di sinilah absurditasnya. Dunia marah pada Epstein, tetapi dunia yang sama pula yang menciptakannya. Ia lahir dari sistem yang memuja jaringan sosial lebih dari moralitas, dan menghargai akses lebih dari integritas. Ia adalah hasil sampingan dari kapitalisme ekstrem, tempat segala sesuatu bisa dijadikan barang dagangan — termasuk tubuh manusia. Setiap kali kita membaca nama Epstein, kita sebenarnya sedang membaca laporan keuangan moral dari peradaban kita sendiri.

Trump tentu menolak semua tuduhan. Ia menyebut publikasi dokumen itu sebagai “hoaks politik” buatan Demokrat, menegaskan bahwa ia pernah “mengusir Epstein dari klubnya” dan bahwa “tidak ada keterlibatan apa pun.” Barisan pendukungnya pun sigap menirukan narasi itu. Tetapi ada hal yang tidak bisa dibantah: Trump, seperti banyak tokoh besar lain, pernah berada di orbit yang sama. Dan dunia yang melahirkan Epstein adalah dunia yang juga melahirkan Trump — dunia yang mengukur nilai seseorang dari seberapa dekat ia bisa berdiri di sisi kekuasaan.

Saya rasa, kita perlu jujur pada diri sendiri: kisah Epstein bukan soal skandal seks. Ia adalah kisah tentang sistem yang tidak punya hati nurani. Tentang bagaimana orang-orang kaya dan berkuasa bisa hidup di atas hukum moral yang berbeda. Epstein hanya salah satu dari mereka yang tertangkap. Banyak lainnya masih bebas, tertawa di pesta amal, menggelar konferensi ekonomi, berbicara tentang “inovasi” dan “filantropi” seolah dunia lupa apa yang telah mereka lindungi.

Jika kita tarik ke konteks lokal, ironi ini terasa akrab. Di negeri kita pun, banyak versi Epstein dalam bentuk lain. Mereka yang punya akses ke kekuasaan, bisa menutup kasus, membeli keadilan, dan tetap dihormati di ruang publik. Mereka yang dipuja sebagai “dermawan,” padahal kekayaannya tumbuh dari perbudakan terselubung dan eksploitasi. Seperti Epstein, mereka berjalan bebas di antara kita, dilindungi oleh kesopanan sosial yang munafik.

Ketika Epstein memantau jadwal pesawat Trump, ia seolah sedang mencatat denyut jantung sistem yang membesarkannya. Ia tahu, meski telah diasingkan, dunia yang sama masih berputar dengan cara lama: yang kaya melindungi yang kaya, yang berkuasa menutup mata pada sesamanya. Ia hanya salah satu di antara banyak operator moral yang memahami bahwa dosa bisa dinegosiasikan — asal Anda cukup penting untuk tidak dijatuhkan.

Rilis dokumen ini seharusnya menjadi momen refleksi besar bagi Amerika. Tapi saya curiga, publik hanya akan memperlakukannya seperti episode baru dari serial lama. Akan ada debat, akan ada klarifikasi, akan ada teori konspirasi — lalu sunyi. Kita sudah terbiasa dengan kebusukan sampai lupa cara marah yang benar.

Namun yang paling menakutkan bukan Epstein, melainkan apa yang terjadi setelahnya. Ketika sistem hukum gagal, ketika publik jenuh, dan ketika media hanya menjadikan tragedi sebagai tontonan, maka yang tumbuh bukanlah keadilan, melainkan sinisme. Dan sinisme adalah bentuk penyerahan diri yang paling halus. Ia membuat kita terbiasa pada kebobrokan, menormalisasi ketidakadilan, dan memelihara keyakinan bahwa tak ada gunanya berharap pada perubahan.

Epstein mati, tapi dunia Epstein tetap hidup. Ia hidup di setiap hubungan gelap antara uang dan kekuasaan, di setiap jet pribadi yang membawa para pemimpin dunia, di setiap pesta eksklusif tempat keputusan besar dibuat tanpa kehadiran rakyat. Dunia itu mungkin tampak jauh dari kita, tapi dampaknya terasa dekat — dalam bentuk ketimpangan yang makin brutal, hukum yang hanya tajam ke bawah, dan budaya yang terus memaafkan orang kuat.

Kita semua tahu, dosa para elite jarang mati bersama pelakunya. Ia diwariskan, dipoles, diganti nama, tapi substansinya tetap sama: kekuasaan yang merasa tidak perlu diadili. Mungkin, inilah arti sebenarnya dari “dunia Epstein yang tak pernah mati.” Ia bukan tempat, bukan orang, bukan waktu. Ia adalah cara berpikir — bahwa jika Anda cukup kaya dan punya teman di posisi tepat, Anda bisa melakukan apa pun dan tetap dipuji.

Dan saya rasa, itu penyakit paling mematikan dalam peradaban kita hari ini.

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel Populer