Opini
Internet Bebas yang Kini Dikubur oleh Tangan Barat
Mungkin inilah ironi terbesar abad digital: internet yang dulu dijanjikan sebagai ruang kebebasan, kini berubah menjadi jerat kendali yang rapi, halus, dan disepakati bersama. Bukan oleh rezim otoriter seperti yang kita kira, tapi oleh negara-negara yang mengklaim diri sebagai kampiun demokrasi. Sementara rakyatnya, terbius oleh layar biru, rela menukar privasi demi kenyamanan, dan kebebasan demi ilusi keamanan. Begitu sunyi, begitu patuh.
Pavel Durov, pendiri Telegram, mungkin satu dari sedikit orang yang masih berani berteriak di tengah keheningan ini. Dalam pernyataan yang dirilis bertepatan dengan ulang tahunnya ke-41, ia memperingatkan dunia bahwa “kita sedang kehabisan waktu untuk menyelamatkan internet bebas yang dibangun oleh ayah kita.” Kata-kata itu terdengar seperti pesan dari masa depan—gelap, distopia, dan tak sepenuhnya fiktif. Ia menyebut Barat sedang meniru kebiasaan yang dulu mereka kutuk: pengawasan massal, sensor politik, dan penyusupan ke ruang pribadi dengan dalih moralitas digital.
Lihat Inggris, dengan proyek digital ID yang katanya demi efisiensi. Lihat Australia, dengan verifikasi usia wajib yang katanya demi melindungi anak-anak. Lihat Uni Eropa, yang kini hendak memindai setiap pesan pribadi lewat kebijakan Chat Control. Semua “katanya” itu terdengar indah, tapi ujungnya sama: kontrol. Manusia kini diawasi bukan karena bersalah, tapi karena bisa menjadi berbahaya—karena punya pikiran. Karena berani berbicara di luar skrip.
Kita sering mencibir China dengan sistem social credit-nya, tapi apa bedanya dengan algoritma Barat yang diam-diam memeringkat perilaku digital kita? Bedanya hanya soal gaya. Yang satu terang-terangan, yang satu elegan dan legal. Ketika Prancis menahan Durov tahun lalu atas tuduhan “terlibat dalam kejahatan digital,” ia menyebut kasus itu bermotif politik. Ia bahkan menuduh intelijen Prancis menekannya untuk menyensor konten konservatif di masa pemilu. Ironis bukan? Negara yang mengusung semboyan Liberté, Égalité, Fraternité justru melawan semangat yang ia gembar-gemborkan.
Saya rasa, ini bukan lagi tentang Telegram atau Durov. Ini soal siapa yang berhak mendefinisikan kebebasan di era digital. Ketika Barat berbicara tentang freedom of speech, yang mereka maksud sering kali adalah freedom to agree. Begitu seseorang bersuara di luar konsensus arus utama—tentang politik, perang, atau pandemi—maka algoritma bekerja: visibilitas menurun, akun ditangguhkan, narasi dibungkam atas nama “kebenaran resmi.” Semua dilakukan tanpa darah, tanpa jeruji, tapi tetap saja penjara. Hanya saja penjaranya kini berbentuk notifikasi “content removed.”
Inilah wajah baru sensor yang tak lagi datang dengan pentungan, melainkan dengan pembaruan kebijakan layanan. Bukan militer yang menakut-nakuti, tapi platform yang memoles kontrolnya dengan desain minimalis dan kalimat sopan: “Kami menghargai komunitas yang aman dan positif.” Aman bagi siapa? Positif menurut siapa? Pertanyaan-pertanyaan sederhana ini justru menjadi barang langka di dunia digital yang semakin menyerupai korporasi global tunggal—sebuah rezim yang memadukan kekuasaan politik dan ekonomi dalam bentuk paling lembutnya: teknologi.
Apa yang Durov sebut sebagai “jalan menuju kehancuran diri” bukan metafora kosong. Dunia digital kini berdiri di atas logika kapital dan kekuasaan. Privasi dijual, opini dikurasi, dan data pribadi dijadikan komoditas. Kita tidak lagi hidup di dunia yang “terhubung,” tapi di dunia yang “terkendali.” Dan kendali itu bekerja bukan lewat kekerasan, melainkan lewat persetujuan. Kita yang menekan “Accept All Cookies,” kita pula yang mengizinkan pintu rumah digital kita dibuka dari luar.
Bagi masyarakat di Indonesia, hal ini seharusnya menjadi refleksi serius. Kita yang sering menganggap Barat sebagai tolok ukur kebebasan kini perlu bertanya: apakah model digital mereka benar-benar bebas, atau justru bentuk baru penjajahan informasi? Bukankah kita juga sedang diarahkan ke arah yang sama dengan konsep Digital ID Nasional, Satu Data Indonesia, dan rencana regulasi konten digital yang semakin luas cakupannya? Sekali kontrol itu masuk, ia tak akan keluar. Seperti air merembes ke celah batu, ia mencari ruang terkecil untuk menetap.
Durov mengaku lebih memilih mati di penjara daripada mengkhianati prinsip Telegram. Kalimat itu mungkin terdengar melodramatis, tapi ia tahu apa yang sedang dihadapi. Ia bukan sedang menolak hukum, melainkan menolak hipokrisi. Ketika Barat menuduh Rusia dan Tiongkok sebagai ancaman bagi kebebasan, mereka lupa bahwa mereka sendiri sedang menciptakan mekanisme pengawasan yang sama, hanya dibungkus lebih canggih. Dunia kini seperti cermin retak: setiap sisi memantulkan wajah kebebasan, tapi di baliknya tersimpan ketakutan untuk kehilangan kendali.
Masalahnya, kita semua ikut menikmati proses ini. Kita menikmati keterhubungan, kemudahan, dan kecepatan, tapi enggan menanyakan harga yang kita bayar. Setiap foto yang diunggah, setiap pesan yang dikirim, setiap lokasi yang dibagikan—semua itu adalah potongan puzzle yang membentuk profil kita di mata sistem. Dan sistem itu, tanpa kita sadari, telah belajar mengenali kita lebih baik daripada diri kita sendiri.
Saya kadang berpikir, mungkin inilah bentuk kolonialisme baru: kolonialisme kesadaran. Jika dulu bangsa dijajah melalui senjata dan kapal perang, kini manusia dijajah lewat feed dan algoritma. Bukan lagi teritori yang direbut, melainkan persepsi. Tidak ada penjajah yang terlihat, tidak ada perang yang diumumkan, tapi kedaulatan kita perlahan diserahkan—sukarela.
Apa yang disebut Durov sebagai “internet bebas yang dibangun ayah kita” kini sekarat di tangan generasi yang terlalu sibuk menggulir layar. Kita menyaksikan matinya kebebasan dengan jempol, bukan dengan pedang. Kita membiarkan data pribadi dikurung dalam tembok korporasi global, sementara kita sibuk menghitung “engagement.” Dunia digital kini bukan ruang publik, melainkan pusat perbelanjaan yang diatur rapi oleh algoritma penjaga toko.
Di tengah semua itu, Telegram mungkin bukan penyelamat, tapi ia adalah bentuk perlawanan. Sekalipun kecil, ia mengingatkan bahwa internet masih bisa menjadi tempat berbicara tanpa takut. Durov bukan pahlawan tanpa cela, tapi setidaknya ia masih berani marah saat yang lain memilih diam. Dan di era di mana diam lebih aman, kemarahan seperti itu adalah bentuk keberanian paling langka.
Pada akhirnya, dunia digital yang sedang kita bangun hari ini akan menjadi warisan bagi generasi berikutnya. Apakah mereka akan mewarisi internet yang bebas, atau hanya kebun berpagar algoritma yang dijaga negara dan korporasi? Saya rasa jawabannya sudah mulai terlihat. Setiap kali kita berkata “tidak apa-apa” terhadap satu kebijakan pengawasan baru, satu bagian kecil dari kebebasan itu mati. Pelan, tanpa suara.
Dan mungkin, seperti kata Durov, kita benar-benar sedang kehabisan waktu.
