Connect with us

Opini

Inggris dan Bahaya Kerapuhan Sosial

Published

on

Ilustrasi editorial tentang kerapuhan sosial di Inggris: kota terlihat stabil, namun rumah-rumah dan jalanan menunjukkan retakan halus, simbol krisis biaya hidup.

Pagi di Inggris kini terasa seperti adegan yang diulang terlalu sering. Jalanan tetap rapi, kereta masih datang meski terlambat, kafe menyajikan kopi dengan harga yang makin berani. Dari luar, segalanya tampak normal. Bahkan stabil. Namun di balik jendela rumah petak, di balik dinding apartemen sewaan yang dingin, ada kegelisahan yang mengendap. Tagihan menumpuk seperti surat peringatan yang tak pernah benar-benar selesai dibaca. Orang bekerja, tetapi rasa aman menghilang. Inilah absurditas realitas Inggris hari ini: negara yang terlihat tenang, namun pelan-pelan retak dari dalam.

Saya rasa laporan Telegraph yang menjadi landasan tulisan ini tidak sekadar menyodorkan angka. Ia membuka tirai ironi yang selama ini ditutup dengan jargon “pemulihan” dan “stabilitas”. Di bawah pemerintahan Partai Buruh, menurut laporan tersebut, kelompok termiskin justru menjadi semakin miskin. Pendapatan disposabel mereka menyusut, sementara kelompok berada menikmati ruang belanja yang lebih longgar. Ini bukan anomali statistik. Ini gejala. Dan gejala itu bernama kerapuhan sosial—sebuah kondisi ketika kehidupan sehari-hari warga tak lagi sejalan dengan narasi negara tentang kemajuan.

Donasi ke Vichara via Saweria

Dukung Vichara dengan berdonasi 💛

Inggris dan bahaya kerapuhan sosial muncul justru ketika pemerintah merasa sudah berada di jalur yang benar. Anggaran dijaga, pasar diyakinkan, defisit dikontrol. Semua terdengar rasional. Namun rasionalitas fiskal sering kali terasa dingin ketika diterjemahkan ke meja makan keluarga pekerja. Apa artinya disiplin anggaran bagi mereka yang harus memilih antara memanaskan rumah atau mengisi kulkas? Apa makna stabilitas makro bagi penyewa yang tiap tahun menghadapi kenaikan sewa tanpa jaminan masa depan? Kita semua tahu jawabannya, meski jarang diucapkan dengan jujur.

Laporan itu menunjukkan penurunan pendapatan riil rumah tangga termiskin sekitar dua persen lebih. Angka kecil, kata sebagian ekonom. Tapi dalam kehidupan nyata, dua persen adalah hilangnya satu kali belanja mingguan, atau keputusan untuk tidak membeli jaket musim dingin baru bagi anak. Data menjadi pengalaman. Grafik berubah menjadi kecemasan. Di sinilah kritik harus dimulai: bukan pada besar kecilnya angka, melainkan pada efeknya yang nyata dan berlapis.

Ironinya, pemerintah yang mengusung janji keadilan sosial justru terjebak dalam logika yang lama. Upah minimum dinaikkan, iya. Bantuan sosial disesuaikan, sebagian. Namun di saat yang sama, biaya hidup—energi, sewa, makanan—bergerak lebih cepat. Seperti orang berlari di atas treadmill yang kecepatannya terus dinaikkan. Keringat bercucuran, tenaga habis, tapi jarak tak pernah bertambah. Inggris dan bahaya kerapuhan sosial tumbuh subur di ruang inilah: ruang antara niat baik kebijakan dan realitas ekonomi harian.

Ada kecenderungan untuk menyebut ini sebagai “fase transisi”. Kata yang terdengar teknokratis, hampir menenangkan. Padahal bagi banyak orang, transisi itu berarti hidup dalam ketidakpastian yang berkepanjangan. Kita berbicara tentang jutaan pekerja aktif—bukan pengangguran, bukan kelompok pinggiran—yang tetap harus mengandalkan bank makanan. Bekerja penuh waktu, namun tetap rapuh. Ini bukan kegagalan individu. Ini kegagalan sistem.

Saya rasa yang paling berbahaya bukan sekadar penurunan daya beli, melainkan efek psikologisnya. Ketika kerja keras tak lagi menjamin kestabilan, kontrak sosial mulai goyah. Orang berhenti percaya bahwa aturan main adil. Mereka mulai bertanya, dengan nada getir: untuk apa semua ini? Di titik ini, Inggris dan bahaya kerapuhan sosial beralih dari isu ekonomi menjadi krisis kepercayaan.

Sindiran halus sering terdengar di percakapan sehari-hari. Tentang pemerintah yang sibuk berbicara dengan pasar, tapi lupa berbicara dengan dapur rakyatnya. Tentang laporan resmi yang optimistis, sementara dompet kian tipis. Humor menjadi mekanisme bertahan, tapi juga tanda kelelahan kolektif. Kita tertawa, ya, tapi tawa itu pendek. Cepat hilang. Digantikan rasa jengkel yang tak sempat disalurkan.

Bahaya berikutnya adalah normalisasi. Ketika krisis berlangsung lama tanpa ledakan dramatis, ia dianggap biasa. Rumah dingin di musim dingin menjadi cerita umum. Menunda perawatan gigi anak bukan lagi hal memalukan. Di sinilah kerapuhan sosial menjadi permanen, mengendap dalam rutinitas. Negara tidak runtuh, tetapi masyarakatnya menyesuaikan diri dengan standar hidup yang lebih rendah. Inggris dan bahaya kerapuhan sosial hidup dari penyesuaian ini—sunyi, tapi efektif.

Kita sering lupa bahwa stabilitas sosial bukan produk sampingan dari angka-angka makro. Ia dibangun dari rasa aman sehari-hari. Dari keyakinan bahwa masa depan sedikit lebih baik dari hari ini. Ketika keyakinan itu hilang, ruang kosong segera diisi oleh kemarahan, sinisme, atau janji-janji politik yang sederhana namun berbahaya. Sejarah Eropa penuh dengan contoh bagaimana kekecewaan ekonomi menjelma menjadi radikalisasi politik. Inggris tidak kebal terhadap pola ini.

Laporan Telegraph itu, secara tidak langsung, juga mengingatkan bahwa kesenjangan yang melebar bukan sekadar soal keadilan, tetapi soal stabilitas. Ketika kelompok kaya semakin tahan banting, sementara kelompok miskin semakin rentan, struktur sosial menjadi timpang. Seperti bangunan tinggi dengan fondasi yang rapuh. Dari jauh tampak megah, tapi satu guncangan serius bisa membawa konsekuensi besar.

Saya tidak mengatakan Inggris berada di ambang kehancuran. Itu berlebihan. Namun menutup mata terhadap tanda-tanda kerapuhan juga bentuk kelalaian. Inggris dan bahaya kerapuhan sosial adalah peringatan dini. Tentang apa yang terjadi jika negara terlalu sibuk menjaga citra stabilitas, tapi lupa merawat keseharian warganya. Tentang bagaimana kemiskinan baru—yang bekerja, diam, dan jarang protes—bisa menjadi bom waktu sosial.

Di tingkat lokal, dampaknya terasa jelas. Dewan kota tertekan, layanan publik dipangkas, komunitas dipaksa saling menambal kekurangan. Solidaritas warga memang menghangatkan, tapi ia bukan solusi jangka panjang. Tidak adil jika beban kegagalan struktural dialihkan ke relawan dan organisasi amal. Negara tetap punya tanggung jawab utama. Menghindarinya dengan bahasa anggaran hanya memperdalam jurang ketidakpercayaan.

Menulis ini, saya sadar nada saya tidak netral. Dan memang tidak seharusnya netral. Karena netralitas di tengah ketimpangan sering kali berarti berpihak pada status quo. Kita perlu bersikap tegas: kebijakan yang menghasilkan stabilitas statistik tetapi menciptakan kerapuhan sosial adalah kebijakan yang cacat. Inggris dan bahaya kerapuhan sosial harus dibaca sebagai kritik, bukan sekadar deskripsi.

Penutupnya sederhana, meski tidak menenangkan. Jika tren ini dibiarkan, Inggris akan tetap berdiri sebagai negara kaya, dengan institusi kuat dan pasar yang relatif tenang. Namun di bawahnya, masyarakat yang rapuh akan terus bertambah. Dan negara dengan masyarakat rapuh tidak pernah benar-benar aman. Ia hanya menunggu waktu.

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel Populer