Connect with us

Opini

Jam Mewah di Tengah Luka Suriah

Published

on

Al-Sharaa mengenakan jam tangan Patek Philippe mewah dalam pertemuan internasional.

Langit sore di Aleppo memerah seperti bara, bukan karena senja yang manis, melainkan karena debu reruntuhan dan asap dapur darurat. Di sana, ibu-ibu antre roti dengan tatapan hampa. Di sini, jauh dari deru perang, seorang yang dulu dielu-elukan sebagai pejuang menjejak karpet lembut ruang konferensi. Patek Philippe di pergelangan tangannya memantulkan cahaya lampu panggung, seolah mengejek kelamnya jalanan Suriah. Kontras yang menyesakkan dada. Seperti menonton film murahan yang lupa memotong adegan paling sinis.

Kita semua tahu bagaimana kisahnya: dari medan tempur ke meja perundingan, dari seragam lapangan ke jas bermerek, dari jam taktis ke arloji seharga puluhan ribu dolar. Ahmad al-Sharaa—yang dulu mengklaim diri sebagai suara perlawanan—kini tampil bak diplomat jet set. Laporan yang menyebut jam Patek Philippe World Time Chronograph 5930G senilai lebih dari 80 ribu dolar bukan sekadar detail fesyen. Itu tanda transformasi. Tanda yang, mau tak mau, mengusik nurani siapa pun yang masih peduli pada rakyat Suriah yang bergelut dengan listrik padam dan harga roti gila-gilaan.

Donasi ke Vichara via Saweria

Dukung Vichara dengan berdonasi 💛

Dalih diplomasi? Ah, alasan yang terdengar rapi tapi hampa. Mereka bilang, “Untuk diterima para pemimpin dunia, kau harus tampak sekelas mereka.” Benar, jas dan arloji mungkin bisa membuka pintu ruang rapat. Tapi pintu hati rakyat yang terhimpit krisis? Tak ada jam mewah yang bisa memutarnya. Ketika anak-anak di Idlib mencari air bersih dengan jeriken bekas, apa pantas sang pemimpin menampilkan kilau yang bahkan selebritas Hollywood pun enggan pamerkan di tengah tragedi?

Saya rasa inilah puncak ironi. Ia yang dulu menolak kemewahan Barat kini mengadopsi simbolnya untuk “mencapai kesepahaman”. Kita semua tahu dunia diplomasi memang penuh simbol. Tapi simbol yang ini lebih mirip pameran ego daripada strategi damai. Ada yang menyebutnya rebranding. Saya menyebutnya pengkhianatan sunyi. Karena rebranding seharusnya datang bersama perbaikan nasib rakyat, bukan sekadar pemolesan citra pribadi di depan kamera internasional.

Pertemuan dengan David Petraeus, mantan Direktur CIA yang dulu menaruh harga sepuluh juta dolar atas kepalanya, menambah lapisan absurd. Bayangkan: dulu buronan, kini disambut hangat sambil bersalaman. Dunia seperti tak punya ingatan. Atau mungkin memang begitu cara geopolitik bekerja—musuh kemarin bisa jadi tamu kehormatan hari ini asalkan ada kepentingan. Bagi rakyat Suriah, itu bukan sekadar drama; itu penghinaan. Mereka yang kehilangan rumah dan keluarga mendapati pemimpin yang dulu dielu-elukan kini asyik berswafoto dengan mantan musuh.

Kita di Indonesia pun akrab dengan paradoks semacam ini. Berapa kali kita menyaksikan tokoh yang lahir dari penderitaan rakyat berubah menjadi elite yang jauh dari akarnya? Dari kampung ke gedung kaca, dari sandal jepit ke jas mahal, mereka mengaku “mewakili suara kecil” sambil menutup telinga dari jeritan pasar tradisional. Analoginya mudah kita cicipi: seperti pejabat yang berpose dengan mobil mewah di tengah banjir Jakarta, lalu berdalih “butuh kendaraan tangguh untuk koordinasi lapangan”. Dalih tetaplah dalih.

Sebagian orang mungkin berargumen bahwa kemewahan adalah alat. Bahwa dalam dunia penuh citra, simbol kemakmuran menandakan kekuatan, dan kekuatan itu bisa dipakai untuk menegosiasikan perdamaian. Tapi mari jujur: sampai kini tak ada tanda signifikan perbaikan di Suriah. Ekonomi tetap terpuruk, pengungsi tetap menumpuk, dan reruntuhan kota tetap menjadi pemandangan sehari-hari. Kalau jam tangan mahal itu adalah “investasi diplomatik”, hasilnya sungguh mengenaskan. Diplomasi semacam apa yang membiarkan rakyat tetap lapar sementara pemimpinnya menyesap kopi dalam pertemuan bergengsi?

Dalam tradisi Timur Tengah, pemimpin kerap dilihat sebagai pelayan rakyat. Bukan penguasa yang berdiri di atas mereka. Ketika pemimpin justru memamerkan kekayaan di saat warganya menanggung beban, nilai itu tercerabut. Suriah, negeri yang pernah menjadi pusat peradaban, kini seperti panggung sandiwara di mana aktor utamanya sibuk menata kostum, bukan naskah penyelamatan. Dan kita, penonton yang masih peduli, hanya bisa menggeleng, tersenyum getir.

Bahkan bila kita mencoba memberi keringanan—barangkali jam itu hadiah, barangkali jas itu pinjaman—rasa getir tak hilang. Karena persoalan sesungguhnya bukan pada kepemilikan benda, melainkan pada pesan yang sengaja dipancarkan. Dalam komunikasi politik, setiap detail adalah bahasa. Dan bahasa kemewahan di tengah reruntuhan hanyalah cara halus untuk berkata: aku sudah naik kelas, aku bukan lagi bagian dari penderitaan kalian. Itu bahasa yang memisahkan, bukan menyatukan.

Saya teringat ungkapan lama: “Waktu adalah uang.” Ironisnya, di Suriah waktu justru adalah nyawa. Setiap menit berarti kesempatan untuk menyelamatkan anak dari busung lapar, setiap jam berarti perjuangan untuk mendapatkan air bersih. Di sisi lain, jam mewah di pergelangan al-Sharaa hanya menghitung zona waktu demi kenyamanan perjalanan diplomatik. Dua realitas yang tak akan pernah bertemu, kecuali dalam catatan sejarah yang menertawakan ironi manusia.

Jam mewah itu mungkin menunjukkan banyak zona waktu, tetapi jelas tidak menunjukkan waktu penderitaan yang tak pernah berhenti di tanah kelahirannya. Ia bisa mengatur pertemuan dengan para pejabat dunia, namun tak bisa mengatur ulang arus listrik di Aleppo. Ia bisa menyesuaikan pergelangan tangan, tetapi tidak hati nurani. Itulah inti kritik ini: bukan soal merek Patek atau harga delapan puluh ribu dolar, melainkan soal jarak yang melebar antara simbol dan realita, antara janji dan tindakan.

Pada akhirnya, sejarah akan mencatat bukan seberapa mahal jam yang dikenakan al-Sharaa, tetapi seberapa besar luka yang tak ia obati. Waktu, betapa pun elegan terbungkus, tetap akan menguji. Dan waktu—bukan Patek Philippe—akan menjadi hakim yang paling adil.

 

 

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel Populer