Connect with us

Opini

Gencatan Senjata yang Mati Sebelum Bernapas

Published

on

Ilustrasi editorial menggambarkan gencatan senjata Gaza yang dilanggar Israel, kain putih terbakar di tengah puing-puing kota.

Langit Gaza belum sempat pulih dari abu, tapi dentuman itu sudah kembali. Bau mesiu belum benar-benar hilang dari udara ketika drone Israel kembali melintas, menandai berakhirnya sebuah “perdamaian” yang bahkan tak sempat berumur seminggu. Dunia baru saja menarik napas lega—atau pura-pura lega—saat perjanjian gencatan senjata diumumkan. Namun, seperti yang sudah berkali-kali terjadi, janji itu ternyata hanya kalimat kosong di atas puing-puing. Israel kembali menembak, dan tujuh orang Palestina kembali mati.

Kita semua tahu pola ini. Gencatan senjata diumumkan dengan gegap gempita, disambut doa dan air mata, tapi tak sampai hitungan hari, bom pertama jatuh lagi. Israel selalu punya alasan, dan kali ini alasannya nyaris absurd: Hamas belum menyerahkan jenazah sandera. Seolah Gaza punya kemampuan ajaib untuk menggali di bawah lima puluh juta ton reruntuhan tanpa alat berat, tanpa bahan bakar, tanpa listrik, tanpa apa pun selain tangan telanjang dan rasa kehilangan. Ironisnya, reruntuhan itu pun hasil serangan Israel sendiri.

Donasi ke Vichara via Saweria

Dukung Vichara dengan berdonasi 💛

Saya rasa, tidak ada negara lain di dunia yang begitu pandai memainkan peran korban sekaligus pelaku seperti Israel. Ketika mengebom, ia berkata sedang “membela diri.” Ketika memblokade bantuan, ia menyebut sedang “menekan terorisme.” Ketika menunda truk bantuan kemanusiaan di perbatasan Rafah, ia berkilah “Hamas belum kooperatif.” Alasan yang dipoles rapi dengan diplomasi, tapi tak bisa menutupi fakta sederhana: Israel melanggar gencatan senjata hanya beberapa hari setelah menandatanganinya.

Reuters melaporkan bahwa Israel menunda pembukaan perbatasan dan menahan ratusan truk bantuan yang seharusnya masuk setiap hari. Mereka mengaitkan keputusan itu dengan jenazah para sandera yang belum diserahkan. Tapi bagaimana mungkin jenazah bisa ditemukan di kota yang telah dihancurkan hingga tak bersisa? Gaza kini tak lebih dari lautan puing. Ribuan orang masih terkubur di bawah reruntuhan, dan alat berat untuk mengangkatnya justru dilarang masuk oleh pihak yang sama yang menuntut jenazah itu ditemukan. Rasanya seperti menuduh seseorang mencuri, lalu mematahkan kakinya sebelum menyuruhnya mengejar pencuri itu.

Di sisi lain, laporan Al Mayadeen memperlihatkan sisi yang lebih kelam. Gencatan senjata yang baru saja disepakati telah dilanggar dengan serangan drone dan tembakan artileri. Tujuh orang meninggal, beberapa lainnya terluka, termasuk mereka yang baru saja kembali ke rumah—atau setidaknya ke tempat yang dulu pernah disebut rumah. Serangan itu menghantam wilayah-wilayah yang disebut “aman,” wilayah yang seharusnya berada di luar zona konflik. Tapi di Gaza, tak ada yang benar-benar aman. Bahkan jeda perang pun bisa menjadi perang baru.

Inilah ironi gencatan senjata versi Israel: berhenti menembak untuk sementara waktu, lalu menembak lagi sambil menyalahkan korban. Dunia pun menatap dengan wajah datar. PBB menyerukan “penyelidikan,” Uni Eropa mengungkap “keprihatinan,” dan Washington seperti biasa berbicara tentang “hak membela diri.” Sementara itu, di Gaza, seorang anak menatap langit yang belum sempat biru. Ia tahu, dalam beberapa jam, suara pesawat tanpa awak akan kembali menggema.

Saya sering berpikir, apa makna kata “gencatan senjata” di kamus Israel? Karena dalam praktiknya, istilah itu selalu berarti satu hal: jeda untuk mengatur ulang peluru. Begitu gencatan diumumkan, Israel menilai ulang posisi, memperbaiki logistik, mengisi ulang persenjataan, lalu kembali mengebom. Dunia melihatnya sebagai pelanggaran, tapi bagi Israel, itu bagian dari rutinitas. Mereka tahu, tidak akan ada konsekuensi nyata. Amerika akan tetap mengirim senjata, Eropa akan tetap berdagang, dan media arus utama akan tetap menulis dengan bahasa “seimbang”—padahal keseimbangannya selalu berat sebelah.

Israel tahu bahwa waktu adalah senjata. Setiap hari tambahan dalam blokade berarti Gaza semakin lemah. Setiap truk bantuan yang tertahan berarti lebih banyak anak yang mati kelaparan. Mereka tidak butuh bom untuk membunuh; birokrasi saja cukup. Maka alasan “Hamas belum menyerahkan jenazah sandera” hanyalah bungkus retoris untuk melanjutkan kebijakan penghukuman kolektif. Dunia mendengarnya sebagai kalimat administratif, tapi rakyat Gaza merasakannya sebagai hukuman mati perlahan-lahan.

Yang paling menyakitkan mungkin bukan hanya karena gencatan senjata ini dilanggar begitu cepat, tapi karena kita semua sudah tahu itu akan terjadi. Tidak ada yang terkejut. Bahkan sebelum tinta kesepakatan itu kering, semua orang tahu: Israel akan mencari alasan. Mereka selalu menemukannya. Tahun 2014, alasan mereka adalah “terowongan Hamas.” Tahun 2021, “roket dari Gaza.” Tahun 2023, “keamanan nasional.” Tahun 2025 ini, giliran “jenazah sandera.” Mungkin tahun depan alasannya akan lebih konyol lagi. Tapi hasilnya selalu sama: Gaza hancur, dunia diam.

Kita sering lupa bahwa di balik istilah teknis seperti “serangan drone” atau “pelanggaran gencatan senjata,” ada tubuh-tubuh manusia. Ada seorang ibu yang menjemur pakaian di reruntuhan rumah, lalu serpihan logam menembus dadanya. Ada anak-anak yang sedang mencari air, lalu suara mesin di langit membuat mereka berlari tanpa arah. Tujuh orang mati hari ini, mungkin dua puluh besok, seratus lusa. Dan setiap kali angka itu muncul di berita, dunia membacanya seperti membaca laporan cuaca.

Bagi saya, pelanggaran gencatan senjata ini bukan sekadar pelanggaran kesepakatan politik. Ia adalah bentuk penghinaan terhadap kemanusiaan itu sendiri. Israel tidak hanya menembak manusia, tetapi juga menembak makna kata “damai.” Dan yang lebih tragis, dunia seolah sudah terbiasa melihat kedamaian ditembak mati berulang kali.

Saya rasa, kita di Indonesia juga punya cermin kecil dari tragedi ini. Kita tahu bagaimana rasanya melihat perjanjian dilanggar tanpa konsekuensi, bagaimana hukum bisa ditegakkan hanya untuk yang kuat, dan bagaimana suara korban sering kalah oleh narasi resmi. Itulah sebabnya isu Gaza terasa dekat, bukan hanya karena solidaritas agama atau kemanusiaan, tapi karena kita mengenali ketidakadilan itu dari pengalaman sendiri.

Jika ada yang bisa kita pelajari dari gencatan senjata yang rapuh ini, mungkin satu hal: perdamaian tidak lahir dari perjanjian, tapi dari niat. Dan Israel jelas tak punya niat itu. Mereka ingin jeda, bukan damai. Mereka ingin kontrol, bukan koeksistensi. Maka selama dunia masih membiarkan logika ini berjalan, setiap perjanjian akan berakhir sama: dengan suara ledakan di langit Gaza.

Kini, tujuh orang telah tewas, dan mungkin besok akan lebih banyak lagi. Dunia akan menulis “pelanggaran gencatan senjata,” seolah itu kejadian baru. Padahal kita tahu, yang mati bukan hanya manusia, tapi juga kepercayaan bahwa keadilan bisa datang dari meja perundingan.

Maka saya tidak akan menyebut ini “pelanggaran pertama.” Ini hanya lanjutan dari kejahatan yang tidak pernah berhenti. Gencatan senjata ini mati bahkan sebelum sempat bernapas.

1 Comment

1 Comment

  1. Pingback: Israel dan Ilusi Damai di Tengah Pendudukan

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel Populer