Opini
Kartu Merah untuk UEFA: Fair Play Mati
Di malam yang penuh sorot lampu stadion, slogan Respect dan Fair Play berkilau di layar raksasa. Tapi saya rasa kita semua tahu, cahaya itu palsu. Di balik bendera UEFA yang gemerlap, aroma ketidakadilan begitu menyengat. Ironi menari di atas lapangan hijau: organisasi yang mestinya menjaga sportivitas justru bermain politik tingkat tinggi, dan dunia sepak bola menjadi panggung sandiwara kekuasaan.
Kisahnya sederhana sekaligus getir. Israel nyaris didepak dari kompetisi UEFA. Seruan datang dari berbagai penjuru, dari pakar hak asasi PBB, para pemain senior, hingga suara publik yang jengah melihat genosida di Gaza. Bahkan ada seruan jelas: gantung dulu partisipasi Israel, sama seperti ketika Rusia diusir secepat kilat pasca invasi Ukraina. Namun alih-alih tegas, UEFA memilih menunda, seolah-olah waktu bisa meredam luka dan melupakan nyawa. Saya tidak melihat itu sebagai kebetulan, melainkan cermin keberpihakan yang mencolok.
Data dari laporan Israel Hayom menegaskan bahwa tekanan Amerika Serikat dan diplomasi tingkat tinggi menjadi tameng. Para pejabat, diplomat, dan tokoh sepak bola dunia turun tangan. Hasilnya? Israel selamat, sementara Maccabi Tel Aviv tetap melaju ke laga pembuka Europa League di Yunani. Bayangkan, satu telepon dari Washington atau satu bisikan dari lobi kuat bisa menunda keadilan. Di Indonesia, kita sering melihat drama serupa: aturan bisa lentur jika yang bermain adalah mereka yang punya kuasa. Ternyata di Eropa pun begitu. Sepak bola, yang kita kira murni, ternyata serupa politik anggaran di kampung—siapa kuat dia menang.
Saya ingat betul, ketika Rusia menyerbu Ukraina, UEFA dan FIFA bergerak secepat kilat. Tak menunggu sepekan, Rusia diusir dari semua kompetisi. Alasannya? Kejahatan internasional tak bisa diabaikan. Tapi untuk Israel, yang diduga melakukan genosida oleh Komisi Penyelidikan PBB dan bahkan sudah diingatkan Mahkamah Internasional, UEFA justru ragu. Ini bukan sekadar standar ganda; ini adalah pengkhianatan terang-terangan terhadap prinsip fair play. Kalau di lapangan, pelanggaran seperti itu sudah pasti kartu merah.
Sebagian orang mungkin bilang sepak bola harus netral. Saya dulu juga percaya. Namun sekarang, netralitas itu hanya jargon untuk menutupi lobi. Ketika keputusan besar lebih ditentukan oleh kekuatan diplomatik ketimbang rasa keadilan, netralitas hanyalah selimut tipis yang tak lagi menutupi. UEFA membuktikan bahwa mereka bukan sekadar penjaga turnamen, melainkan aktor politik yang lihai bernegosiasi dengan kekuasaan.
Lihat betapa ironisnya. UEFA mengangkat tema Respect di setiap pertandingan, menggelar kampanye melawan rasisme, berbicara lantang soal kesetaraan gender. Semua terdengar mulia. Tapi apa artinya semua itu ketika nyawa manusia di Gaza dipandang tak cukup penting dibanding urusan bisnis dan lobi politik? Saya rasa kita semua bisa merasakan getirnya: seperti menonton pertandingan yang wasitnya ikut bertaruh.
Sebagai penggemar sepak bola, saya kecewa bukan main. Kita diajak percaya bahwa sepak bola bisa menjadi bahasa universal yang melampaui konflik, tapi kenyataannya UEFA sendiri meruntuhkan mimpi itu. Di Indonesia, kita sering mengecam federasi yang korup atau wasit yang tak adil. Tapi kali ini, ironi datang dari pusat sepak bola dunia. UEFA, yang seharusnya jadi teladan, justru memberi contoh buruk: standar keadilan yang berlaku tergantung siapa pelakunya dan siapa pendukungnya.
Tidak heran jika banyak yang menyerukan “UEFA layak mendapat kartu merah.” Ungkapan itu bukan sekadar kemarahan, tapi peringatan moral. Dalam sepak bola, kartu merah artinya keluar, instropeksi, dan menebus kesalahan. Tentu kita tak bisa mengusir UEFA dari dunia sepak bola, tapi pesan simboliknya jelas: organisasi ini harus menebus pengkhianatan terhadap prinsip yang mereka sendiri kumandangkan.
Yang lebih menyesakkan, UEFA seakan lupa bahwa dunia kini menonton. Era media sosial membuat publik tak mudah dibohongi. Setiap keputusan yang berbau politis langsung disorot, setiap standar ganda diabadikan dalam hitungan detik. Di kafe, di warung kopi, di grup WhatsApp para penggemar bola di Jakarta hingga Surabaya, topik ini jadi bahan diskusi. Kita semua bisa merasakan kepalsuan itu, dan kita tak bisa menutup mata.
Sebagian pihak di Eropa mungkin berharap isu ini akan redup, tapi sejarah mencatat ingatan publik tak semudah itu dipadamkan. Kita ingat kasus apartheid Afrika Selatan, kita ingat cepatnya hukuman untuk Rusia. Kini, dengan genosida di Gaza terus berlangsung dan laporan PBB semakin lantang, tekanan hanya akan menguat. Maret mendatang, ketika undian Nations League digelar, pertanyaan itu akan kembali menghantui: apakah UEFA akhirnya berani bersikap adil, atau tetap menjadi badan politik berkedok olahraga?
Saya menulis ini bukan sekadar untuk melampiaskan kemarahan. Ini ajakan merenung. Sepak bola adalah permainan rakyat, milik kita semua. Kita menonton bukan hanya untuk skor, tapi karena percaya pada keindahan permainan yang adil. Ketika organisasi sebesar UEFA mempermainkan keadilan demi kepentingan politik, yang dirusak bukan hanya citra mereka, tetapi juga kepercayaan kita pada ide bahwa olahraga bisa melampaui kebencian dan kekuasaan.
Kita, para penggemar, tentu tak bisa mengeluarkan kartu merah secara literal. Namun kita bisa terus mengingatkan, menulis, dan menuntut. Saya percaya tekanan publik adalah kekuatan besar—lebih besar dari lobi mana pun jika kita konsisten. UEFA mungkin bisa menunda, tapi tak bisa selamanya mengelak dari kenyataan: mereka telah meninggalkan prinsip fair play. Dan ketika prinsip itu mati, tak ada lagi yang layak dipertahankan kecuali kesadaran bahwa kita harus bersuara.
