Connect with us

Opini

Kebangkitan Anti‑Sanksi Unilateral: Poros Baru Dunia

Published

on

Futuristic editorial illustration of Russia and Iran strategizing on a glowing world map, connecting alternative trade routes around a Western-dominated bloc

Realitas sering kali terasa seperti lelucon pahit: ketika dua negara yang selama ini dijatuhi sanksi unilateral—Rusia dan Iran—berdiri bersama di panggung global menyatakan “cukup,” dunia menyaksikan bukan sekadar retorika, tapi gebrakan strategis penuh ironi. Kita semua tahu sanksi unilateral dipuja Barat sebagai alat moral untuk mengoreksi perilaku negara lain, padahal pada banyak kasus justru menciptakan penderitaan ekonomi yang tak terukur. Dan sekarang, luka itu menjadi pintu bagi kebangkitan perlawanan—tidak hanya retoris, tetapi konkret—melawan dominasi ekonomi dan politik yang selama ini tak tertandingi.

Saya rasa, ketegangan ini bukan sekadar permainan diplomatik. Ini adalah cermin dunia yang sedang retak. Di Moskow, Sergei Lavrov dan Abbas Araghchi tidak datang untuk menegosiasikan bunga api kecil—mereka memutuskan untuk mengorganisasi sebuah poros yang secara langsung menantang kekuatan Barat dengan ide membentuk kelompok internasional untuk menentang sanksi unilateral. Tidakkah itu aneh? Yang biasanya menjadi terdakwa kini menjadi jaksa. Negara yang selama ini dipaksa menderita—karena dikeluarkan dari sistem keuangan global, karena akses perdagangan mereka dibatasi, karena kapal dagang mereka ditarget—sekarang berkata kepada dunia: “kami punya strategi sendiri.” Pernyataan itu bukan sekadar tentang hierarki kekuasaan baru; ini tuduhan langsung terhadap moralitas sanksi unilateral itu sendiri.

Donasi ke Vichara via Saweria

Dukung Vichara dengan berdonasi 💛

Bicara tentang sanksi unilateral membuat saya teringat pengalaman sehari‑hari: ketika tetangga melarang kita dari akses ke sesuatu yang vital, lalu berharap kita tetap tersenyum dan patuh. Lucu. Kita semua tahu, ketika seseorang dipaksa keluar dari sistem, mereka akan mencari cara untuk masuk melalui pintu lain. Dan itu yang kini dilakukan Rusia dan Iran, yang dengan tegas menegaskan niat mereka membentuk mekanisme multilateral baru untuk menghadapi tekanan sanksi unilateral. Di sini, bukan hanya kata “multilateral” yang menarik—itu seperti ironi tajam yang menusuk: multilateral dalam menentang unilateralisme. Bayangkan saja: sebuah klub negara yang menolak dominasi satu blok besar menyusun aturan mereka sendiri. Ini bukan sekadar perlawanan—ini kebangkitan.

Daripada membaca fakta sebagai titik di peta diplomasi, kita harus mendengar nada frustrasi di baliknya. Ketika Lavrov menyatakan bahwa kerja sama antara Rusia dan Iran terus berlanjut pada proyek seperti pembangkit listrik nuklir Bushehr, ada semacam kesadaran bersama bahwa mereka tidak lagi mau bergantung pada Barat, atau bahkan berharap belas kasihan Barat. Ambil contoh pernyataan Araghchi tentang pentingnya International North–South Transport Corridor (INSTC). Itu bukan jargon diplomatik. Itu adalah upaya nyata menjahit jaringan perdagangan yang tidak mudah diputus oleh sanksi unilateral—jalur yang menghubungkan Asia, Rusia, dan bahkan Eropa melalui koridor yang bukan milik Washington atau Brussel. Ini semacam membangun jalan tikus global untuk perdagangan dunia yang lebih adil dan kurang bergantung pada sistem lama.

Saya ingin tekankan—ini bukan sebatas protes simbolis. Ini adalah respons struktural terhadap sistem yang selama ini mengklaim dirinya sebagai “penjaga aturan internasional.” Siapa yang membuat aturan? Bagaimana aturan itu ditegakkan? Ketika sanksi unilateral dilabeli sebagai alat untuk “memberi pelajaran” negara lain, apakah itu berarti satu negara besar memiliki hak moral untuk menghukum seluruh ekonomi bangsa lain? Dan ketika negara yang tersanksi itu bereaksi dengan membangun mekanisme baru melawan sanksi unilateral—apakah itu sebuah ancaman, sebuah kebangkitan, atau akhirnya sebuah pembalasan logis?

Kita lihat bagaimana kedua menteri asing dari negara yang selama ini berada di bawah tekanan sanksi unilateral menyampaikan pesan yang lebih dalam: ini adalah tantangan langsung terhadap tatanan global yang selama ini didominasi oleh Amerika Serikat dan sekutunya di Barat. Lavrov bahkan tidak segan mengkritik tindakan AS di Karibia, menyerukan agar kritik serupa yang dilayangkan kepada Amerika oleh Uni Eropa juga setara. Bagaimana mungkin sebuah sistem yang menegakkan hukum universal bisa abai ketika tindakan negara adikuasa sendiri dipertanyakan? Apakah moralitas hukum internasional hanya berlaku bagi yang bukan dominan?

Ini memunculkan pertanyaan besar: apakah dunia sedang berubah? Apakah kita menyaksikan lahirnya era baru yang lebih multipolar, di mana kekuatan tidak lagi terpusat pada satu blok utama? Ketika Rusia dan Iran menyusun agenda konsultasi antar kementerian untuk 2026–2028, memasukkan pembahasan tentang sanksi unilateral, krisis regional, dan diplomasi multilateral, itu bukan hanya agenda diplomatik biasa. Itu seperti deklarasi strategis bahwa mereka siap mengatur permainan mereka sendiri. Ini seperti dua pemain yang selama ini terus disalahkan karena “melanggar aturan,” tiba‑tiba mulai menulis ulang aturan itu sendiri.

Dan inilah sebabnya saya berpendapat bahwa langkah ini bukan hanya respons terhadap tekanan ekonomi; ini adalah tantangan terhadap gagasan hegemonik yang selama ini dianggap sakral. Rusia dan Iran kini mengalihkan fokus mereka ke perdagangan bilateral dalam mata uang nasional dan membangun mekanisme finansial independen untuk mengurangi ketergantungan pada dolar—itu adalah langkah bukan hanya ekonomis, tetapi simbolis. Itu seperti mengatakan: “Kami tidak lagi tunduk pada sistem kalian.” Dan jika sistem itu bergantung pada sanksi unilateral sebagai senjata utama, maka langkah ini adalah sabetan pedang filosofis terhadap dominasi itu.

Namun, jangan tertipu oleh narasi sederhana bahwa ini hanya tentang dua negara anti‑Barat yang bersekutu. Ada konteks yang lebih luas: negara‑negara lain yang pernah merasakan tekanan sanksi unilateral kini mengamati, bertanya, “Apakah kita juga bisa bertahan?” China, misalnya, dengan Belt and Road Initiative‑nya dan peningkatan penggunaan yuan dalam perdagangan internasional, sudah menunjukkan ketertarikan terhadap sistem alternatif semacam ini. India dan Turki juga menunjukkan kecenderungan untuk mencari jalur perdagangan yang tidak sepenuhnya bergantung pada Barat. Bagi banyak negara di Asia, Afrika, dan Amerika Latin, gagasan menghadapi sanksi unilateral melalui blok dan mekanisme baru tentu terasa menarik.

Ketika pembaca dari Jakarta berjalan di Jakarta Selatan, mengunjungi pasar atau kafe, bisa jadi kita tidak merasakan efek langsung dari sanksi unilateral yang diterapkan oleh Barat kepada Rusia atau Iran. Tapi kita tahu dampak sanksi itu—kenaikan harga, keterbatasan akses barang, dan tekanan geopolitik yang merembes ke Asia Tenggara. Dan kini ketika poros baru muncul menentang sanksi unilateral, itu membuka ruang diskusi: apakah dunia akan tetap tunduk pada dominasi satu blok besar? Atau apakah negara‑negara di luar Barat akan menemukan suara baru, ruang manuver baru, dan solidaritas baru?

Dunia bukan sekadar panggung dengan dua aktor utama. Ini adalah jaringan yang lebih kompleks, di mana negara yang dulu dikira tak berdaya kini menunjukkan kekuatan strategi. Ketika Lavrov dan Araghchi menegaskan bahwa Iran tetap berkomitmen pada kesepakatan nuklir internasional—tapi tidak akan melepaskan haknya yang sah—itu menunjukkan sikap yang bukan penyerahan, melainkan negosiasi dari posisi yang lebih kuat. Ini bukan tentang menyerah, tetapi tentang memainkan permainan dengan kartu yang lebih baik.

Kita harus memahami bahwa sanksi unilateral selama ini tidak hanya menghukum pemerintahan—mereka telah merembet ke kehidupan rakyat. Itu membuat masyarakat biasa merasa terisolasi dari sistem global. Dan ketika sistem itu sendiri dipertanyakan—karena ada poros negara yang menolak sanksi unilateral dan membangun mekanisme alternatif—itulah momen refleksi terbesar. Bukan hanya tentang politik negara besar, tetapi tentang keadilan global.

Saya percaya ini adalah awal dari era di mana sanksi unilateral akan semakin sulit dipaksakan tanpa kritik tajam dan respons strategis. Dunia sedang berada pada persimpangan jalan. Dan meskipun masa depan masih kabur, satu hal pasti: kebangkitan poros anti‑sanksi ini adalah sebuah peristiwa besar yang membuka kemungkinan perubahan nyata dalam tatanan dunia. Kita semua harus menyimaknya dengan kritis—bukan hanya sebagai penonton, tetapi sebagai bagian dari komunitas global yang peduli tentang keadilan dan kedaulatan.

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel Populer