Opini
Hamas Bertahan, IDF Kelabakan di Gaza
Ketika malam Gaza hanya diterangi sisa-sisa nyala api dari gedung yang runtuh, dunia terdiam, tapi detak perlawanan tetap bergema. Saya rasa, di situlah ironi paling pahit: kota yang seharusnya sudah hancur jadi puing sejak lama, justru melahirkan ketahanan yang sulit dijelaskan oleh hitung-hitungan senjata. Hampir dua tahun bombardir tanpa henti, namun Hamas masih menembakkan roket, masih menyergap patroli, masih membuat pasukan yang disebut paling canggih di dunia kehilangan arah. Apa yang lebih menggelisahkan dari fakta itu selain kenyataan bahwa teknologi tak selalu menjamin kemenangan?
Kita semua tahu, zionis mengandalkan IDF (tantara Israel) dengan reputasi menakutkan: jet tempur mutakhir, drone pemburu, sistem pertahanan Iron Dome, intelijen yang konon setajam jarum. Namun laporan-laporan terbaru justru menyingkap absurditas yang membuat kita terdiam. IDF menanggung kerugian besar di setiap operasi darat. Satuan elite mereka yang dibanggakan sering tersandung di jebakan terowongan, dihantam serangan mendadak, bahkan kehilangan moral. Angka korban prajuritnya, menurut laporan itu, lebih dari sekadar statistik; ia adalah bukti bahwa perang modern tidak sekadar soal perangkat keras.
Mengapa Hamas bisa bertahan? Jawaban sederhananya: akar. Mereka bukan sekadar milisi bersenjata; mereka bagian dari tanah yang diinjak. Terowongan yang mereka gali bukan hanya labirin fisik, tapi juga metafora tentang kesabaran yang menembus lapisan sejarah. Mereka hidup di bawah tanah ketika langit menjadi musuh. Mereka menyimpan amunisi di celah-celah kehidupan sipil, bukan karena kejam, tetapi karena hanya itu satu-satunya cara untuk tetap bertahan. Di mata banyak orang, strategi ini adalah keputusasaan; bagi Hamas, ia adalah kehidupan.
Saya rasa ada hal lain yang lebih menohok: dukungan masyarakat Gaza yang tak pernah padam. Kita bicara tentang penduduk yang kehilangan rumah, keluarga, bahkan masa depan, tetapi tetap memberi tempat bagi para pejuang. Mereka menganggap Hamas bukan sekadar kelompok bersenjata, melainkan pelindung, meski harga yang dibayar adalah darah mereka sendiri. Di kampung-kampung Indonesia, kita mungkin sulit membayangkan: bagaimana jika tetangga yang kehilangan segalanya masih menyiapkan makanan untuk mereka yang membawa senjata? Namun itulah realitas Gaza, tempat di mana penderitaan justru mematri solidaritas.
Dan di sinilah IDF kelabakan. Mereka memasuki medan perang yang tak pernah mereka kuasai. Gaza bukan sekadar peta di satelit; ia adalah labirin yang bernyawa. Setiap gang kecil menyimpan kejutan, setiap rumah berpotensi jadi benteng, setiap terowongan adalah jalan rahasia. Teknologi canggih mereka justru jadi beban: drone tak mampu menembus bumi, tank tak bisa menyusuri lorong sempit. Mereka seperti raksasa yang tersesat di hutan bambu.
Kelelahan prajurit Israel makin nyata. Laporan menyebut gelombang pasukan yang diminta masuk lagi setelah rotasi singkat, mental mereka terkikis. Mereka datang dengan keyakinan bisa menyelesaikan operasi dalam hitungan minggu, kini terjebak dalam perang gerilya yang tak kenal akhir. Kita semua tahu, perang panjang bukan sekadar duel senjata, tapi adu ketahanan jiwa. Di sinilah Hamas menang angka: mereka berperang di rumah sendiri, untuk alasan yang mereka yakini sakral. Sementara tentara zionis? Mereka hanya menunaikan perintah, dan pulang dengan trauma.
Ironi lain: dukungan politik untuk Israel di dalam negerinya sendiri mulai retak. Demonstrasi, kritik kebijakan, tekanan ekonomi. Semakin keras mereka menggempur Gaza, semakin rapuh fondasi kekuasaan Netanyahu. Dunia pun mulai jengah. PBB sudah menyebut kata yang paling ditakuti: genosida. Sementara laporan lapangan menunjukkan Hamas bukan hanya bertahan, mereka masih menyerang. Artinya apa? Artinya semua klaim āoperasi selesaiā dari Tel Aviv hanyalah ilusi yang dipasarkan ke publik.
Saya rasa kita, yang hidup di Indonesia, bisa belajar banyak. Kita tahu apa arti mempertahankan rumah ketika semua serba timpang. Ingatlah kisah-kisah perjuangan lokal: dari gerilya di hutan Sumatra hingga perlawanan rakyat di Surabaya. Senjata boleh kalah canggih, tapi siapa yang punya akar, dia yang bertahan. Hamas mempraktikkan pelajaran itu dengan brutal namun konsisten. IDF, dengan seluruh kehebatannya, justru terjebak dalam keangkuhan teknologiāsebuah kesombongan yang membuat mereka lupa bahwa medan perang bukan laboratorium.
Bagi saya, ini bukan glorifikasi kekerasan. Ini tentang memahami logika perang yang tak bisa diputus hanya dengan bom. Hamas masih bisa bertahan karena mereka bukan sekadar pasukan; mereka adalah cerminan keputusasaan sekaligus keberanian sebuah bangsa. Dan IDF kelabakan bukan karena kurang senjata, tetapi karena mereka menghadapi lawan yang tak bisa diukur dengan angka.
Ketika dunia menonton, Gaza mengajarkan satu pelajaran keras: kekuatan bukan soal mesin, melainkan soal tekad. Teknologi canggih yang dielu-elukan hanya bising di atas tanah. Di bawah sana, di kegelapan terowongan, perlawanan menemukan cara untuk tetap bernyawa. Dan selama akar itu tidak tercabut, selama tanah itu masih menyimpan nyala keyakinan, IDF akan terus berhadapan dengan musuh yang tak bisa mereka hancurkan sepenuhnya.
Perang di Gaza hari ini adalah cermin bagi kita semua. Cermin bahwa kekuasaan tanpa nurani akan selalu goyah. Cermin bahwa orang yang bertarung untuk rumahnya akan melampaui logika. Saya rasa, ketika kita menyebut kata āgenosida,ā kita tak sekadar menyebut kejahatan, tapi juga pengakuan: bahwa ada yang ingin melenyapkan satu bangsa, namun gagal, karena tekad tak bisa dibom.
Dan itu, lebih dari apapun, adalah ironi paling getir bagi zionis. Mereka mengira kekuatan absolut bisa menutup sejarah. Ternyata, sejarah selalu menemukan jalan pulang.
Sumber:

Pingback: Ultimatum Gaza: Menyerah atau Mati di Tangan Israel
Pingback: Strategi Hamas Gagalkan Ancaman Politik Trump
Pingback: Dua Tahun Badai al-Aqsa: Runtuhnya Mitos Zionis
Pingback: Brigade Al-Qassam: Tak Ada Kata Menyerah di Rafah