Connect with us

Opini

Iran, Barat, dan Irama Sanksi yang Absurd

Published

on

Cracked negotiation table with country flags and an almost empty hourglass, symbolizing the Iran nuclear talks stalemate

Langit diplomasi dunia hari ini seolah diselimuti kabut tebal penuh ironi. Di satu sisi, para pemimpin Barat kembali menepuk dada, menekan tombol “snapback” (sanksi) seolah memutar kaset lama yang sudah retak; di sisi lain, Iran menolak menyerah, menegakkan dagu, dan mengumandangkan kedaulatan seperti sebuah mantra. Kita menyaksikan drama lama yang diperbarui: Barat percaya sanksi bisa menundukkan semangat sebuah bangsa, sedangkan Teheran memandang setiap tekanan sebagai bahan bakar baru untuk membakar tekadnya. Saya rasa ini bukan sekadar tarik-menarik kebijakan, tetapi sebuah teater absurditas yang menyingkap kegagalan sistem global menepati janji.

Bayangkan saja, Washington menawarkan barter uranium yang nyaris terdengar seperti transaksi di pasar malam: serahkan seluruh stok yang telah dikerjakan bertahun-tahun, dan sebagai imbalan, dapatkan jeda sanksi selama tiga bulan. Bahkan Prancis konon hanya berani memberi satu bulan. Satu bulan! Kita semua tahu, bahkan cicilan motor di kampung bisa dinegosiasikan lebih panjang dari itu. Bagaimana mungkin sebuah negara menukar pilar kedaulatan dengan kupon diskon sementara? Proposal ini bukan diplomasi; ini semacam undangan untuk bunuh diri politik.

Donasi ke Vichara via Saweria

Dukung Vichara dengan berdonasi 💛

Iran, tentu saja, menolak. Presiden Masoud Pezeshkian menyebut tuntutan itu tak masuk akal, dan sulit bagi siapa pun untuk tak mengangguk. Ingat, ini negara yang sudah berkali-kali dikhianati oleh kesepakatan internasional. JCPOA 2015, yang dulu digadang-gadang sebagai tonggak perdamaian, dibatalkan sepihak oleh Amerika pada 2018. Lalu sekarang Barat kembali mengetuk pintu dengan wajah pura-pura tak berdosa, seolah masa lalu bisa dihapus begitu saja. Ironi macam apa ini?

Eropa—Prancis, Jerman, Inggris—yang dulu kerap berlagak sebagai “penengah waras,” kini justru memicu sanksi snapback sebelum tenggat 18 Oktober. Mereka tahu mekanisme itu dirancang agar tak bisa diveto Rusia atau Tiongkok. Maka dikebutlah prosesnya, seperti pedagang yang takut stok habis. Hasilnya, diplomasi hancur, kepercayaan runtuh, dan kredibilitas PBB ikut tercoreng. Jika aturan main internasional bisa diubah semaunya, mengapa negara lain harus percaya pada kontrak global? Bukankah ini pesan buruk bagi negara-negara berkembang, termasuk Indonesia, yang kerap diiming-imingi janji kesepakatan multilateral?

Iran pun merespons bukan hanya dengan retorika, tapi juga simbol. Mereka memanggil pulang duta besar dari tiga negara Eropa itu—sebuah tamparan diplomatik yang halus tapi jelas. Mereka juga menegaskan akan memperkuat poros non-Barat: BRICS, Shanghai Cooperation Organization, dan tentu saja mitra strategis seperti Rusia dan Tiongkok. Ini bukan gertakan. Kita tahu, sejak lama minyak Iran tetap mengalir ke Tiongkok, sementara drone dan rudal mereka menjadi amunisi penting Rusia di Ukraina. Sanksi memang menggigit, tapi Iran sudah lama mengasah gigi perlawanan.

Namun mari kita jujur: strategi Iran juga penuh paradoks. Mereka bersikukuh program nuklirnya damai, tetapi terus memperkaya uranium hingga 60%, hanya selangkah dari tingkat senjata. Mereka berkata tak akan membuat bom, tetapi menyiapkan semua peralatan untuk itu. Ini seperti tetangga yang bersumpah tak akan menyalakan kembang api, tapi setiap malam memamerkan petasan raksasa di teras. Dunia tentu resah. Dan Iran tahu ketakutan itu adalah kartu tawar paling efektif.

Barat pun tak lebih konsisten. Mereka mengaku ingin mencegah proliferasi senjata nuklir, tapi sejarah menunjukkan standar ganda. Israel, misalnya, tak pernah menandatangani Traktat Nonproliferasi Nuklir, namun tak pernah dicambuk sanksi setara Iran. Bahkan ketika Tel Aviv mengebom fasilitas nuklir Iran pada Juni lalu—serangan yang jelas melanggar hukum internasional—reaksi Barat sebatas kalimat klise: “kami khawatir.” Ironi ini menumpuk seperti debu di jendela PBB, menutupi cahaya akal sehat.

Saya rasa kita, di Indonesia, bisa merasakan getirnya. Bukankah kita juga sering menghadapi logika serupa di arena global? Ketika negara besar menuntut kepatuhan, mereka jarang menawarkan keadilan. Kita diundang ke meja makan, tapi hanya untuk menyaksikan mereka membagi kue di antara sesama. Iran mungkin jauh, tetapi pola relasi timpang ini terasa dekat.

Di sisi lain, sikap keras Iran bukan tanpa risiko. Ekonomi mereka sudah lama digerogoti inflasi, mata uang riyal terperosok, dan masyarakat sipil menanggung beban terberat. Pemerintah mem-branding semua sebagai “ekonomi perlawanan,” tapi rakyat kecil tetap harus menakar harga roti. Apakah kebanggaan nasional bisa terus mengenyangkan perut? Ini pertanyaan yang pelan-pelan akan menuntut jawaban di jalan-jalan Teheran.

Tetapi mari kembali pada Barat. Mereka menuduh Iran tak patuh kesepakatan, padahal mereka sendiri yang lebih dulu menginjak perjanjian. Trump mencabut JCPOA pada 2018, menyebutnya “the worst deal ever,” dan dunia kini memanen buah pahitnya. Kesepakatan yang bisa diputus sesuka hati tak lebih dari kertas kosong. Dan sekarang Eropa berharap Iran percaya pada janji tiga bulan? Betapa getirnya komedi ini.

Bagi Iran, setiap sanksi baru hanyalah bab lain dalam kisah panjang ketahanan. Mereka sudah pernah melewati embargo minyak, larangan perbankan, dan blokade teknologi. Mereka menemukan cara—dari barter lewat pelabuhan-pelabuhan kecil hingga kemitraan energi dengan Asia. Tentu bukan tanpa luka, tapi bukankah sejarah penuh contoh bangsa yang justru mengeras ketika dipukul? Di titik ini, sanksi lebih mirip karbit yang menyulut api nasionalisme.

Kita semua tahu, konflik ini tak akan selesai hanya dengan ancaman atau barter uranium. Selama Barat memegang standar ganda dan Iran menjadikan kedaulatan sebagai bendera suci, negosiasi akan seperti menimba air dengan keranjang. Yang lebih mengkhawatirkan adalah percikan yang bisa memicu perang besar. Serangan udara, proksi di Yaman, atau bahkan satu drone nyasar bisa menyulut bara yang lebih luas. Timur Tengah tidak kekurangan bahan bakar untuk meledak.

Akhirnya, kisah ini menyingkap kelemahan mendasar tatanan dunia: kekuatan besar menulis aturan, lalu menghapusnya ketika tak sesuai selera. Iran menolak tunduk, Barat menolak introspeksi. Hasilnya? Sebuah tarian sanksi dan perlawanan yang berulang seperti lagu usang. Kita mungkin hanya penonton jauh, tetapi pesan sinisnya sampai ke sini: jika hukum internasional bisa dilipat-lipat, siapa yang benar-benar aman?

Sumber:

1 Comment

1 Comment

  1. Pingback: Ketika Iran Menantang Dunia dengan Transparansi - vichara.id

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel Populer