Opini
Jejak Penjajahan Baru di Tanah Hadhramaut
Angin gurun yang menyapu lembah Hadhramaut hari ini bukan lagi angin yang membawa debu sejarah tua, melainkan aroma getir dari sebuah ironi modern: bagaimana dua negara yang menyebut diri sebagai “penjaga stabilitas kawasan” justru tampil sebagai aktor paling agresif dalam merampas ruang hidup tetangganya. Kadang saya bertanya, seberapa tebal sebenarnya tirai kepura-puraan yang dipasang Uni Emirat Arab dan Saudi ketika mereka mengumandangkan kata-kata manis seperti keamanan, pembebasan, dan masa depan? Karena yang terlihat di Hadhramaut jelas bukan keamanan, bukan pembebasan, bukan masa depan—melainkan invasi yang dibungkus rapi dengan jargon yang terlalu sering kita dengar hingga rasanya basi.
Saya rasa banyak orang sudah merasakan absurditas itu, meski tak semua mau menyebutnya dengan nama yang tepat. Ketika pasukan Southern Transitional Council (STC), milisi yang didukung penuh oleh UEA, mengumumkan keberhasilan operasi “Promising Future” dalam merebut kota Seiyun, publik disuguhi cerita yang terdengar seperti potongan propaganda era kolonial awal abad 20: penyelamatan, pembebasan, dan penertiban wilayah dari “ancaman ekstremis.” Padahal kita semua tahu, di provinsi itu tidak ada Ansarallah, tidak ada front baru Houthi, dan tidak ada bukti kuat adanya ISIS. Tapi siapa peduli pada kebenaran ketika yang dibutuhkan hanyalah narasi untuk meratakan langkah pasukan? Dalih keamanan selalu menjadi kunci pembuka pintu invasi.
Kita bisa pura-pura tak paham, tapi faktanya jelas: Hadhramaut, provinsi terbesar di Yaman, kaya minyak, panjang garis pantai, strategis untuk jalur perdagangan. Dalam bahasa yang lebih jujur, tempat seperti ini adalah surga bagi siapa pun yang mau memperluas hegemoni. Jadi wajar, meski tetap menyakitkan, ketika pejabat STC mengatakan tanpa malu, “Kami bertujuan menguasai seluruh Hadhramaut.” Kalimat sederhana itu adalah pengakuan polos yang jarang terdengar dalam diplomasi modern, seakan penyamaran tak lagi diperlukan. Seakan invasi bukan lagi sesuatu yang perlu disembunyikan. Seakan rakyat Yaman tak layak dihormati sebagai subjek atas tanahnya sendiri.
Saya tak keberatan menyebut ini sebagai penjajahan, karena apa bedanya cara UEA dan Saudi dengan kolonialis lama? Mereka masuk dengan dalih menyelematkan, menuduh lawan politik sebagai teroris, memecah suku-suku, menguasai lokasi strategis, mengendalikan pelabuhan, dan bahkan mempekerjakan tentara bayaran. Mereka memindahkan tentara seperti pion catur di tanah yang bukan milik mereka. Mereka membentuk milisi proksi. Mereka mendikte masa depan Yaman sambil mengaku hadir demi kebaikan Yaman. Kita tentu pernah mendengar pola yang sama: dari Irak, dari Libya, dari Palestina, dari Sahel, dari Afghanistan. Itu kosa kata purba kolonialisme, hanya berganti wajah menjadi kolonialisme Teluk.
Ironinya, kampanye invasi ini terjadi di saat Hadhramaut Tribal Alliance sedang berusaha mengamankan tanah mereka sendiri. Aliansi suku itu telah memperingatkan bahwa provinsi berada di tepi ledakan, menyerukan perlindungan terhadap minyak dan pelabuhan mereka, menegaskan bahwa ada “kekuatan eksternal”—sebutannya sangat jelas—yang mulai mengambil alih lokasi vital dan menyingkirkan pemimpin lokal. Jika Anda tinggal di sana, Anda tentu bisa merasakannya: ketegangan yang menekan dada, kecemasan yang melayang-layang di udara, dan rasa kehilangan yang diam-diam merayap ketika tanah leluhur perlahan dikendalikan pihak asing. Dan di tengah itu, Riyadh serta Abu Dhabi terus berlomba memamerkan kekuatan seperti dua kerajaan yang menganggap Yaman sebagai halaman belakang yang boleh dibagi sesuka hati.
Transisinya semakin jelas ketika kita membaca fakta bahwa STC didukung UEA, sementara The Presidential Leadership Council (PLC), badan eksekutif untuk pemerintahan Yaman yang didukung Saudi. Keduanya duduk di pemerintahan yang sama, namun berperang satu sama lain; sebuah teater politik yang aneh dan menyedihkan. Aidarous al-Zubaidi, presiden STC dan sekaligus wakil ketua PLC, berdiri di dua kaki seperti aktor yang memainkan peran ganda dalam drama yang tak lagi lucu. Ini bukan sekadar konflik internal, ini bukti bahwa Yaman telah menjadi meja perjamuan untuk rivalitas dua monarki Teluk yang dulu memulai perang sebagai sekutu. Kini mereka saling mencengkeram bagian tubuh Yaman seperti dua burung pemangsa yang menjarah bangkai sama.
Dalam konteks invasi, gaya UEA semakin terasa. Mereka telah membangun kehadiran besar di pulau-pulau Yaman, bekerja sama dengan Israel, sesuatu yang hingga kini sulit dijelaskan oleh pendukung “stabilitas kawasan.” Mereka mengendalikan wilayah-wilayah strategis di Shabwa, Marib, dan kini Hadhramaut. Sementara Saudi, tak mau kalah, memfasilitasi Hadhramaut Protection Forces, memberi mereka akses pada ladang minyak dan rute transportasi. Sungguh ironis: dua negara kaya yang hidup dari sumber daya melimpah, kini menjadikan sumber daya tetangganya sebagai alasan untuk terus mengokohkan ekspansi.
Saya rasa masyarakat Indonesia bisa memahami situasi ini dengan analogi sederhana: bayangkan jika dua tetangga kaya tiba-tiba memutuskan bahwa kampung Anda terlalu strategis untuk dibiarkan dikelola Anda sendiri. Mereka datang, membawa pasukan, mengaku ingin melindungi Anda dari ancaman yang tak ada, menuduh kepala desa Anda pro-teroris, dan perlahan mulai mengambil alih tambang pasir, sawah, pantai, serta gudang logistik. Orang kampung tentu tahu siapa penjajahnya. Hanya saja, ketika penjajah datang dari arah yang sama-sama memakai bahasa Arab dan memakai istilah “stabilitas,” dunia internasional kadang ragu menyebutnya penjajahan. Padahal hakikatnya sama saja.
Kata kunci invasi UEA dan Saudi ke Hadhramaut menggema kuat dalam setiap halaman laporan the Cradle, entah diucapkan secara langsung atau dibaca lewat tanda-tanda yang melekat. Bahkan data paling teknis, seperti lebar garis pantai 450 kilometer atau fakta bahwa Hadhramaut mencakup sepertiga wilayah Yaman, mengarah pada kesimpulan yang tak bisa dielakkan: provinsi ini tidak hanya diperebutkan, tetapi sedang diduduki secara bertahap. Semua tindakan STC—mulai dari menguasai kota Seiyun, menuduh lawan sebagai ekstremis, hingga mengerahkan tentara bayaran—adalah pola invasi yang sudah terpola sejak 2017. Dan ketika pejabat mereka dengan santai berkata akan “menghancurkan pemberontakan,” kita tahu bahasa itu bukan milik rakyat, melainkan bahasa penjajah.
Transisi menuju konklusi terasa tak terhindarkan: ketika kekuatan lokal melawan demi mempertahankan tanah mereka sendiri, sedangkan pasukan eksternal mengatasnamakan keamanan untuk menguasai energi dan laut, maka siapakah agresor sebenarnya? Jawabannya tidak memerlukan pidato panjang. Yaman telah didera perang hampir satu dekade. Namun apa yang terjadi di Hadhramaut saat ini adalah fase baru—fase di mana kehadiran dua penguasa Teluk tidak lagi bisa disebut intervensi, tapi pendudukan. Kita boleh menulisnya dengan tinta merah atau menyebutnya dengan suara pelan, tapi maknanya tetap sama: Hadhramaut sedang dijajah oleh aktor-aktor yang menyamar sebagai penyelamat.
Saya yakin pembaca bisa merasakan kegelisahan itu. Ada yang memendamnya dalam diam. Ada yang mengungkapkannya dengan kemarahan. Saya memilih menuliskannya. Karena jika kita tidak menyebut invasi sebagai invasi, dan tidak menyebut penjajahan sebagai penjajahan, maka kita sedang membantu menormalisasi kolonialisme baru yang memakai pakaian modern. Kita tidak boleh lupa bahwa rakyat Yaman berhak menentukan masa depan mereka sendiri, bukan masa depan yang ditentukan dua negara kaya yang kebetulan sedang bosan dengan permainan geopolitik biasa.
Pada akhirnya, saya hanya ingin mengatakan ini: Hadhramaut bukan hadiah, bukan ruang kosong, bukan provinsi tanpa tuan. Ia tanah hidup, tanah bermartabat, tanah yang menolak dilipat dalam peta kolonial baru. Dan selama invasi UEA dan Saudi terus berlangsung, selama dalih keamanan dijadikan kedok untuk menduduki, selama retorika pembebasan dijadikan topeng untuk menjarah sumber daya, maka kritik harus terus bergema. Kritik harus menjadi suara yang mengingatkan dunia bahwa penjajahan tidak pernah berakhir; ia hanya berganti wajah, berganti bahasa, berganti bendera.

Pingback: STC Membantu Israel Lewat Fragmentasi Yaman