Connect with us

Opini

Israel Dijual Murah Demi Menyelamatkan Zionisme

Published

on

Bezalel Smotrich offers tax incentives in a symbolic market, with a cracked map of Israel and citizens walking away.

Di negeri yang dulu menganggap dirinya pusat panggilan sejarah, kini harga keimanan pada ideologi dijatuhkan menjadi diskon pajak. Dua tahun tanpa kewajiban kepada negara—itulah “revolusi Zionis” versi Menteri Keuangan Bezalel Smotrich. Sebuah revolusi yang bukan lahir dari keyakinan, melainkan dari kepanikan. Israel, yang dulu menjadi magnet bagi para imigran Yahudi di seluruh dunia, kini harus menjual dirinya murah agar masih tampak hidup.

Bayangkan: negara yang mengklaim diri sebagai rumah bagi bangsa pilihan Tuhan kini menggelar karpet merah bukan untuk idealisme, tetapi untuk kapital. Dua tahun bebas pajak, janji pekerjaan, dan kemudahan lisensi profesi—semua ditawarkan sebagai umpan agar mereka yang sempat pergi mau pulang. Israel tidak sedang menarik warga baru; ia sedang berusaha mengembalikan orang-orang yang mulai kehilangan alasan untuk tinggal.

Donasi ke Vichara via Saweria

Dukung Vichara dengan berdonasi 💛

Smotrich menyebut kebijakan itu sebagai “revolusi ekonomi dan Zionis.” Tapi kita tahu, setiap kali seorang politisi menggunakan kata “revolusi,” biasanya yang sedang ia tutupi adalah rasa takut. Takut terhadap eksodus warganya sendiri. Takut terhadap kerapuhan ideologi yang dulu menjadi bahan bakar sebuah bangsa. Di tengah perang dan krisis moral akibat genosida di Gaza, Zionisme tidak lagi bersinar sebagai panggilan spiritual, melainkan bergetar seperti lilin di ujung malam.

Data yang disajikan pemerintah sendiri membuat klaim Smotrich terdengar seperti lelucon pahit. Sementara 54.000 imigran baru diklaim telah tiba sejak awal agresi di Gaza, Ynet melaporkan lebih dari 145.000 warga Israel meninggalkan negara itu sejak 2020, dan delapan dari sepuluh yang pergi tak berniat kembali. Angka itu bukan statistik ekonomi; ia adalah epitaf bagi sebuah ideologi yang kehilangan daya hidup. Zionisme yang dulu mengajak orang datang kini harus memohon agar orang tidak pergi.

Kita mungkin bisa memahami keputusasaan itu. Karena sejak lama, Israel dibangun bukan hanya dengan senjata, tapi juga dengan narasi. Narasi bahwa di dunia yang penuh antisemitisme, hanya Israel yang aman. Bahwa menjadi Yahudi berarti kembali ke tanah leluhur. Bahwa menjadi warga Israel berarti bagian dari takdir ilahi. Tapi dunia berubah. Dan kini, generasi baru diaspora Yahudi tak lagi melihat Tel Aviv sebagai tempat suci, melainkan sebagai negara perang yang kehilangan moral. Maka Smotrich menjual harapan itu dalam bentuk yang lebih konkret: nol persen pajak.

Saya rasa, di situlah absurditas paling tajam dari kebijakan ini. Ketika iman digantikan insentif, dan nasionalisme disubstitusi dengan tarif pajak, maka Zionisme telah berubah menjadi startup ideologis yang mencoba mempertahankan investor. Pemerintah bahkan menyebut setiap “shekel” yang diinvestasikan dalam imigrasi bisa menghasilkan empat kali lipat bagi ekonomi nasional. Tapi siapa yang ingin berinvestasi di negeri yang sedang kehilangan kepercayaan pada dirinya sendiri?

Langkah ini disebut “data-based process,” katanya. Betul. Tapi data tidak bisa menyembunyikan aroma ketakutan. Mereka tahu warga sedang pergi. Mereka tahu dunia mulai menjauh. Maka kebijakan fiskal disulap menjadi kampanye ideologis. Sebuah upaya penyelamatan Zionisme melalui angka-angka, bukan argumen moral. Seolah-olah loyalitas bisa dibeli dengan potongan pajak, dan sejarah bisa direstorasi lewat spreadsheet kementerian keuangan.

Namun di bawah semua eufemisme itu, ada rasa panik yang tak bisa disembunyikan. Negara yang pernah menolak kompromi kini memelas di hadapan para profesional Yahudi diaspora agar mau kembali “membangun Tanah Israel.” Padahal, banyak dari mereka yang meninggalkan Israel bukan karena pajak, tetapi karena nurani. Mereka lelah pada politik ekstrem, perang yang tak kunjung selesai, dan kehidupan yang selalu dibayangi sirene darurat. Mereka pergi bukan karena ekonomi, tapi karena etika.

Israel pernah menjadi janji. Kini ia menjadi peringatan. Negara yang dibangun atas dasar pengusiran, kini diusir oleh warganya sendiri. Dan Smotrich, dengan segala retorika revolusinya, tampak seperti dokter yang mencoba menyembuhkan pasien ideologis dengan suntikan uang tunai. Tapi Zionisme bukan penyakit ekonomi. Ia adalah luka moral yang lahir dari kontradiksi: ingin menjadi demokrasi, tapi berdiri di atas penindasan; mengaku bangsa pilihan, tapi hidup dari penderitaan bangsa lain.

Di Indonesia, kita sering melihat gejala serupa dalam skala berbeda: ketika idealisme digantikan insentif, ketika panggilan sejarah berubah menjadi program promosi. Seperti perusahaan yang kehilangan visi, negara pun bisa kehilangan jiwa. Israel sedang mengalaminya—dan kita bisa melihat bayangannya di banyak tempat: ketika kekuasaan lebih sibuk mempertahankan simbol ketimbang substansi, ketika identitas lebih mahal dari kemanusiaan.

Maka, ketika Smotrich berkata, “Ini revolusi Zionis,” saya mendengarnya sebagai kalimat putus asa. Sebuah usaha untuk menyelamatkan ideologi yang tak lagi dipercaya, seperti seseorang yang meniup lilin di tengah badai. Dan kebijakan pajak nol persen itu bukanlah tanda kekuatan ekonomi, tetapi bentuk kepanikan kultural. Israel dijual murah bukan karena ia ingin membuka diri, melainkan karena ia takut sendirian.

Kita semua tahu, tidak ada ideologi yang abadi jika tak lagi mampu memberi makna. Zionisme, seperti banyak ide besar lainnya, hidup dari keyakinan. Tapi begitu keyakinan itu diukur dalam tarif pajak dan fasilitas imigrasi, maka ia berhenti menjadi iman dan berubah menjadi pasar. Israel kini bukan lagi impian, melainkan brosur investasi yang mencoba meyakinkan pembeli bahwa “tanah yang dijanjikan” masih punya nilai jual.

Namun pasar tidak pernah setia pada ideologi. Ia hanya setia pada keuntungan. Dan ketika keuntungan itu habis—ketika perang, ketidakadilan, dan ketakutan membuat Israel tak lagi menarik—maka bahkan potongan pajak pun tak akan bisa menghentikan arus kepergian. Revolusi yang dijanjikan Smotrich hanyalah usaha terakhir sebuah ide yang sedang sekarat. Upaya penyelamatan Zionisme dari reruntuhan yang ia ciptakan sendiri.

Saya rasa, dunia sedang menyaksikan sesuatu yang ironis: negara yang lahir dari pengusiran kini dikejar bayangan eksodus. Dan di antara angka, janji, dan promosi itu, ada keheningan panjang yang menandakan akhir dari sebuah kepercayaan. Israel tidak lagi magnet; ia menjadi peringatan bahwa ideologi, tanpa kemanusiaan, hanya akan menjadi monumen kosong yang dijaga oleh tentara dan disubsidi oleh insentif pajak.

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel Populer