Connect with us

Opini

Gencatan Senjata yang Mati di Tangan Israel

Published

on

Illustration of a dead dove symbolizing Gaza’s ceasefire killed by Israel.

Gaza kembali bernafas dalam debu. Tidak dalam damai, tapi dalam kelelahan. Orang-orang masih menggali puing dengan tangan kosong, mencari sisa keluarga yang tertinggal di bawah reruntuhan. Di atas mereka, dunia menulis satu kalimat di layar kaca: “Ceasefire Holds.” Kalimat yang dingin, netral, seolah tidak ada darah yang masih mengalir di antara huruf-hurufnya. Tapi Gaza tahu kebenarannya: gencatan senjata ini hanya hidup di dokumen, bukan di tanah yang terbakar.

Ketika media internasional sibuk menghitung hari “tenang”, Gaza’s media office justru menghitung peluru. Empat puluh tujuh kali Israel melanggar gencatan senjata sejak awal Oktober. Hasilnya? Tiga puluh delapan warga Palestina tewas, seratus empat puluh tiga lainnya luka-luka. Ini bukan angka. Ini nama-nama yang tak sempat diselamatkan. Dan dunia, seperti biasa, hanya mencatat tanpa bereaksi. Saya rasa, kalau ada rekor dunia untuk pengabaian moral, Israel dan sekutunya sudah menjuarai lomba itu bertahun-tahun.

Donasi ke Vichara via Saweria

Dukung Vichara dengan berdonasi 💛

Ironinya, setiap peluru selalu punya alasan. “Mereka melintasi garis kuning,” kata tentara Israel, ketika satu keluarga Palestina dibunuh di dalam bus. Sebelas orang tewas, tujuh di antaranya anak-anak. Garis kuning itu, katanya, batas aman. Tapi di Gaza, garis itu tak pernah terlihat. Hanya imajinasi militer yang menentukan kapan seseorang dianggap “ancaman”. Maka, setiap langkah bisa berubah jadi vonis mati. Gencatan senjata semacam ini lebih mirip jebakan ketimbang perjanjian damai.

Dan ketika dunia menuntut penjelasan, Israel selalu punya narasi siap pakai: “Kami diserang duluan.” Kalimat itu sudah seperti mantra yang membius media barat. Ia diputar berulang, disebar ke ruang redaksi, hingga berubah jadi kebenaran versi algoritma. Padahal, laporan lapangan menunjukkan fakta sebaliknya: serangan dilakukan ke arah warga sipil, bahkan ke keluarga yang hanya berusaha pulang. Tapi di ruang diplomasi, siapa peduli? Yang penting narasinya rapi, bukan nyawanya.

Sementara itu, Benjamin Netanyahu menutup perbatasan Rafah — satu-satunya jalur penting untuk bantuan kemanusiaan. Alasannya absurd: Hamas belum menyerahkan seluruh jenazah sandera. Jadi, mayat menjadi alat tawar politik, dan hidup orang-orang Gaza disandera bersama mereka. Bayangkan, di abad ini, seorang pemimpin dunia bisa menahan ribuan ton makanan dan obat hanya karena ingin mengatur cara lawannya menguburkan orang mati. Kalau ini bukan bentuk teror, lalu apa?

Sampai hari ini, lebih dari 68.000 jiwa Palestina telah terbunuh. Sepuluh ribu lainnya diperkirakan masih terkubur di bawah reruntuhan. Enam puluh juta ton puing menutupi satu wilayah kecil yang dulu disebut rumah. Di tengah semua itu, Netanyahu justru mengumumkan akan maju lagi dalam pemilu tahun depan. Politik, tampaknya, lebih penting dari perdamaian. Ia tahu, di Israel, kekerasan terhadap Palestina bukan kesalahan — melainkan komoditas elektoral.

Saya kira, ini bukan sekadar perang antara dua pihak. Ini adalah bentuk kolonialisme modern yang beroperasi dengan wajah baru: teknologi, propaganda, dan lisensi moral dari Barat. Israel menembak, lalu mengirim juru bicara untuk menjelaskan kenapa tembakan itu “terpaksa dilakukan”. Dunia mendengar, mengangguk, dan kemudian mengalihkan pandangan. Semua berlangsung cepat, seefisien mesin algoritma yang telah lama berpihak.

Bahkan dalam kematian pun, ketimpangan itu masih hidup. Rumah sakit Nasser di Khan Younis menerima puluhan jenazah yang dikembalikan Israel. Banyak di antaranya menunjukkan tanda-tanda penyiksaan: tangan diborgol, mata ditutup, luka tembak di kepala. Tapi laporan itu tak mengguncang dunia. Tidak ada sanksi, tidak ada penyelidikan serius. Dunia hanya menunggu giliran tragedi berikutnya untuk diunggah di media sosial.

Lucunya, di tengah semua ini, muncul lelucon getir dari warga Gaza: “You cease, we fire.” Kau berhenti, kami menembak. Sederhana, tapi mematikan. Humor yang lahir dari keputusasaan, ketika satu-satunya cara melawan absurditas adalah menertawakannya. Lelucon itu, bagi saya, bukan sekadar satire — melainkan bukti terakhir bahwa Gaza masih hidup, masih punya suara, meski dunia seolah sudah menguburnya.

Kita semua tahu, tak ada “perdamaian” yang bisa lahir dari ketimpangan kekuasaan. Gencatan senjata ini bukan kesepakatan, tapi penundaan pembunuhan. Israel tahu betul cara memainkan waktunya: berhenti menembak cukup lama agar dunia bosan, lalu melanjutkan dengan intensitas baru ketika sorotan kamera beralih ke tempat lain. Dalam bahasa militer, itu disebut strategi; dalam bahasa kemanusiaan, itu disebut kejahatan.

Masalahnya, sistem dunia memang dirancang untuk melindungi pelaku, bukan korban. PBB tak berdaya karena terbelenggu hak veto Amerika Serikat. Negara-negara Eropa sibuk menjaga hubungan dagang. Dan negara-negara Arab yang dulu berjanji akan “membela Palestina” kini menandatangani normalisasi dengan zionis sambil berfoto tersenyum di depan bendera biru-putih. Semua orang tampak bersepakat dalam satu hal: diam.

Di Indonesia, mungkin kita membaca berita Gaza sambil menyeruput kopi, lalu menatap layar dengan rasa campur aduk: sedih, marah, tapi juga pasrah. Kita terbiasa menyaksikan penderitaan Palestina seperti menonton sinetron tanpa akhir — penuh air mata, tapi tak pernah berubah. Padahal setiap peluru yang ditembakkan Israel hari ini adalah peluru yang didiamkan oleh dunia. Diam juga adalah bentuk partisipasi.

Israel kerap berbicara tentang “hak membela diri”. Tapi dari 47 pelanggaran yang tercatat sejak gencatan senjata dimulai, tak satu pun yang bisa dijelaskan tanpa memelintir logika. Bagaimana mungkin menembak keluarga dalam bus dianggap “pertahanan”? Bagaimana mungkin menahan bantuan makanan disebut “prosedur keamanan”? Saya rasa, hanya mereka yang sudah kehilangan rasa malu yang bisa menyebut kekejaman sebagai kebijakan.

Dan di balik semua itu, Netanyahu berdiri seperti arsitek tragedi. Ia tahu bahwa selama dunia hanya berbicara tanpa bertindak, kekuasaan militernya tak akan tersentuh. Ia tahu bahwa setiap kali Gaza berdarah, saham industri senjata naik. Ia tahu bahwa penderitaan Palestina bisa dijadikan alat tawar politik. Inilah wajah baru kekuasaan: dingin, sinis, tapi sangat efisien.

Pada akhirnya, gencatan senjata ini bukan perdamaian, melainkan pementasan diplomatik. Dunia menepuk bahu sendiri karena berhasil “menghentikan perang”, padahal di lapangan, tembakan masih terdengar. Setiap pelanggaran dianggap insiden, bukan sistem. Setiap kematian disederhanakan menjadi angka. Dan setiap kali Gaza berteriak, dunia menjawab dengan doa, bukan tindakan.

Jadi apa arti gencatan senjata kalau peluru masih berbicara? Tidak ada. Yang ada hanyalah jeda bagi tentara Israel untuk mengisi ulang amunisi. Gencatan senjata di Gaza telah mati — dibunuh oleh tangan yang sama yang menandatanganinya. Dan dunia, seperti biasa, menjadi saksi yang tak bersuara.

Saya kira, selama keadilan bisa dinegosiasikan dan kemanusiaan bisa dipertukarkan dengan alasan “keamanan nasional”, maka tidak akan pernah ada damai bagi Palestina. Israel akan terus menembak, dunia akan terus berunding, dan rakyat Gaza akan terus menunggu — bukan akhir perang, tapi giliran berikutnya.

Dan di tengah reruntuhan itu, mungkin ada seorang anak kecil yang menatap langit dan tertawa lirih, mengulang lelucon yang kini terdengar lebih seperti nubuat: “You cease, we fire.”

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel Populer