Connect with us

Opini

Jerman Tambah 100 Ribu Pasukan Hadapi Rusia

Published

on

German soldier on a chessboard with war shadows and NATO symbols, representing Germany’s plan to add 100,000 troops by 2029.

Langkah kaki tentara di barak Jerman mungkin terdengar lebih nyaring dari biasanya. Bukan karena parade atau latihan rutin, melainkan karena bayangan perang yang terus-menerus digantungkan di udara Eropa. Ironi pun lahir: negara yang selama puluhan tahun berusaha menutup jejak masa lalu militernya, kini justru bergegas menggandakan kekuatan tempurnya. Jerman tambah pasukan, dan bukan main—seratus ribu orang baru harus direkrut demi memenuhi target NATO.

Kita semua tahu, angka tidak pernah bohong. Saat ini Bundeswehr hanya punya 62 ribu pasukan aktif. Untuk bisa mencapai 162 ribu dalam lima tahun, Jerman butuh rekrutmen massal, logistik baru, pelatihan besar-besaran, dan tentu saja dana triliunan. Sementara target lama saja gagal dicapai: dari 203 ribu personel yang dijanjikan sejak 2018, mereka masih defisit 20 ribu. Apa jadinya jika janji baru ditambah dua kali lipat? Seperti berhutang pada bank waktu dengan bunga realitas yang tak terbayar.

Donasi ke Vichara via Saweria

Dukung Vichara dengan berdonasi 💛

Alfons Mais, kepala angkatan darat Jerman, terang-terangan menyebutkan dalam surat rahasianya bahwa persiapan harus tuntas pada 2029. Tahun itu dianggap titik rawan, ketika Rusia diyakini sanggup melancarkan serangan besar ke Eropa. Sungguh narasi yang dramatis. Mirip cerita film distopia, hanya saja kali ini bukan Hollywood yang menulis naskah, melainkan NATO. Dan Jerman dipaksa memainkan peran utama, entah suka atau tidak.

Tapi mari kita berhenti sejenak dan bertanya: apakah benar 100 ribu tentara tambahan akan membuat Eropa lebih aman? Ataukah justru semakin menegaskan bahwa Eropa tidak percaya pada diplomasi, melainkan hanya pada jumlah sepatu bot yang bisa berbaris di perbatasan? Sejarah memberi kita banyak pelajaran pahit, salah satunya bahwa logika perlombaan senjata jarang melahirkan perdamaian. Ia justru seperti bensin yang dituangkan ke bara api yang belum padam.

Bukan hanya soal jumlah orang. Modernisasi persenjataan juga sedang digencarkan. Jerman menyiapkan pembelian 20 jet tempur Eurofighter baru, memperbarui rudal Taurus, bahkan merancang generasi lanjutannya yang disebut Taurus NEO. Semua ini terdengar gagah, tapi pada akhirnya juga berarti ladang emas bagi industri persenjataan. Airbus, Rheinmetall, dan pabrik senjata lain akan tertawa lebar, sementara masyarakat sipil Jerman harus siap menerima pajak yang kian berat. Di sinilah absurditas itu terasa: demi melawan ancaman Rusia, ekonomi rakyat harus ikut dikorbankan, tapi keuntungan justru mengalir deras ke segelintir perusahaan.

Saya rasa, kita yang hidup di Indonesia pun bisa merasakan ironi ini. Bayangkan jika pemerintah tiba-tiba bilang bahwa untuk menghadapi ancaman tetangga, kita butuh seratus ribu tentara baru. Tentu akan muncul pertanyaan: siapa yang mau jadi tentara? Anak-anak muda yang lebih tertarik pada startup, gaming, atau kerja remote, apakah mau dipanggil baris-berbaris di barak dingin? Di Jerman, problem ini nyata. Generasi pasca-Perang Dingin tumbuh dalam kenyamanan ekonomi, bukan dalam romantisme seragam militer. Rekrutmen massal jadi tantangan berat, apalagi ketika nilai pacifisme sudah mengakar dalam budaya.

Namun, politik selalu punya caranya. Dengan narasi ancaman, rakyat digiring untuk percaya bahwa tidak ada pilihan lain selain memperkuat militer. Kanselir Merz bahkan menyebut situasi keamanan saat ini sebagai yang paling serius sejak berdirinya Republik Federal Jerman. Ucapan ini bukan sekadar peringatan, melainkan juga legitimasi untuk menggelontorkan dana raksasa ke militer dan intelijen. Ya, BND—badan intelijen Jerman—akan ikut “disupercharge.” Seolah-olah semua lini negara harus dibentengi, dari laut Baltik hingga kabel internet.

Tapi mari kita akui, ada semacam self-fulfilling prophecy di sini. NATO berkata Rusia bisa menyerang pada 2029. Lalu Jerman tambah pasukan besar-besaran. Rusia melihat hal ini sebagai provokasi, lalu memperkuat militernya. Siklus saling curiga pun tak terhindarkan. Bukankah inilah skenario yang justru memperbesar kemungkinan perang, alih-alih mencegahnya? Barat ingin merasa aman, tapi keamanan itu diraih dengan cara yang justru membuat tetangga merasa terancam. Ini bukan arsitektur keamanan, ini labirin paranoia.

Dalam perspektif yang lebih luas, langkah Jerman sebenarnya menandai pergeseran identitas. Selama puluhan tahun, Jerman pascaperang membangun citra sebagai negara ekonomi, bukan negara militer. Exportweltmeister, bukan Warmaster. Namun perang di Ukraina memaksa perubahan besar. Boris Pistorius, Menteri Pertahanan, sudah berulang kali berkata bahwa rakyat harus terbiasa kembali dengan “logika perang.” Betapa getir mendengarnya. Seolah-olah normalitas baru Eropa bukanlah integrasi, melainkan persiapan pertempuran panjang.

Apakah rakyat Jerman siap dengan konsekuensinya? Kenaikan anggaran militer berarti ada yang harus dipangkas: pendidikan, kesehatan, kesejahteraan sosial. Semua ini demi bayangan perang yang belum tentu datang, tapi terus-menerus didengungkan. Bukankah ada analogi sederhana di sini? Bayangkan seseorang yang terus membeli helm, rompi antipeluru, dan senjata, padahal rumahnya aman dan tetangganya hanya sesekali bersuara keras. Lama-lama, ia sendiri yang gelisah, hidupnya dikuasai rasa takut, dan akhirnya konflik malah benar-benar pecah.

Saya tidak menafikan bahwa Rusia adalah ancaman nyata bagi Eropa. Invasi ke Ukraina adalah fakta pahit yang tak bisa dipoles. Tapi ancaman itu tidak otomatis membenarkan bahwa solusi tunggal adalah menambah seratus ribu tentara. Diplomasi, perundingan, jaminan keamanan bersama—semua itu masih bisa diperjuangkan, meski jauh lebih sulit dan tak semenarik parade militer. Jerman seharusnya belajar dari masa lalu: kekuatan militernya pernah mengguncang dunia, dan dunia tidak pernah lupa luka yang ditinggalkan.

Jerman tambah pasukan bukanlah sekadar soal jumlah, tapi juga simbol arah politik Eropa. Dari Berlin hingga Vilnius, dari Baltik hingga Brussel, pesan yang disampaikan jelas: Eropa sedang bersiap untuk perang besar. Pertanyaannya, apakah itu benar-benar langkah bijak, ataukah hanya jalan pintas yang penuh risiko? Kita semua tahu, membangun pasukan bisa dilakukan dalam lima tahun, tapi menghapus trauma perang bisa memakan waktu beberapa generasi.

Pada akhirnya, opini ini bukan sekadar kritik terhadap rencana Jerman, tetapi juga refleksi tentang pilihan manusia ketika dihadapkan pada rasa takut. Apakah kita memilih untuk memperkuat senjata, atau memperkuat dialog? Apakah kita rela mengorbankan masa depan anak-anak demi memenuhi target NATO, atau mencari jalan lain yang lebih waras? Jerman telah memilih jalannya. Dan kita, dari jauh, hanya bisa menyaksikan dengan rasa waswas, berharap sejarah tidak kembali menulis tragedi yang sama dengan tinta darah.

Sumber:

1 Comment

1 Comment

  1. Pingback: Jerman dan Kemunafikan Barat dalam Genosida Palestina

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel Populer