Opini
Homs Setelah Assad: Ketika Revolusi Menelan Anak Sendiri
Homs kembali berdarah. Kota yang dulu disebut “jantung Suriah” kini berdenyut lemah di antara dentum dendam lama dan desah ketakutan baru. Delapan nyawa melayang hanya dalam tiga hari—dua di antaranya perempuan. Tidak ada yang tahu siapa berikutnya. Semua orang tahu mengapa. Di balik setiap tembakan, ada sejarah panjang yang menolak selesai. Di balik setiap mayat, ada wajah baru dari kebencian lama.
Ironinya, perang telah berakhir. Setidaknya begitu dunia mengira. Bashar al-Assad tumbang, para pejuang yang dulu bersembunyi di reruntuhan Aleppo dan Homs kini memegang tampuk kekuasaan. Namun entah mengapa, kedamaian tetap terasa asing. Homs, yang seharusnya bernapas lega setelah belasan tahun dijadikan medan perang, justru kini kembali dicekik oleh kekerasan yang berulang—hanya saja pelakunya berganti seragam.
Laporan dari Syrian Observatory for Human Rights (SOHR) menyebut 359 orang tewas akibat kekerasan sektarian sejak awal tahun 2025. Sebagian dibunuh di jalanan, sebagian di rumah mereka sendiri. Tidak ada perang besar, tak ada tank di tengah kota, tak ada pernyataan darurat. Tapi darah tetap mengalir. Kali ini tanpa propaganda. Tanpa kamera. Hanya bunyi peluru dan bisik dendam yang tak sempat didengar dunia.
Saya rasa, inilah yang disebut tragedi dengan wajah tenang. Ketika sebuah revolusi menelan anak-anaknya sendiri, bukan dengan gempita, tapi dengan keheningan yang getir. Dulu, semua orang berteriak tentang kebebasan. Sekarang, orang-orang berbisik takut menyebut nama tetangga mereka. Dulu rezim dituduh menindas minoritas; kini rezim baru melanjutkannya dengan alasan yang sama: menjaga keamanan. Bedanya, kini tak ada yang mau menyebutnya penindasan.
Ahmad al-Sharaa, nama yang dulu hanya bergaung di forum-forum jihad lintas batas, kini duduk di kursi yang pernah diduduki Assad. Seorang mantan komandan lapangan Al-Qaeda yang kini memimpin negara yang porak-poranda akibat perang yang dulu ia kobarkan. Banyak yang berharap ia berubah, menjadi sosok moderat yang belajar dari masa lalu. Tapi sejarah jarang berubah hanya karena satu orang naik jabatan. Ideologi tak menua seperti manusia. Ia hidup lebih lama, menembus generasi, menularkan kebencian dengan wajah baru yang lebih berwibawa.
Kekerasan sektarian di Homs hari ini bukan kebetulan, dan bukan pula “tanda ketidakstabilan pasca-transisi” seperti yang ditulis para analis asing. Ia adalah konsekuensi logis dari kekuasaan yang berdiri di atas luka. Pemerintahan baru ini lahir dari bara perang mazhab. Dari ide tentang kesalehan yang diukur dengan keseragaman. Maka, tidak mengherankan bila perbedaan dianggap ancaman. Ketika agama dijadikan simbol kekuasaan, darah mudah sekali ditumpahkan atas nama Tuhan yang seharusnya Maha Penyayang.
SOHR menyebut ada pasangan suami istri dibunuh di Bab al-Darib, dan seorang pria Alawite ditembak saat berjualan di Wadi al-Dahab. Ini bukan sekadar statistik. Ini pesan. Pesan bahwa identitas masih menjadi vonis mati. Bahwa di Suriah, nama belakang dan mazhab masih menentukan hidup dan mati seseorang. Dan yang lebih menakutkan: semua ini terjadi di bawah pemerintahan yang mengaku telah membebaskan rakyat dari tirani.
Saya tak bisa berhenti berpikir: apa arti kemenangan bila hasilnya begini? Apa arti revolusi jika akhirnya hanya mengganti warna bendera pelaku kekerasan? Kita semua tahu, Suriah selama bertahun-tahun menjadi cermin dunia: di sana kita melihat bagaimana kebencian bisa disulap jadi ideologi, dan bagaimana ideologi bisa dijadikan alasan untuk membunuh. Kini, cermin itu retak lagi, dan pantulan yang muncul justru lebih gelap dari sebelumnya.
Homs adalah contoh paling telanjang dari kegagalan moral pasca-perang. Dulu kota ini dijuluki “ibu dari revolusi”. Sekarang, ia seperti ibu yang kehilangan semua anaknya—dikhianati oleh yang satu, dibunuh oleh yang lain. Setiap jalan menyimpan kenangan yang seharusnya menjadi pelajaran, tapi malah dijadikan alasan untuk membalas. Tidak ada yang benar-benar menang di Suriah, hanya giliran siapa yang menekan pelatuk.
Yang menarik, para pemimpin baru masih gemar mengulang kalimat lama: “Kami melawan tirani.” Kalimat itu dulu diarahkan pada Assad, kini dijadikan dalih untuk membungkam siapa pun yang mengkritik. Rezim boleh berganti, tapi logika kekuasaan tetap sama: siapa pun yang tak sejalan adalah musuh. Bahkan di pemerintahan yang mengaku “berasal dari rakyat”, rakyat tetap tidak punya suara.
Mungkin inilah bentuk baru dari kekerasan di Suriah—bukan ledakan besar yang mengguncang, tapi pembusukan perlahan dari dalam. Kekerasan yang tidak selalu terlihat, tapi terasa di udara: kecurigaan, ketakutan, dendam yang diwariskan. Negara baru ini belum lahir sepenuhnya; ia masih berupa gabungan dari milisi, kepentingan, dan rasa benci yang diberi lambang resmi.
Dan Homs? Ia hanya jadi panggung. Dari dulu kota itu adalah simbol: tempat revolusi dimulai, tempat kehancuran pertama kali disiarkan, dan kini tempat di mana kita belajar bahwa revolusi tanpa keadilan hanya melahirkan tirani baru.
Kita semua tahu rasa ingin membalas. Tapi membangun negeri di atas dendam sama saja dengan membangun rumah di atas kuburan. Cepat atau lambat, tanah akan retak. Orang bisa bicara tentang “transisi demokrasi” atau “negara pasca-konflik”, tapi selama pelaku kekerasan lama kini menjadi pejabat baru, semua itu tak lebih dari permainan kata.
Saya kira dunia juga ikut bersalah. Dunia terburu-buru menutup bab Suriah setelah Assad jatuh, seolah perubahan nama di pucuk kekuasaan otomatis menyembuhkan luka. Padahal luka sosial tidak mengenal masa jabatan. Ia menempel di setiap keluarga yang kehilangan, di setiap anak yang tumbuh tanpa ayah, di setiap perempuan yang memandikan jenazah saudaranya. Itulah yang kini meledak dalam bentuk kekerasan sektarian baru—bukan karena negara gagal mengendalikan, tapi karena negara itu sendiri lahir dari kekerasan.
Homs hari ini bukan kota mati, tapi kota yang menolak tenang. Jalan-jalannya penuh dengan cerita yang saling bertabrakan: antara mereka yang ingin melupakan, dan mereka yang tak diizinkan untuk hidup damai. Mungkin, di titik ini, Suriah tidak butuh pemimpin yang kuat atau pasukan yang disiplin. Suriah butuh keberanian untuk mengakui bahwa revolusinya telah berubah menjadi monster yang ia ciptakan sendiri.
Dan bila monster itu terus dibiarkan, ia akan menelan generasi berikutnya—tanpa perlu satu pun tank di jalan.
