Opini
Gencatan Senjata Menjadi Topeng Serangan Terencana
Malam di Beirut selalu punya cara sendiri untuk menyembunyikan luka, seolah kota itu belajar bertahan dengan menghafal suara-suara yang seharusnya membuat manusia gentar. Namun pada malam ketika dua apartemen di Harat Hreik dihantam serangan udara, keheningan retak seperti kaca dilempar batu. Sebuah dentuman yang tidak hanya merobek bangunan, tetapi juga merobek ilusi bahwa gencatan senjata adalah ruang aman. Saya rasa banyak dari kita tahu: keheningan politik sering kali menyimpan agenda yang lebih bising dari bom itu sendiri.
Peristiwa itu menewaskan Haitham Ali al-Tabatabai—figur senior yang disebut sebagai salah satu perancang awal struktur militer Hizbullah—bersama empat anggotanya: Qassem Hussein Berjawi, Mostafa Asaad Berro, Refaat Ahmad Hussein, dan Ibrahim Ali Hussein. Mereka bukan gugur di garis depan. Mereka bukan jatuh dalam baku tembak. Mereka tewas dalam masa yang secara resmi dikatakan sebagai jeda kemanusiaan. Di sinilah ironi besar itu lahir: gencatan senjata berubah menjadi topeng yang menutupi serangan terencana.
Saya kadang bertanya-tanya, mengapa dunia selalu terkejut pada hal-hal yang sebenarnya sudah bisa ditebak? Ketika salah satu pihak mematuhi gencatan senjata, namun pihak lain melihatnya sebagai peluang emas, kita sedang menyaksikan tragedi moral yang dibungkus prosedur diplomatik. Hizbullah menahan tembakan, menjaga komitmen, mengikuti jalur yang disepakati. Tetapi serangan terhadap apartemen di Harat Hreik menunjukkan bahwa kepatuhan tidak selalu dihargai. Dalam konflik, justru pihak yang paling sabar sering menjadi pihak yang paling rentan.
Membaca laporan itu, saya merasakan sebuah absurditas: gencatan senjata tidak memadamkan peperangan, justru memindahkannya ke ruang tak terlihat. Serangan presisi terhadap al-Tabatabai dan para anggotanya bukanlah hasil improvisasi. Ini jelas hasil intelijen panjang, observasi berulang, dan pemilihan waktu yang sangat hati-hati. Dan yang paling “tepat” menurut penyerang adalah… masa gencatan senjata. Menggunakan jeda kemanusiaan untuk mengeksekusi target bernilai tinggi adalah tindakan yang sulit untuk tidak disebut manipulatif. Bahkan sinis.
Gencatan senjata, dalam teori, adalah titik di mana dua pihak menurunkan senjata demi mencegah korban jiwa lebih banyak. Tetapi dalam praktik yang kita saksikan, hanya satu pihak yang menurunkan senjata, sementara pihak lain menyiapkan rudal. Bagi saya, ini ibarat perjanjian tidak saling memukul, namun salah satu peserta diam-diam memegang pisau di bawah meja. Dan ketika pisau itu akhirnya digunakan, dunia dikejutkan oleh fakta bahwa ada darah. Padahal tanda-tandanya sudah jelas sejak awal: ketimpangan komitmen.
Serangan itu tidak hanya menewaskan lima orang, tetapi juga menghancurkan substansi dari kata “gencatan senjata”. Jika jeda perang justru dipakai untuk membunuh lawan yang sedang mematuhi kesepakatan, maka kesepakatan itu hanyalah topeng—bukan instrumen perdamaian. Di sinilah kata kunci analisis ini muncul berkali-kali: gencatan senjata disalahgunakan. Dan penyalahgunaan seperti ini tidak hanya memecah bangunan, tetapi memecah kepercayaan publik.
Kehilangan seorang komandan senior seperti al-Tabatabai menjadi pukulan yang tidak bisa dikecilkan. Ia digambarkan sebagai sosok yang sejak awal membentuk fondasi perlawanan, yang bekerja dalam senyap namun membangun struktur besar. Ketika tokoh dengan posisi strategis seperti itu dibunuh dalam masa gencatan, pesan yang dikirimkan sangat jelas: ini bukan tentang menghentikan perang, ini tentang memilih momen paling aman bagi penyerang. Jeda yang seharusnya menenangkan justru dijadikan ruang pemburuan.
Dan saya rasa, di sinilah ironi itu menjadi nyaris satire: gencatan senjata tidak lagi menjadi harapan, melainkan menjadi strategi. Strategi yang membungkam tembakan dari satu pihak, lalu membiarkan pihak lain bekerja dengan bebas. Dalam bahasa yang lebih halus, gencatan senjata berubah menjadi ladang eksekusi. Tidak terlihat, tidak bising, tetapi sangat efektif untuk tujuan jangka pendek mereka yang ingin mengurangi kekuatan lawan tanpa memancing balasan langsung.
Yang lebih mengkhawatirkan adalah dampak jangka panjangnya. Banyak orang mungkin melihat peristiwa ini sebagai serangan yang terisolasi, tetapi sebenarnya ia membuka babak baru dalam persepsi publik terhadap kesepakatan kemanusiaan. Jika gencatan senjata bisa dipelintir sedemikian rupa, siapa yang kelak masih mau mempercayainya? Bagaimana mediator internasional bisa menawarkan jeda konflik jika jeda itu sendiri digunakan untuk membunuh? Masyarakat Lebanon, yang sudah hidup dalam siklus ketidakpastian, tentu akan semakin sulit mempercayai setiap janji jeda yang dikemas sebagai “demi rakyat sipil”.
Di sini saya teringat pada analogi sederhana: seperti seseorang yang berjanji berhenti bertengkar demi anak-anak mereka, namun diam-diam menghabisi reputasi pasangannya di belakang layar. Konflik tetap ada; hanya metodenya yang berubah. Dan itulah yang terjadi pada gencatan senjata di Lebanon. Perang tidak berhenti. Ia hanya berganti bentuk menjadi perang tanpa dentum. Sebuah perang yang lebih berbahaya karena tidak terbaca oleh publik global yang sibuk percaya bahwa ketenangan berarti perdamaian.
Gugurnya Qassem Hussein Berjawi, Mostafa Asaad Berro, Refaat Ahmad Hussein, dan Ibrahim Ali Hussein bukan hanya statistik atau deretan nama yang akan digunakan media pada berita malam. Mereka menjadi simbol ketimpangan moral dalam mekanisme yang seharusnya memberi ruang aman. Kehilangan mereka mempertegas bahwa kepatuhan sepihak tidak pernah cukup untuk melindungi nyawa. Karena selama satu pihak mematuhi kesepakatan, pihak lain bisa memilih untuk melanggar kapan saja, tanpa konsekuensi langsung.
Dan inilah bentuk paling nyata dari topeng serangan terencana: ketika sebuah kesepakatan diklaim sebagai jalan menuju stabilitas, tetapi diam-diam dipakai untuk memperkuat satu pihak dengan menghabisi tokoh-tokoh lawan. Publik mungkin tidak melihat prosesnya. Tetapi mereka melihat hasilnya: jenazah, bangunan hancur, keluarga yang berduka, dan rasa dikhianati yang menggumpal menjadi kemarahan baru.
Pada akhirnya, analisis ini membawa kita pada garis lurus yang pahit: selama gencatan senjata dijadikan topeng, perang tidak akan benar-benar berhenti. Dan selama ada pihak yang memanfaatkan keheningan sebagai medan eksekusi, maka jeda itu sendiri hanyalah teater diplomasi. Sebuah panggung di mana dunia diminta percaya bahwa perdamaian sedang diupayakan, padahal di balik tirai, peluru tetap mencari nama-nama tertentu.
Maka, gencatan senjata tidak boleh hanya dilihat sebagai kesepakatan teknis. Ia harus dilihat berdasarkan integritas pihak yang menjalankannya. Jika tidak, kita hanya akan menyaksikan pengulangan: jeda yang dimanipulasi, serangan yang disembunyikan, dan publik yang dipaksa menerima tragedi sebagai rutinitas.
Serangan yang menewaskan al-Tabatabai dan empat anggotanya menjadi bukti nyata bahwa ada pihak yang menggunakan gencatan senjata bukan untuk menghentikan perang, tetapi untuk memenangkan perang. Dan selama praktik seperti itu terus berlangsung, gencatan senjata tidak lebih dari sebuah topeng. Topeng yang halus, tetapi penuh retakan.

Pingback: Gencatan Senjata Gaza: Damai Palsu dan Krisis Kemanusiaan