Opini
Hizbullah dan Standar Ganda Dunia
Ada ironi yang terasa pengap di udara ketika para diplomat berbicara tentang “stabilitas” Lebanon di ruang-ruang konferensi Paris, sementara di waktu yang hampir bersamaan langit Lebanon selatan kembali disobek deru jet tempur Israel. Kita semua tahu ironi itu bukan hal baru. Namun setiap kali ia terulang, kegelisahan tetap datang seperti tamu tak diundang. Dunia internasional, dengan wajah serius dan bahasa rapi, kembali menuntut satu pihak: Hizbullah. Disarmament. Pelucutan senjata. Kata yang terdengar administratif, teknokratis, bahkan sopan. Padahal di baliknya, ada ancaman perang, tekanan politik, dan korban yang terus berjatuhan. Saya rasa, di sinilah absurditas itu mencapai puncaknya.
Dalam laporan the Cradle, disebutkan bahwa Prancis, Arab Saudi, dan Amerika Serikat bertemu dengan kepala Angkatan Bersenjata Lebanon untuk membahas upaya melucuti Hizbullah. Alasannya klasik: mencegah eskalasi, menjaga gencatan senjata, menciptakan stabilitas. Tapi angka-angka berbicara dengan cara yang lebih jujur. Setidaknya 3.768 warga Lebanon tewas akibat serangan Israel selama perang, dan 340 lainnya menyusul setelah gencatan senjata diteken. Gencatan senjata, tapi bom tetap jatuh. Di titik ini, kita patut bertanya: stabilitas versi siapa yang sedang dijaga?
Perlakuan dunia internasional atas Hizbullah selalu dibingkai dengan bahasa keamanan global. Hizbullah dilihat sebagai masalah, sebagai variabel yang harus dihapus agar persamaan kawasan menjadi rapi. Namun jarang sekali dunia internasional mau mengakui bahwa Hizbullah adalah gejala, bukan sekadar sebab. Ia lahir dari pendudukan, dari ketidakadilan yang berlangsung lama, dari negara yang tak mampu melindungi wilayah dan warganya. Tapi dalam diskursus internasional, konteks sering kali dianggap gangguan, bukan bagian dari cerita.
Yang lebih menggelitik—atau mungkin menyakitkan—adalah standar ganda yang nyaris telanjang. Hizbullah dituntut melucuti senjata demi keamanan. Israel, yang terus melanggar gencatan senjata dengan serangan udara rutin, tidak dituntut apa pun. Tidak ada tenggat waktu bagi Israel. Tidak ada ancaman sanksi. Tidak ada pertemuan darurat untuk “memverifikasi” pelanggaran Israel. Perlakuan dunia internasional atas Hizbullah menjadi cermin retak yang memantulkan wajah hipokrisi global.
Saya teringat analogi sederhana, yang dekat dengan pengalaman sehari-hari. Bayangkan sebuah kampung yang terus-menerus dilempari batu oleh preman dari luar. Warga membentuk ronda swadaya karena aparat datang terlambat, atau tidak datang sama sekali. Lalu suatu hari, aparat internasional datang dan berkata, “Ronda ini ilegal. Bubarkan. Demi ketertiban.” Sementara si pelempar batu dibiarkan bebas, bahkan diberi alasan. Kita semua tahu, di kampung mana pun, keputusan semacam itu hanya akan memicu ledakan konflik baru.
Dalam konteks Lebanon, Hizbullah bukan hanya organisasi bersenjata. Ia adalah aktor politik, sosial, dan simbol perlawanan bagi sebagian besar komunitas Syiah. Presiden Lebanon sendiri mengakui bahwa proses pelucutan senjata yang terlalu terbuka berisiko memicu ketegangan internal. Namun dunia internasional tampak tak sabar. Mereka mendorong Angkatan Bersenjata Lebanon ke posisi mustahil: melucuti Hizbullah atau menghadapi ancaman perang Israel. Ini bukan solusi, ini jebakan.
Perlakuan dunia internasional atas Hizbullah juga menunjukkan kecenderungan lama: memindahkan beban stabilitas kepada pihak yang lebih lemah. Israel mengebom, Lebanon diminta mengendalikan diri. Israel mengancam perang baru, Lebanon diminta “bertanggung jawab”. Hizbullah ditekan agar tidak membalas, dan ketika ia memang tidak membalas, itu tidak dianggap sebagai niat baik, melainkan sebagai tanda bahwa tekanan bisa ditingkatkan. Logika semacam ini tidak hanya cacat, tapi berbahaya.
Ada sindiran pahit dalam klaim bahwa pelucutan senjata Hizbullah bertujuan mencegah eskalasi. Faktanya, eskalasi terus terjadi justru saat proses itu dibicarakan. Bahkan, menurut pernyataan Ketua Parlemen Lebanon, serangan Israel adalah “pesan” untuk konferensi Paris. Dunia internasional menerima pesan itu, membacanya, lalu tetap melanjutkan rapat seolah-olah langit yang dibom tidak ada hubungannya dengan meja perundingan. Satir semacam ini terlalu nyata untuk ditertawakan.
Kata kunci utama dalam diskursus ini—perlakuan dunia internasional atas Hizbullah—muncul berulang karena memang di situlah inti masalahnya. Perlakuan ini tidak pernah netral. Ia sarat kepentingan geopolitik, aliansi militer, dan ketakutan lama terhadap setiap bentuk perlawanan bersenjata yang tidak berada di bawah kendali Barat. Hizbullah diperlakukan bukan sebagai bagian dari realitas Lebanon, melainkan sebagai gangguan yang harus dihapus demi kenyamanan regional versi Washington dan sekutunya.
Kita semua tahu, sejarah Timur Tengah penuh dengan contoh kebijakan semacam ini. Milisi dilucuti tanpa jaminan keamanan. Negara dilemahkan atas nama stabilitas. Rakyat diminta bersabar sambil menghitung korban. Hasilnya hampir selalu sama: kekosongan kekuasaan, konflik baru, dan lingkaran kekerasan yang lebih brutal. Mengapa dunia internasional tetap bersikeras mengulang pola yang sama di Lebanon?
Yang jarang dibicarakan adalah fakta bahwa Hizbullah, pasca-gencatan senjata, tidak melakukan pembalasan meski diserang. Ini seharusnya menjadi titik masuk bagi pendekatan politik yang lebih adil. Namun dalam kacamata dunia internasional, sikap menahan diri itu justru dibaca sebagai kelemahan. Perlakuan dunia internasional atas Hizbullah bergerak dengan logika kekuatan, bukan keadilan. Yang kuat boleh melanggar, yang ditekan harus patuh.
Sebagai pembaca dari Indonesia, konteks ini terasa relevan. Kita akrab dengan bahasa stabilitas yang sering dipakai untuk membenarkan ketidakadilan. Kita tahu bagaimana suara rakyat bisa diabaikan demi “keamanan nasional” versi elite. Karena itu, melihat Lebanon hari ini seperti bercermin pada pengalaman yang berbeda tapi serupa rasanya. Jauh di Timur Tengah, dekat di nurani.
Pada akhirnya, tulisan ini bukan pembelaan buta terhadap Hizbullah. Ini kritik terhadap dunia internasional yang gagal jujur pada dirinya sendiri. Perlakuan dunia internasional atas Hizbullah adalah potret dari tatanan global yang timpang, di mana hukum lentur bagi sekutu dan keras bagi yang menolak tunduk. Selama pendekatan ini tidak berubah, perdamaian hanya akan menjadi slogan, dan konferensi internasional tak lebih dari ritual kosong di tengah puing-puing.
Dan mungkin, yang paling getir, kita sudah tahu akhirnya. Lebanon akan terus ditekan. Hizbullah akan terus dijadikan kambing hitam. Israel akan terus diberi ruang. Dunia internasional akan terus berbicara tentang stabilitas, sambil menutup mata pada ketidakadilan yang mereka rawat sendiri. Ironis, ya. Tapi begitulah wajah dunia ketika standar ganda dijadikan kebijakan.
