Opini
Genosida Gaza: Bukti Terang, Dunia Tetap Diam
Malam di Gaza lebih gelap dari gulita listrik padam di kampung-kampung kita. Tapi ini bukan sekadar mati lampu. Ini pekat yang menelan rumah, keluarga, dan suara. Di layar televisi, saya melihat bayangan anak-anak berlari dengan langkah yang nyaris tak terdengar—seperti video lama yang diulang-ulang. Lalu datang kabar: Komisi Penyelidikan PBB menyatakan apa yang sudah kita tahu sejak lama. Genosida Gaza. Dunia pun—apa lagi—menghela napas panjang, lalu mengecek notifikasi ponsel.
Saya rasa kita semua tahu pola lama ini. Satu laporan tebal, penuh data dan terminologi hukum. Empat dari lima unsur genosida tercentang rapi: pembunuhan massal, penderitaan serius, kondisi hidup yang sengaja mematikan, pencegahan kelahiran. Bukti? Tumpukan yang menyesakkan: delapan puluh tiga persen korban adalah warga sipil; ratusan meninggal kelaparan. Tapi, seperti tumpukan chat di grup keluarga, laporan itu hanya dibaca sepintas lalu, di-scroll, lalu dilupakan.
Ironi pahitnya: istilah “genosida Gaza” yang mestinya memukul telinga, kini terdengar seperti kata promosi diskon. Diumumkan, ditandatangani, lalu… apa? Para pemimpin dunia kembali menyesap kopi. Sanksi? Paling banter nada diplomatik yang hangat-hangat kuku. Ini bukan cuma kejahatan; ini komedi gelap di panggung global. Sebuah drama di mana pemeran utamanya menderita sungguhan, sementara penonton memilih angle terbaik untuk unggahan media sosial.
Israel menolak laporan itu, tentu saja. Mereka menyebutnya “cherry-picked,” seolah nyawa yang hilang adalah buah ceri yang bisa dipetik sesuka hati. Kita yang menonton pun nyaris terbiasa dengan skenario ini. Bantahan, konferensi pers, pernyataan “kami hanya melindungi diri.” Padahal, bahkan LSM Israel seperti B’Tselem dan Physicians for Human Rights sudah lama berteriak: ini genosida. Tapi ya, siapa yang peduli jika pekik kebenaran tenggelam oleh riuh pasar saham dan debat pemilu Amerika.
Saya teringat warung kopi pinggir jalan di Bekasi, tempat gosip politik lebih cepat dari berita televisi. Di sana, istilah “genosida Gaza” sering muncul seperti obrolan sepak bola. Semua sepakat, semua marah. Tapi setelah itu? Kita kembali ke rutinitas, membayar parkir, mengejar angkot. Dunia pun sama. Semua sepakat di ruang sidang PBB bahwa ini mengerikan. Lalu mereka pulang, makan malam, dan menandatangani kontrak dagang baru.
Konvensi Genosida 1948 jelas-jelas menuntut negara penandatangan untuk mencegah dan menghukum. Tapi janji itu kini seperti papan pengumuman yang pudar catnya. Amerika, Eropa, bahkan negara-negara Teluk—semua punya alasan rapi: geopolitik, perdagangan senjata, kepentingan regional. Mereka memelihara status quo dengan lihai, seperti pedagang yang tahu kapan menahan stok barang untuk harga lebih mahal. Sementara itu, di Gaza, stok nyawa terus menipis.
Saya tidak menutup mata terhadap rumitnya konflik. Hamas, roket, sejarah panjang pendudukan. Kita tahu. Tapi mari jujur: itu bukan lisensi untuk merobohkan rumah sakit, mengunci jalur bantuan, dan menyalakan mesin kelaparan. Ketika kelaparan dijadikan senjata, itu bukan perang; itu penyiksaan. Dan ketika dunia membiarkannya, kita semua menjadi kaki tangan dalam diam.
Bagi warga Gaza, pengakuan PBB adalah secarik kertas yang memvalidasi penderitaan. Sebuah stempel bahwa rasa sakit mereka nyata, bukan sekadar “dampak sampingan.” Tapi apa gunanya stempel tanpa tindakan? Bayangkan Anda melapor ke RT soal kebakaran rumah, dan jawaban yang Anda dapat hanya: “Iya, kami catat.” Api tetap berkobar, catatan tetap rapi.
Kita di Indonesia sering bangga dengan sejarah dukungan untuk Palestina. Kita bawa bendera di stadion, kita adakan penggalangan dana. Semua itu baik, perlu, dan mulia. Tapi saya rasa kita bisa lebih. Tekanan diplomatik, larangan dagang senjata, dorongan ke Mahkamah Internasional—itu semua bisa dilakukan. Jika tidak, solidaritas kita hanya jadi poster yang menempel di dinding ruang tamu, menguning oleh waktu.
Lihatlah dunia digital hari ini. Setiap serangan ke Gaza mungkin hanya dua swipe dari video kucing lucu. Sungguh paradoks: tragedi berabad-abad dibungkus jadi konten lima belas detik. Kita menyukai, berkomentar “😭💔”, lalu lanjut menonton resep kopi dalgona. Inilah absurditas zaman: kesedihan jadi hiburan, kejahatan jadi statistik, dan kata “genosida Gaza” bergaung seperti nada dering lama yang tak lagi membuat kita menoleh.
Saya kadang berpikir, mungkin inilah cara dunia modern melindungi dirinya dari rasa bersalah. Dengan humor, dengan jarak, dengan algoritma. Tapi sejarah tidak akan menertawakan kita. Sejarah akan mencatat siapa yang diam ketika bukti sudah terang. Dan catatan sejarah tidak bisa dihapus seperti status Facebook.
Mungkin Anda bertanya, apa yang bisa kita lakukan? Banyak, meski tak sespektakuler yang kita bayangkan. Dukung organisasi kemanusiaan yang kredibel. Tekan wakil rakyat agar tak hanya berkicau soal kemanusiaan. Bantu sebarkan data yang benar—bukan hoaks—agar argumen tak mudah dipatahkan. Tindakan kecil, ya. Tapi lebih berarti daripada sekadar emoji sedih di kolom komentar.
Kita tak bisa lagi berpura-pura buta. Bukti sudah menumpuk. Laporan PBB jelas. Mahkamah Internasional sudah mengeluarkan perintah sementara. Namun tanpa keberanian politik, itu semua seperti hujan di musim kemarau: terdengar, tapi tak menyuburkan. Genosida Gaza bukan dongeng yang bisa diakhiri dengan kalimat “dan mereka hidup bahagia selamanya.” Ini kenyataan yang menuntut kita untuk, minimal, tidak berpaling.
Saya menulis ini dengan perasaan campur aduk—marah, muak, tapi juga berharap. Marah karena dunia memilih kenyamanan ketimbang keberanian. Muak karena nyawa menjadi angka dalam tabel. Tapi berharap, karena laporan ini setidaknya menyalakan kembali lampu perlawanan, sekecil apa pun cahayanya. Kita hanya perlu menjaga agar lampu itu tidak padam di tengah hembusan angin apatis.
Mungkin sejarah akan menilai kita dengan kejam. Atau mungkin, dengan sedikit keberanian, kita bisa memaksa dunia untuk bertindak. Sanksi nyata, jalur bantuan terbuka, pengadilan bagi pelaku. Semua itu bukan utopia, hanya butuh kemauan. Kita tak boleh menunggu sampai kata “genosida Gaza” hanya menjadi catatan kaki di buku pelajaran, dibaca anak-anak kita sambil bertanya: “Kenapa kalian diam waktu itu?”
