Opini
Iran–Israel Ronde 2 di Depan Mata
Ada ironi yang terlalu telanjang untuk terus disembunyikan: sebuah negara yang hampir tak pernah berhenti berperang selalu mengklaim dirinya terancam. Israel hari ini berbicara tentang bahaya Iran dengan nada mendesak, seolah-olah ia adalah korban yang terpojok. Padahal jika kita mundur selangkah dan melihat peta kawasan, yang tampak justru sebaliknya. Palestina diserang tanpa henti, Suriah dihujani bom, Lebanon ditekan, Yaman disasar, dan kini Iran kembali diincar. Ini bukan refleks bertahan hidup. Ini kebiasaan menyerang.
Laporan The Cradle menyebut bahwa Netanyahu kembali mencari persetujuan Amerika Serikat untuk menyerang Iran, kali ini dengan target program misil. Bahasa yang digunakan terdengar teknis, bahkan sopan. Seolah ini sekadar urusan prosedur. Tapi di balik kalimat rapi itu, tersembunyi sebuah obsesi lama: dorongan untuk berperang lagi, meski perang sebelumnya belum benar-benar usai dan—yang lebih memalukan—meski hasilnya tidak memihak Israel.
Berkaca pada bentrokan sebelumnya dengan Iran, sebagaimana dicatat The Cradle, ada fakta yang jarang dibicarakan dengan jujur: Israel babak belur. Serangan balasan Iran bukan dongeng propaganda. Rudal dan drone diluncurkan dalam jumlah besar, menjangkau wilayah Israel, dan menelanjangi kelemahan yang selama ini ditutup-tutupi. Pertahanan yang digembar-gemborkan sebagai perisai mutlak ternyata bocor. Rasa aman yang dijual ke publik retak. Untuk sesaat, Israel merasakan bagaimana rasanya menjadi sasaran.
Ironisnya, pengalaman itu tidak melahirkan refleksi. Tidak ada tanda-tanda penyesalan strategis. Yang muncul justru keinginan untuk mencoba lagi. Seperti penjudi yang kalah besar tapi yakin putaran berikutnya akan menebus segalanya. Jika kalah kemarin, berarti kurang keras. Jika dihantam, berarti belum maksimal. Maka solusi yang ditawarkan bukan menurunkan tensi, melainkan menaikkannya.
Serangan balasan Iran kala itu, menurut The Cradle, dilakukan dengan perhitungan matang. Ini bukan amukan emosional. Ini demonstrasi kapasitas. Pesannya sederhana: Iran mampu membalas, mampu menembus, dan mampu membuat Israel tidak nyaman. Dunia melihat. Israel merasakan. Dan justru dari pengalaman itu, lahir rencana baru untuk menyerang program misil Iran—alat yang memungkinkan balasan semacam itu terjadi.
Di titik ini, narasi “ancaman Iran” mulai terdengar seperti lelucon pahit. Negara yang diserang berkali-kali disebut ancaman, sementara negara yang menyerang banyak pihak sekaligus disebut sedang membela diri. Logika semacam ini hanya masuk akal jika fakta disusun terbalik. Israel tidak sedang dikepung. Ia sedang menyerbu.
Perang Iran–Israel, jika dilihat dari pola ini, bukan konflik simetris. Iran bereaksi terhadap serangan, lalu menahan diri setelah menunjukkan kemampuan. Israel menyerang lebih dulu, membuka banyak front, lalu mengeluh ketika diserang balik. Ini seperti seseorang yang menyalakan api di banyak rumah tetangga, lalu berteriak panik ketika apinya merambat kembali.
Satirnya, Israel selalu tampil seolah-olah tidak punya pilihan. Seolah dunia memaksanya berperang. Padahal pilihannya selalu sama: menyerang. Bahkan ketika sudah kewalahan di satu front, ia membuka front lain. Palestina belum selesai, Suriah belum reda, Lebanon masih tegang, Yaman terus dibombardir—dan kini Iran kembali diancam. Jika ini bukan definisi agresor, maka kata itu kehilangan maknanya.
Peran Amerika Serikat dalam laporan The Cradle juga layak dicermati dengan nada sinis. Netanyahu mencari persetujuan Trump, seolah perang butuh stempel administrasi agar sah secara moral. Persetujuan itu bukan untuk mencegah perang, melainkan untuk memastikan bahwa perang berikutnya punya payung politik. Ini bukan diplomasi. Ini outsourcing legitimasi.
Yang menarik, setiap kali Israel kalah atau terpukul, narasi ancaman justru diperkeras. Kekalahan tidak dibaca sebagai sinyal bahaya, melainkan sebagai pembenaran eskalasi. Logika ini berbahaya karena menormalisasi kegagalan sebagai alasan untuk kekerasan lanjutan. Jika kalah hari ini, berarti harus menyerang lebih luas besok. Dalam siklus seperti ini, perang tidak pernah berakhir—ia hanya berganti target.
Saya rasa penting untuk mengatakan ini dengan gamblang: persoalan utama Timur Tengah hari ini bukan negara yang bereaksi terhadap serangan, melainkan negara yang terus memproduksi konflik. Iran mungkin punya masalah. Tapi Iran tidak menyerang lima wilayah sekaligus. Israel melakukannya. Iran tidak membuka front demi front secara bersamaan. Israel melakukannya. Iran tidak mengubah jeda perang menjadi persiapan perang berikutnya. Israel melakukannya.
Maka ketika Israel kembali mengancam Iran, sulit untuk melihatnya sebagai langkah defensif. Ini lebih menyerupai refleks lama: menyerang dulu, menjelaskan belakangan. Dan jika dunia terus menerima narasi ini tanpa kritik, maka agresi akan terus dinormalisasi. Hari ini Iran. Besok negara lain. Selalu ada musuh baru untuk menjaga mesin perang tetap hidup.
Perang Iran–Israel Ronde 2 di depan mata bukan karena kawasan ini kehabisan opsi damai, melainkan karena satu aktor terus menolak opsi tersebut. Israel tampaknya tidak kapok, tidak jera, dan tidak mau belajar. Kekalahan sebelumnya tidak mengajarkan kehati-hatian, justru memicu ngotot. Dan dalam sejarah konflik, sikap semacam ini jarang berakhir baik—bukan hanya bagi lawan, tetapi juga bagi pelakunya sendiri.
Penutupnya tidak perlu dramatis. Fakta sudah cukup keras. Jika sebuah negara menyerang banyak pihak sekaligus, kalah dalam bentrokan sebelumnya, namun tetap mempersiapkan serangan baru, maka kita tidak sedang menyaksikan upaya menjaga keamanan. Kita sedang menyaksikan agresi yang dipelihara. Dan selama agresi itu terus dibungkus sebagai pertahanan, Timur Tengah akan terus hidup di bawah bayang-bayang perang yang “menunggu momen untuk dimulai”.
Ronde 2 bukan sekadar kemungkinan. Ia adalah konsekuensi dari pilihan yang sama, diulang berkali-kali, sambil berharap hasilnya berbeda. Dan kita semua tahu, itu bukan strategi. Itu delusi.
