Opini
Israel Mengaku Kalah, AI Jadi Tameng Baru
Di era ketika sebuah video berdurasi tiga puluh detik di TikTok bisa mengguncang opini lebih keras ketimbang sebuah pidato presiden, ada ironi yang sulit diabaikan. Israel—yang selama puluhan tahun begitu percaya diri dengan jaring propaganda bernama hasbara—kini harus merogoh jutaan dolar untuk menyewa konsultan komunikasi politik, membeli slot iklan di Google, bahkan berusaha memanipulasi kecerdasan buatan seperti ChatGPT. Semua ini demi satu tujuan: menguasai narasi yang sebenarnya sudah bocor ke mana-mana. Rasanya mirip seseorang yang mencoba menambal ember tua, padahal air keburu meluber dari segala sisi.
Kontrak dengan Clock Tower X LLC, senilai enam juta dolar untuk empat bulan, bukan sekadar “proyek komunikasi.” Ia adalah sinyal panik. Dokumennya jelas: 80 persen konten ditargetkan untuk Gen Z, dengan kuota 50 juta impresi per bulan. Targetnya bukan generasi tua yang sudah mapan dalam pandangan politik, melainkan anak muda yang hidup dari scroll, swipe, dan share. Generasi yang lebih peka terhadap ketidakadilan, yang tidak mudah ditipu oleh jargon “membela diri.” Israel tahu, kalau Gen Z dibiarkan berpikir kritis, runtuhlah fondasi dukungan publik di Amerika Serikat.
Lebih menarik lagi adalah klaim bahwa perusahaan itu akan membantu “menyesuaikan hasil percakapan GPT.” Artinya apa? Artinya Israel tidak hanya ingin menguasai media sosial, tetapi juga menanamkan narasi di ruang-ruang percakapan digital yang tampak netral. Bayangkan: Anda bertanya ke sebuah AI tentang konflik di Gaza, lalu jawaban yang keluar seolah menormalisasi pendudukan, mengaburkan fakta kelaparan, atau menyepelekan penderitaan warga sipil. Di titik ini, bukan hanya berita yang dimanipulasi, melainkan juga percakapan sehari-hari yang kita anggap alami.
Tetapi apa yang membuat semua ini terasa begitu getir adalah kenyataan bahwa, meski semua uang digelontorkan, tren opini di Amerika justru berbalik arah. Survei New York Times–Siena mencatat untuk pertama kalinya publik AS lebih banyak mendukung Palestina (35 persen) ketimbang Israel (34 persen). Angka itu mungkin terlihat kecil, tapi dalam sejarah opini publik AS, itu adalah gempa. Quinnipiac University juga menemukan 49 persen warga AS punya pandangan negatif terhadap Benjamin Netanyahu. Dan hanya 47 persen yang merasa mendukung Israel adalah kepentingan Washington. Untuk sebuah negara yang puluhan tahun didandani sebagai “sekutu abadi,” itu adalah penurunan drastis.
Saya rasa, inilah yang membuat strategi digital Israel terasa seperti berlari di treadmill: banyak keringat yang keluar, tapi tidak maju ke mana-mana. Realitas di Gaza terlalu telanjang untuk ditutupi iklan YouTube atau narasi pro-Israel di Instagram. Gambar anak-anak kurus kering karena kelaparan, rumah-rumah yang rata dengan tanah, suara tangisan di puing-puing—itu lebih kuat daripada retorika apa pun. Narasi tidak bisa selamanya menipu kenyataan, apalagi di zaman di mana setiap warga bisa menjadi jurnalis dengan ponsel di tangannya.
Di sini kita melihat paradoks: Israel sangat takut kalah di perang narasi, padahal perang itulah yang paling mereka kuasai sejak lama. Mereka lupa satu hal: generasi baru di seluruh dunia tumbuh dengan budaya fact-check, terbiasa menyeberang kanal informasi, dan lebih percaya pada rekaman amatir di TikTok daripada konferensi pers pejabat. Inilah mengapa target mereka adalah Gen Z. Tapi ironinya, semakin keras mereka memaksa masuk ke ruang digital, semakin kentara bahwa narasi lama mereka tidak lagi punya daya tarik.
Analoginya sederhana: ketika seorang pedagang di pasar berteriak terlalu keras membujuk orang membeli barang, justru semakin curiga pembeli bahwa dagangannya sedang bermasalah. Begitu pula dengan Israel. Kalau narasi mereka kuat, seharusnya tidak perlu mengeluarkan 45 juta dolar untuk membayar Google agar menyiarkan iklan “tidak ada kelaparan di Gaza.” Justru angka itu adalah bukti paling telanjang bahwa mereka takut pada kebenaran yang berbeda.
Bagi kita di Indonesia, kisah ini punya gema yang relevan. Kita hidup di tengah banjir informasi, di mana narasi politik bisa disulap seolah nyata lewat mesin pencari atau algoritma media sosial. Kasus Israel ini mengingatkan kita: jangan pernah menyerahkan sepenuhnya kebenaran pada apa yang muncul di layar. Sebab bisa jadi, di balik artikel yang Anda baca atau video yang Anda tonton, ada kontrak bernilai jutaan dolar yang bekerja diam-diam. Maka, literasi media bukan lagi sekadar pelajaran tambahan; ia adalah pertahanan moral agar tidak jadi korban propaganda.
Saya tidak heran kalau publik AS, terutama anak muda, mulai berpaling dari Israel. Generasi baru lebih terbuka pada isu keadilan global, lebih sensitif terhadap diskriminasi, dan lebih sulit dibeli dengan narasi lama. Mereka melihat Gaza bukan dari kaca mata politik, tapi dari kacamata kemanusiaan. Dan itu cukup untuk membuat jutaan dolar propaganda terlihat sia-sia.
Namun tentu kita tidak bisa naif. Israel dan jejaringnya akan terus mencoba. Mereka punya sumber daya finansial, koneksi politik, dan akses teknologi yang hampir tak terbatas. Pertanyaan kuncinya bukan apakah mereka bisa menguasai narasi untuk sementara, tapi apakah narasi itu bisa bertahan di hadapan kenyataan yang terus berbicara. Dan kenyataan di Gaza, sayangnya, setiap hari menambah daftar luka yang sulit dihapus dengan framing algoritma.
Pada akhirnya, mungkin inilah paradoks tragis Israel di era digital: semakin keras mereka membayar untuk menjaga citra, semakin terbongkar bahwa citra itu rapuh. Semakin kuat mereka mencoba mengontrol percakapan, semakin besar kecurigaan publik bahwa ada sesuatu yang tidak beres. Dan semakin mereka bergantung pada teknologi untuk menyembunyikan kebenaran, semakin jelas bahwa mereka sudah kalah di medan paling penting: medan nurani.
Karena itu, ketika kita membaca laporan tentang kontrak jutaan dolar untuk memanipulasi ChatGPT atau membombardir YouTube dengan iklan pro-Israel, sebaiknya kita tidak hanya terkejut. Kita juga bisa tersenyum getir. Sebab tanpa mereka sadari, langkah itu adalah pengakuan. Pengakuan bahwa mereka sedang kalah di perang narasi. Pengakuan bahwa kebenaran tidak bisa terus-menerus disembunyikan, meski dengan uang sebesar apa pun. Dan pengakuan bahwa generasi baru di dunia, termasuk di Indonesia, punya mata yang lebih tajam daripada algoritma mana pun.

Pingback: Politik Israel Retak, Koalisi Netanyahu di Ambang Pecah