Connect with us

Opini

Kekalahan yang Disamarkan Netanyahu dan Ironi Gaza

Published

on

Netanyahu celebrates “victory” amid Gaza’s ruins, symbolizing false triumph.

Dalam politik, ada kalanya kekalahan harus didandani seperti kemenangan. Dan tak ada yang lebih mahir memainkan sandiwara semacam itu selain Benjamin Netanyahu. Di tengah reruntuhan Gaza dan kelelahan bangsanya sendiri, ia berdiri di depan kamera, berbicara tentang “keberhasilan.” Tapi dunia tahu, dan rakyatnya sendiri tahu: tak ada kemenangan di sana. Yang tersisa hanyalah debu kebohongan yang terus ditebarkan untuk menutupi kenyataan pahit—bahwa perang yang dikobarkan atas nama keamanan kini justru meruntuhkan reputasi dan legitimasi Israel di hadapan dunia.

Laporan Yedioth Ahronoth dan Maariv membuka tirai ilusi itu. Mereka menulis dengan nada getir: gencatan senjata yang baru disetujui tidak menghasilkan penyerahan Hamas, tidak melucuti senjata Gaza, dan tidak memenuhi janji besar Netanyahu untuk “menghancurkan” perlawanan Palestina. Semua itu hanyalah kemasan retorik dari kekalahan strategis. Dalam bahasa militer, Israel tak mencapai decisive victory—dan dalam politik, Netanyahu kehilangan kendali atas narasi kemenangan yang dulu ia banggakan.

Donasi ke Vichara via Saweria

Dukung Vichara dengan berdonasi 💛

Saya rasa, inilah titik paling ironis dari perang Gaza. Negara yang mengklaim memiliki pasukan paling canggih di Timur Tengah, dengan dukungan penuh dari Washington dan senjata mutakhir dari Eropa, akhirnya berhadapan dengan kenyataan: kekuatan tak selalu menang melawan keyakinan. Hamas masih berdiri, memerintah, bahkan menegakkan otoritas di tengah reruntuhan. Dan di Tel Aviv, rakyat Israel sendiri justru menertawakan pemimpin yang dulu mereka puja. Sebuah ironi yang tak mungkin diciptakan oleh propaganda musuh, melainkan oleh kebohongan yang tumbuh dari dalam.

Kita semua tahu, Netanyahu telah lama memainkan peran ganda: di satu sisi tampil sebagai pelindung bangsa, di sisi lain mengorbankan kebenaran demi kelangsungan kekuasaan. Ia menjual perang ini sebagai “misi penyelamatan,” padahal bagi banyak pihak—termasuk para jenderal cadangan seperti Yitzhak Brick—ini hanyalah jalan buntu. Brick berkata tanpa tedeng aling-aling, “Netanyahu tidak akan mencapai tujuannya. Melanjutkan perang hanya akan membuat Israel kehilangan hubungan dengan dunia.” Pernyataan ini seperti pisau yang menusuk langsung ke inti: perang Gaza bukan sekadar kegagalan taktis, tapi juga kegagalan moral.

Hamas tidak kalah. Itu fakta yang kini diakui media Israel sendiri. Avi Issacharoff menulis bahwa Hamas tetap menjadi otoritas yang berfungsi, para pejuangnya masih bersenjata di jalanan, dan masyarakat Gaza tetap menegakkan pemerintahan di bawah bendera mereka. Apa artinya ini? Bahwa seluruh misi “menghapus Hamas dari muka bumi” adalah kebohongan paling mahal yang pernah dijual Netanyahu—dibayar dengan ribuan nyawa warga sipil dan hancurnya reputasi global Israel.

Namun, yang paling menarik bukan hanya kegagalan militernya, melainkan bagaimana rakyat Israel merespons. Ketika nama Netanyahu disebut di tengah kerumunan Tel Aviv dan dijawab dengan teriakan booing (wooo), dunia menyaksikan sesuatu yang jarang terjadi: rakyat mulai kehilangan rasa takut pada mitos kekuasaan. Mitos yang selama ini dibangun dengan narasi ketakutan—bahwa hanya perang yang bisa menjaga keamanan, bahwa kritik adalah bentuk pengkhianatan. Tapi saat para korban mulai pulang dalam peti, dan para sandera masih tak jelas nasibnya, mitos itu runtuh dengan sendirinya. Rakyat menuntut akal sehat, bukan lagi retorika.

Trump, Ivanka, dan Kushner mencoba menyelamatkan panggung. Mereka datang seperti tokoh tamu dalam drama yang sudah kehilangan penonton. Trump ingin mengklaim gencatan senjata ini sebagai prestasi diplomatik, padahal semua orang tahu: itu hanyalah pintu keluar yang dipaksa dibuka agar Netanyahu tidak tenggelam sendirian. Gencatan senjata ini bukan tanda damai, tapi sinyal kelelahan—dan, dalam politik, kelelahan sering kali lebih mematikan daripada kekalahan.

Kita bisa melihat gejala klasik dari negara yang kehilangan arah: militer mulai berbicara berbeda dari pemerintah, analis mulai menulis dengan nada jujur, dan rakyat mulai menolak simbol yang dulu mereka hormati. Apa yang terjadi di Tel Aviv itu bukan sekadar protes mingguan, melainkan gejala disintegrasi kepercayaan. Israel, yang dulu begitu yakin pada superioritas moralnya, kini mulai bertanya-tanya: apakah semua penderitaan ini benar-benar untuk keamanan, atau hanya demi kelangsungan satu orang di kursi kekuasaan?

Netanyahu tentu tak akan mengaku kalah. Ia akan terus bicara tentang “pencapaian strategis,” tentang “tekanan diplomatik,” dan tentang “ancaman yang berhasil diredam.” Tapi sejarah punya cara sendiri untuk menilai. Dan kali ini, sejarah mencatat: yang disebut kemenangan itu dibangun di atas kegagalan total. Gaza tetap tegak, rakyat Palestina tetap melawan, dan dunia semakin muak melihat pembantaian yang dibungkus jargon “pertahanan diri.”

Bagi kita di Indonesia, kisah ini seharusnya menjadi cermin. Kita tahu bagaimana kekuasaan sering kali berusaha memonopoli narasi, menutupi kegagalan dengan jargon nasionalisme, dan menyalahkan pihak lain untuk kesalahan sendiri. Netanyahu hanyalah versi ekstrem dari pola yang sering kita lihat di berbagai negara: pemimpin yang tak mau berhenti berperang karena tanpa perang, ia kehilangan alasan untuk berkuasa. Dan ketika rakyat mulai sadar, mereka dianggap pengkhianat.

Saya kira, inilah saat di mana dunia harus berhenti menganggap Israel sebagai “negara kecil yang selalu terancam.” Kenyataannya, mereka kini menjadi ancaman bagi dirinya sendiri. Perpecahan internal, tekanan moral internasional, dan hilangnya arah politik adalah bom waktu yang tak bisa dinetralisir oleh rudal Iron Dome. Kekuasaan yang bertumpu pada kekerasan pada akhirnya akan menelan dirinya sendiri. Dan Netanyahu sedang membuktikan itu dengan sempurna.

Ironi terbesar dari semua ini adalah bahwa di saat Israel berbicara tentang keamanan, justru rakyatnya sendiri merasa tak aman—bukan oleh roket Hamas, tapi oleh kebohongan pemimpin mereka. Sementara itu, Gaza yang hancur justru memancarkan sesuatu yang tak dimiliki Tel Aviv: keyakinan. Keyakinan bahwa meski tubuh mereka porak poranda, identitas dan kehormatan mereka tidak bisa dihancurkan. Dan di situlah letak kekalahan sejati Israel—karena tak ada senjata di dunia yang bisa mengalahkan makna.

Pada akhirnya, Netanyahu mungkin akan menulis di memoarnya bahwa ia “berhasil mengamankan negara” melalui gencatan senjata ini. Tapi sejarah akan menulis sebaliknya: bahwa di bawah kepemimpinannya, Israel kehilangan sesuatu yang jauh lebih berharga daripada kemenangan—kejujuran. Dan seperti yang kita tahu, ketika sebuah bangsa kehilangan kejujuran, semua kemenangan hanyalah bayangan di dinding reruntuhan.

Sumber:

1 Comment

1 Comment

  1. Pingback: Netanyahu Terbakar Setelah Perang Gaza Berakhir

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel Populer