Opini
Hamas, Rakyat Gaza, dan Narasi yang Dipelintir
Asap belum benar-benar hilang dari langit Gaza ketika berita itu datang: Hamas kembali patroli, jalan-jalan lebih tenang, dan warga mulai merasakan napas keamanan yang selama berbulan-bulan terasa mustahil. Namun alih-alih melihat kenyataan ini sebagaimana dirasakan rakyat Gaza, sebagian media Barat—salah satunya Wall Street Journal—lebih memilih kacamata sempit: Hamas sebagai “aktor keamanan” yang sekadar mengisi kekosongan. Rasanya ada absurditas yang sulit diabaikan. Bayangkan seseorang yang bertahan dari banjir bandang puluhan tahun lamanya, namun ketika ia berusaha menegakkan tenda untuk melindungi keluarganya, orang jauh di sana menganggap tindakannya hanya sebagai “pengelolaan ruang tidur sementara”. Reduksi yang menyakitkan itu terasa mirip dengan bagaimana WSJ mencoba menafsirkan realitas Gaza hari ini.
Saya rasa kita semua tahu, warga Gaza tidak tiba-tiba berubah menjadi pencari rasa aman yang apolitis. Mereka bukan masyarakat yang lupa sejarah penjajahan, lupa kubah rumah yang hancur, atau lupa suara ledakan yang merenggut seluruh generasi. Ketika dukungan terhadap Hamas meningkat—51 persen menurut survei terbaru—itu bukan semata karena policing atau patroli jalanan, tetapi karena sesuatu yang jauh lebih dalam: rasa bahwa ada pihak yang tetap berdiri melindungi tanah air, ketika yang lain memilih diam atau menutup mata. Dukungan ini bukan “fenomena keamanan”, tetapi manifestasi dari pengalaman kolektif. Dan itu, entah mengapa, tidak nyaman bagi narasi besar Washington.
Kalau WSJ mengatakan bahwa Hamas “kembali mendapat dukungan karena mampu mengurangi penjarahan”, pernyataan itu memang benar secara permukaan. Akan tetapi, seperti melihat permukaan air yang tenang tanpa menyadari badai di bawahnya. Fakta bahwa tingkat penjarahan turun dari 80 persen menjadi 5 persen—angka yang dilaporkan badan-badan PBB—tidak berdiri sendiri. Itu terjadi karena aparat yang kembali bekerja memiliki legitimasi dari perlawanan. Legitimasi yang tidak didapat dari pemilu formal, tetapi dari sejarah konflik yang tercecer di reruntuhan bangunan, dari darah orang-orang yang tidak kembali ke rumah, dari pengalaman menjadi korban.
Maka ketika media seperti WSJ menyajikan Hamas hanya sebagai “penjaga ketertiban”, ada yang terasa janggal. Seperti mengomentari badai tanpa menyebut angin. Mengulas api tanpa menyebut panas. Ada upaya untuk mencabut Hamas dari akar sosial-politiknya, seolah kelompok ini muncul karena chaos semata, bukan karena penjajahan yang konsisten membentuk wajah Gaza selama puluhan tahun. Saya tidak mengatakan WSJ “menyembunyikan” fakta itu secara sengaja; lebih tepatnya, mereka memerangkap diri dalam lensa kebijakan luar negeri AS yang sejak awal memang menolak melihat Hamas sebagai representasi politik rakyat.
Kalau dipikir-pikir, menampilkan Hamas sebagai “kelompok keamanan” memang lebih aman secara naratif. Dengan begitu, dukungan rakyat Gaza bisa direduksi menjadi respons instingtif terhadap keteraturan. Sesuatu yang bisa berakhir kapan pun jika ada kelompok baru yang menawarkan stabilitas. Narasi ini sangat berguna bagi Washington, yang tengah mendorong rencana besar rekayasa politik pascaperang: dari pasukan internasional, hingga perlucutan senjata yang disebut-sebut sebagai “fase kedua”. Narasi alternatif—bahwa Hamas didukung karena menjadi garis depan melawan pendudukan—akan menghancurkan seluruh rancangan itu.
Tetapi realitas tidak tunduk pada kepentingan geopolitik. Warga Gaza yang diwawancarai WSJ mengatakan hal yang jelas: “Bahkan yang tidak mendukung Hamas, tetap ingin keamanan.” Namun kalimat itu punya lapisan makna yang gagal dibaca WSJ. Keamanan dari siapa? Dari tentara pendudukan. Dari kelompok kriminal yang muncul karena negara dihancurkan. Dari kekosongan yang diciptakan perang. Dan siapa yang menghadapi itu sejak awal? Hamas. Bukan pasukan internasional. Bukan Otoritas Palestina. Bukan AS. Jadi ketika warga menyambut patroli Hamas, itu bukan “dukungan teknis”. Itu bentuk pengakuan terhadap satu-satunya aktor yang tetap berada di sisi mereka.
Saya pikir publik Indonesia mudah memahami dinamika ini. Kita punya sejarah panjang perlawanan terhadap kolonialisme; kita tahu bahwa kelompok perlawanan bukan hanya pejuang bersenjata, tetapi sekaligus penyelenggara hidup sosial. Dari menyediakan pangan, memelihara jaringan komunikasi, hingga menjaga keamanan kampung. Hamas berada dalam tradisi itu—tradisi di mana keamanan dan perlawanan tidak pernah bisa dipisahkan. Keamanan tanpa perlawanan hanyalah penjagaan toko; perlawanan tanpa keamanan hanyalah kemarahan tanpa arah. Kombinasi keduanya lah yang memberi Hamas tempat di hati banyak warga Gaza.
Menariknya lagi, data yang diangkat WSJ sendiri justru membantah narasi yang hendak mereka bangun. Kalau Hamas benar-benar “menyusut”, sebagaimana klaim berulang pejabat Israel, bagaimana mungkin dukungan meningkat beberapa bulan setelah perang paling brutal dalam sejarah Gaza? Bagaimana mungkin kelompok yang “hancur” justru mampu menjalankan patroli yang efektif, mengurangi kriminalitas, dan memulihkan ketertiban publik? Kalau realitas ini membuat para analis Washington kebingungan, itu bukan salah data. Itu salah asumsi mereka sendiri.
Saya teringat ungkapan seorang warga yang dikutip WSJ: “Hamas tidak akan hilang besok.” Sederhana, tapi telak. Pernyataan itu, tanpa retorika muluk, menampar seluruh upaya untuk memaksakan peta politik baru Gaza tanpa mempertimbangkan realitas sosialnya. Ini bukan soal suka-tidak suka. Ini soal fakta keras bahwa Hamas, dengan segala kompleksitasnya, adalah bagian dari identitas politik Gaza. Sama seperti sungai yang membentuk lembah di sekitarnya, perlawanan membentuk Gaza lebih kuat daripada intervensi apa pun dari luar.
Karena itu, analisis tajam justru mengarah pada kesimpulan bahwa framing WSJ lebih mencerminkan bias politik negara asal mereka ketimbang realitas di lapangan. Dengan memotong dimensi perlawanan dan hanya menyisakan label “keamanan lokal”, mereka tidak sekadar menyederhanakan, tetapi mereduksi. Mengerdilkan. Narasi seperti ini—meski mungkin tidak dibuat untuk menipu—berfungsi menutupi makna paling penting: bahwa rakyat Gaza mendukung Hamas karena melihatnya sebagai pembela tanah air, pembawa martabat, bukan sekadar penjaga malam.
Ketika semua ini dirangkai, kita melihat ironi besar: media yang mengklaim objektivitas justru mengabaikan realitas moral paling mendasar. Bahwa dukungan terhadap perlawanan selalu lahir dari pengalaman hidup, bukan dari narasi lembaga think tank di Washington. Saya kira, siapa pun yang pernah merasa tanahnya dirampas, atau keluarganya diperlakukan sebagai angka statistik, akan memahami mengapa dukungan terhadap Hamas bukan sekadar pilihan politik, tetapi insting mempertahankan eksistensi.
Pada akhirnya, saya menemukan satu simpulan yang tak bisa dihindari: selama media seperti WSJ tetap menolak melihat Hamas melalui kacamata rakyat Gaza sendiri, mereka akan terus gagal memahami mengapa setiap rencana untuk “menyingkirkan Hamas” berulang kali runtuh. Gaza bukan ruang eksperimen geopolitik. Gaza adalah rumah bagi jutaan manusia yang tahu siapa yang berdiri bersama mereka ketika dunia berpaling.
Dan selama kenyataan itu masih ada, dukungan itu akan tetap tumbuh. Karena perlawanan, pada momen tertentu dalam sejarah, bukan sekadar pilihan. Ia adalah cara bertahan hidup.
