Connect with us

Opini

Israel Pecah dari Dalam: Ketika Mesin Perang Gigit Lidahnya Sendiri

Published

on

Di sebuah ruangan dengan dinding peredam suara yang tak lagi cukup meredam kemarahan, para elit rezim zionis saling meneriaki satu sama lain. Sebuah pertemuan yang mestinya jadi rapat strategi berubah menjadi arena tinju verbal antara para jenderal dan politisi sayap kanan. Netanyahu, yang duduk di puncak piramida kekuasaan tapi tampak semakin kehilangan tumpuan, beradu mulut dengan Kepala Staf Militer Eyal Zamir. Bukan soal moralitas, bukan soal etika, melainkan siapa yang paling bisa “menyelesaikan” Gaza. Atau lebih jujurnya, siapa yang bisa menghancurkannya dengan lebih efisien.

Dan ketika seseorang dari pihak militer mengingatkan bahwa para prajurit sedang mati di medan tempur, para politisi di seberang meja justru makin beringas. “Kalian belum menepati janji,” kata mereka. Seolah perang ini adalah proyek konstruksi yang harus selesai tepat waktu. Seolah nyawa—baik nyawa prajurit maupun warga Gaza—hanyalah variabel statistik dalam laporan mingguan yang disodorkan ke parlemen. Tak ada simpati, tak ada nalar. Hanya ambisi dan kepanikan yang mulai mendidih dalam panci kekuasaan yang retak.

Donasi ke Vichara via Saweria

Dukung Vichara dengan berdonasi 💛

Ironisnya, suara paling waras dalam ruangan itu justru datang dari seorang jenderal. Eyal Zamir tak menolak perang, tidak juga mengangkat bendera putih. Ia hanya bicara realitas. Dua juta warga Gaza, kalau digeser tanpa infrastruktur, tanpa makan dan air, akan meledak seperti dinamit yang sudah kehabisan waktu tunggu. Tapi politisi seperti Smotrich dan Ben Gvir punya solusi yang lebih sederhana: blokade habis-habisan, pindahkan warga, dan kalau perlu, reokupasi total. Logistik? Infrastruktur? Kemanusiaan? Ah, itu urusan belakangan—kalau masih hidup.

Begitulah ketika sebuah negara yang lahir dari trauma kolektif justru menjadikan trauma itu sebagai dalih untuk menciptakan trauma baru. Dan kini, trauma itu tak lagi diarahkan hanya ke luar, tapi sudah mulai menggrogoti dari dalam. Israel sedang pecah—bukan karena tembakan dari musuh eksternal, tapi karena bom waktu yang ditanam oleh keserakahan politik dan militansi ideologis para elitnya sendiri.

Sementara para jenderal dan menteri saling bersitegang, masalah lain yang lebih telanjang menunggu di luar pintu: uang. Ya, konflik yang katanya “eksistensial” ini ternyata belum ada dananya di dalam buku APBN 2025. Bayangkan, sebuah perang besar-besaran ke Gaza dan konfrontasi dengan Iran ternyata masuk kategori “pengeluaran tak terduga.” Kementerian Keamanan minta tambahan 60 miliar shekel, Kementerian Keuangan menolak. Bahkan dana untuk kendaraan militer yang sudah disetujui ikut ditahan. Tak ada uang untuk rudal, tapi ada banyak suara yang menuntut perang terus lanjut. Ini bukan lagi konflik militer. Ini drama keluarga disfungsional dalam format negara.

Laporan yang lebih jauh menyebut bahwa kendaraan Hummer yang digunakan di Gaza sudah tua renta—beberapa bahkan sudah melampaui satu juta kilometer. Itu seperti memaksa kakek-kakek naik motor trail dan suruh adu cepat dengan tank tempur. Tapi inilah yang terjadi. Negara yang bangga dengan teknologi militernya kini kesulitan membayar utang suku cadang. Apa kata Elon Musk?

Dalam situasi seperti ini, sulit untuk tidak merenung: mungkinkah ini permulaan dari keruntuhan yang ditutupi dengan slogan-slogan patriotik? Kalau sebuah rezim tak mampu memberi makan tentaranya, tak sanggup merawat kendaraannya, dan terus memaksa diri terlibat perang demi pencitraan politik, maka keruntuhan bukanlah kemungkinan. Ia hanya soal waktu.

Dan tentu, kita yang jauh di Indonesia—yang lebih akrab dengan debat soal jalan rusak dan polemik revisi undang-undang—jangan buru-buru merasa aman. Karena pola ini familiar. Ketika para penguasa mulai menjadikan krisis sebagai panggung pribadi, ketika suara nalar tenggelam oleh pekikan ideologis, dan ketika negara terlalu percaya diri untuk mengatur hidup orang lain tanpa kesiapan moral maupun logistik—itulah saat negara mulai menggali lubangnya sendiri.

Israel bukan sekadar negara dalam konflik. Ia kini adalah negara yang sedang bertengkar dengan dirinya sendiri. Dan yang paling menyedihkan, pertengkaran itu terjadi di atas kuburan warga sipil Gaza yang tak sempat memilih nasibnya sendiri. Bahkan dalam kesepakatan paling sinis pun, seharusnya ada titik logika yang menghentikan pertumpahan darah. Tapi di sini, logika itu dikubur bersama sisa-sisa moral yang semakin langka.

Netanyahu menyuruh stafnya menyiapkan rencana evakuasi massal. Tapi bahkan sang kepala staf militer tak tahu rencana macam apa itu. Apakah itu evakuasi atau pengusiran? Pemindahan penduduk atau pembersihan etnis dengan nama yang lebih sopan? Tak ada yang tahu pasti, kecuali satu hal: rencana itu disusun bukan untuk melindungi warga sipil, tapi untuk menyelamatkan muka politik yang sudah keburu tercoreng.

Dan seperti biasa, para pemimpin politik yang duduk nyaman di kursi empuk akan terus berkata bahwa ini semua “demi keamanan negara.” Kata-kata sakti itu. Segalanya bisa dibenarkan atas nama keamanan. Tapi keamanan untuk siapa? Untuk rezim? Untuk industri senjata? Untuk opini publik yang disulap lewat narasi TV dan propaganda TikTok?

Di sisi lain dunia, seorang anak di Gaza sedang mencari air, sementara para politisi Israel sibuk berdebat siapa yang layak disalahkan. Seorang ibu menggali puing rumahnya, dan seorang menteri di Tel Aviv menyarankan “kepung saja utara Gaza, biar mereka menyerah.” Mungkin, kalau Dante masih hidup, dia akan menambahkan satu lingkaran neraka lagi—khusus untuk mereka yang membuat strategi perang sambil menyeruput kopi di ruang rapat.

Inilah potret sebuah rezim yang sedang retak dari dalam. Pecah oleh kontradiksi, oleh kepongahan, oleh beban sejarah yang diubah jadi senjata. Israel mungkin punya Iron Dome untuk menangkis roket, tapi mereka tak punya pertahanan terhadap bom waktu yang kini berdetik di jantung kekuasaan mereka sendiri.

Dan kalau kita menyimaknya baik-baik, bunyi detiknya semakin jelas: tik-tok, tik-tok.

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel Populer