Opini
Kebangkitan GenZ212: Saat Generasi Z Menantang Kekuasaan
Di jalan-jalan Maroko, malam yang biasanya hanya dihiasi riuh pasar dan percakapan santai di kedai teh, kini berubah jadi panggung perlawanan. Api membara dari mobil yang dibakar, teriakan menggema di gang-gang kota, dan di antara kepulan gas air mata, wajah-wajah muda itu tak gentar. Mereka bukan bagian dari partai oposisi, bukan aktivis veteran yang terlatih, melainkan remaja, mahasiswa, pengangguran dengan smartphone di tangan, yang menamai dirinya GenZ212. Ironisnya, sebuah negara yang bermimpi menjadi tuan rumah Piala Dunia 2030 justru kini dipaksa menghadapi “pertandingan” yang lebih mendesak: pertarungan antara generasi yang haus perubahan dan rezim yang sibuk menambal legitimasi.
Saya rasa, ada absurditas yang tak bisa kita abaikan di sini. Pemerintah Maroko, lewat Perdana Menteri Aziz Akhannouch, dengan penuh wibawa mengumandangkan “dialog adalah satu-satunya jalan.” Kalimatnya manis, terdengar moderat, seolah membuka ruang demokrasi. Namun, di lapangan, peluru tajam ditembakkan, dua nyawa melayang, ratusan orang terluka, dan ratusan lainnya ditangkap. Retorika penuh bunga, realitas penuh darah. Bukankah ini komedi getir yang terlalu sering kita dengar di dunia politik? Dialog di podium, represi di jalanan.
Fenomena GenZ212 ini jelas bukan sekadar “anak muda nakal” yang terprovokasi, sebagaimana sering dicap oleh penguasa. Angka-angka berbicara lebih jujur daripada pidato: tingkat pengangguran 12,8% secara nasional, melompat jadi 35,8% untuk pemuda, dan tetap tinggi 19% bahkan untuk lulusan universitas. Bayangkan—bertahun-tahun belajar, lalu berakhir dengan ijazah yang hanya jadi hiasan dinding, sementara lapangan kerja tak kunjung datang. Bagaimana mungkin generasi ini diam? Mereka hidup di zaman digital, terbiasa mengekspresikan diri di ruang maya, dan kini ruang itu mengalir deras ke jalan raya. Dari TikTok ke trotoar, dari Instagram ke alun-alun kota.
Dan lihatlah slogan mereka: “Stadiums are here, but where are the hospitals?” Sederhana, tapi menusuk. Kalimat ini menelanjangi prioritas negara: menggelontorkan dana besar untuk stadion megah demi gengsi internasional, tapi gagal menyediakan rumah sakit layak untuk warganya. Kita di Indonesia pun, jujur saja, tak asing dengan pola ini—kadang pemerintah lebih bangga membangun proyek mercusuar ketimbang memperbaiki Puskesmas yang bocor atapnya. Jadi, ketika GenZ212 bertanya, “Mana rumah sakitnya?”, itu bukan sekadar kritik teknis, tapi tamparan moral.
Yang membuat gerakan ini menarik adalah wajah mudanya. Menurut laporan Kementerian Dalam Negeri, 70% dari mereka yang terlibat bentrok adalah minor. Artinya, anak-anak di bawah umur, yang mestinya sibuk belajar atau merancang masa depan, justru kini berhadapan dengan polisi anti huru-hara. Ironi ini begitu telak: negara yang gagal mendidik generasi mudanya kini justru menindas mereka dengan dalih menjaga ketertiban. Anak-anak yang mestinya dilindungi malah jadi target gas air mata dan pentungan.
Tapi di sinilah letak kekuatan GenZ212. Mereka bukan gerakan klasik dengan struktur hierarkis yang mudah dipatahkan. Mereka cair, horizontal, dan digital. Hari ini aksi diserukan lewat TikTok, besok sudah ada ribuan yang turun ke jalan. Satu video viral bisa memantik lebih banyak kemarahan daripada seribu pamflet politik. Pola ini tentu membuat pemerintah kebingungan. Bagaimana melawan gerakan tanpa kantor pusat, tanpa pemimpin tunggal, tanpa manifesto panjang? Bagaimana menahan sesuatu yang mengalir di jaringan internet dan berubah wujud setiap hari?
Pemerintah boleh saja mencoba menakut-nakuti dengan angka penangkapan—409 orang ditahan, 193 menghadapi persidangan. Tapi justru penangkapan itu bisa jadi bahan bakar. Setiap anak muda yang dipenjara bisa melahirkan sepuluh simpatisan baru di luar. Kita semua tahu, represi yang tak diimbangi solusi substantif hanyalah memperpanjang usia krisis. Dan krisis inilah yang kini menjadi wajah Maroko di mata dunia: negara yang berambisi jadi tuan rumah Piala Dunia, tapi tak mampu jadi tuan rumah yang baik bagi generasi mudanya sendiri.
Saya kira, menarik untuk membandingkan kebangkitan GenZ212 ini dengan gelombang Arab Spring 2011. Bedanya, kini ada medium baru yang jauh lebih cepat: algoritma media sosial. Jika dulu Facebook dan Twitter cukup untuk menggulingkan rezim, bayangkan daya ledak TikTok dengan visual yang jauh lebih emosional dan viral. Kita hidup di era ketika sebuah video lima belas detik bisa menggetarkan lebih banyak hati daripada satu pidato presiden. Di situlah kekuatan GenZ—singkat, padat, dramatis, tapi penuh makna.
Namun, jangan salah kira. Gerakan ini bukan sekadar ledakan emosional. Tuntutan mereka jelas: perbaikan kesehatan, pendidikan, lapangan kerja. Ini kebutuhan elementer, bukan utopia. Mereka tidak menuntut istana baru, tidak meminta jalan tol emas, tidak ingin monumen raksasa. Mereka hanya ingin rumah sakit yang bisa menyelamatkan ibu mereka, sekolah yang bisa mendidik adik mereka, dan pekerjaan yang bisa membuat mereka berdiri tegak tanpa harus merantau atau menganggur. Apakah itu terlalu muluk?
Saya rasa, yang sedang diuji di Maroko hari ini adalah kesabaran rakyat terhadap absurditas politik pembangunan. GenZ212 telah membunyikan alarm: ada jurang menganga antara proyek prestise pemerintah dan kebutuhan dasar masyarakat. Pertanyaannya, apakah pemerintah mau mendengar, atau memilih jalan lama: menutup telinga dengan satu tangan, dan menekan pelatuk dengan tangan lainnya?
Kebangkitan GenZ212 ini bisa jadi awal sebuah bab baru dalam sejarah Maroko. Mungkin belum bisa kita sebut revolusi, tapi jelas bukan sekadar insiden. Ini adalah manifestasi generasi yang tak mau lagi hidup di bawah bayang-bayang kegagalan masa lalu. Mereka menuntut haknya sekarang, dengan suara, dengan layar, dengan keberanian yang bahkan peluru pun tak sepenuhnya bisa bungkam. Dan di titik ini, dunia harus memperhatikan: masa depan Maroko sedang dipertaruhkan bukan di stadion Piala Dunia, tapi di jalan-jalan penuh asap protes, di tangan generasi Z yang akhirnya bangkit untuk bicara.
Sumber:
- https://english.almayadeen.net/news/politics/morocco-pm-urges-dialogue-as-youth-protests-escalate-nationw
- https://english.almayadeen.net/news/politics/morocco-protests-escalate-into-violent-clashes-with-police
- https://english.almayadeen.net/news/politics/morocco-s-protests-turn-deadly–police-kill-2-as-unrest-spre

Pingback: Kebebasan Digital yang Terkubur oleh Tangan Barat