Connect with us

Opini

Gencatan Senjata Gaza: Di Antara Harapan dan Ilusi

Published

on

Crowds of Palestinians walk through Gaza’s ruins under a dusty sky, symbolizing the fragile illusion of ceasefire.

Ada yang ganjil di tengah berita yang seolah menggembirakan. Puluhan ribu warga Palestina disebut kembali ke Gaza Utara setelah gencatan senjata dimulai. Tapi mari kita jujur: mereka bukan pulang ke rumah, mereka pulang ke reruntuhan. Mereka melangkah di atas debu yang dulu adalah tembok tempat anak-anak mereka tertawa. Mereka menyusuri jalan yang dulu bernama kampung, kini tinggal koordinat di peta. Gencatan senjata—kata yang biasanya terdengar menenangkan—di Gaza hanya berarti jeda dari kebiadaban, bukan akhir darinya.

Saya rasa, kita semua tahu betapa kata perdamaian telah kehilangan makna ketika keluar dari mulut para penguasa yang menyalakan perang. Ketika Washington dan Tel Aviv berbicara tentang ceasefire, mereka sebenarnya sedang membicarakan strategi ulang, bukan kemanusiaan. Gencatan senjata kali ini, yang disebut-sebut sebagai hasil “rencana Trump”, hanyalah paket baru dari proyek lama: menjinakkan Gaza sambil menjaga dominasi Israel tetap utuh. Amerika tampil sebagai penengah, padahal ia adalah bagian dari api itu sendiri.

Donasi ke Vichara via Saweria

Dukung Vichara dengan berdonasi 💛

Data dalam laporan menyebutkan bahwa lebih dari 67.000 warga Palestina telah terbunuh selama dua tahun perang, hampir setengahnya perempuan dan anak-anak. Tapi angka itu disajikan begitu dingin, seolah statistik itu bukan manusia. Tak ada tanda tanya tentang siapa yang menekan tombol rudal. Tak ada pengakuan bahwa kehancuran ini disengaja, bukan kecelakaan. Kini, setelah dua tahun pembantaian, mereka berbicara tentang “gencatan senjata” dan “rekonstruksi internasional.” Ironis, bukan? Mereka menghancurkan kota, lalu mengundang dunia untuk ikut membangunnya kembali—tentu saja dengan syarat dan kendali di tangan mereka.

Hamas diminta melucuti senjata, sementara Israel tetap memegang kendali militer atas separuh Gaza. “Jika Hamas tidak menyerah dengan cara mudah, maka akan dilakukan dengan cara sulit,” kata Netanyahu. Nada pernyataannya bukan nada seorang pemimpin yang ingin damai, melainkan penjajah yang baru saja menandatangani istirahat makan siang sebelum babak perang berikutnya. Dunia menatap dengan lega, tapi Gaza tahu: senjata mungkin berhenti berbunyi, tapi kekuasaan belum berhenti bekerja.

Inilah absurditas yang menyesakkan. Perang disebut berakhir, tetapi penindasan tetap dilanjutkan dengan nama lain. Israel masih mengatur siapa boleh masuk, siapa boleh dibantu, bahkan berapa ton gandum yang bisa disalurkan PBB setiap minggu. Mahkamah Pidana Internasional sudah menuduh Netanyahu menggunakan kelaparan sebagai senjata perang. Tapi alih-alih dikutuk, ia kini menjadi “mitra negosiasi.” Betapa lucunya dunia ini—kadang pelaku genosida cukup menandatangani kertas gencatan senjata untuk berubah jadi pejuang perdamaian di mata media.

Saya teringat peribahasa Jawa: “Wong sing nyebul geni ora iso dadi tukang adhemke.” Orang yang menyalakan api tak bisa sekaligus jadi pemadamnya. Namun itulah yang terjadi di Gaza. Amerika dan Israel menyalakan perang, lalu ingin dipuji karena “menghentikannya.” Mereka bukan sedang memadamkan api, hanya menyesuaikan arah angin agar api itu tak membakar tangan mereka sendiri.

Kita semua tahu, setiap kali ada kata “rekonstruksi” diucapkan setelah perang, maka yang datang bukan keadilan, tapi investor. Rencana Trump itu menjanjikan pembangunan kembali Gaza dengan dana internasional, tapi dengan syarat Gaza harus “demiliterisasi.” Artinya: uang boleh masuk, tapi kedaulatan tidak. Gaza akan diperindah, tapi tetap dikandangkan. Seperti burung yang dilepas di taman luas, namun sayapnya dipotong dulu agar tak bisa terbang lagi.

Gencatan senjata Gaza, dalam bentuknya sekarang, hanyalah kamuflase dari pendudukan yang diperbarui. Hamas memang bisa disingkirkan, tapi apakah itu berarti rakyat Palestina akan merdeka? Tidak. Yang akan mengatur Gaza nantinya bukan rakyatnya, melainkan campuran absurd: otoritas Palestina yang lemah, pasukan internasional yang dikontrol AS, dan militer Israel di perbatasan. Itu bukan kedaulatan, itu administrasi kolonial gaya baru.

Bayangkan jika ini terjadi di Indonesia. Misalnya, setelah sebuah daerah hancur oleh perang, negara asing datang menawarkan “gencatan senjata” dengan syarat TNI harus melucuti senjata dan mereka yang mengatur keamanan serta pembangunan. Siapa yang akan menyebut itu perdamaian? Tapi di Gaza, dunia menerimanya dengan tenang, seolah-olah penderitaan Palestina adalah anomali moral yang boleh diatur dari luar.

Ada yang menyentuh hati dari kesaksian Jamal Mesbah dalam laporan itu. Ia berkata, “Gencatan senjata ini sedikit meringankan rasa sakit.” Kalimat sederhana itu seolah menyimpan seluruh kesedihan bangsa. Bukan kegembiraan, hanya kelegaan sementara. Seperti pasien yang diberi morfin untuk melupakan rasa sakit, tapi lukanya tetap menganga. Itulah yang sedang dialami Gaza: istirahat sesaat di antara dua derita.

Sementara itu, di ruang-ruang diplomasi, para pejabat bersalaman dan tersenyum untuk kamera. Mereka berbicara tentang “proses menuju perdamaian jangka panjang.” Tapi semua tahu, perdamaian yang tidak berakar pada keadilan hanyalah istirahat menuju penindasan berikutnya. Gencatan senjata tanpa pengakuan atas hak rakyat Palestina untuk merdeka hanyalah penundaan tragedi.

Saya rasa, dunia sudah terlalu terbiasa menormalisasi penderitaan Palestina. Ketika ribuan anak tewas, kita menyebutnya “biaya perang.” Ketika kamp pengungsi dibom, kita menyebutnya “kerugian tak terhindarkan.” Ketika rakyat kembali ke rumah-rumah yang tinggal puing, kita menyebutnya “tanda harapan.” Padahal, itu bukan harapan—itu sisa-sisa kemanusiaan yang dipaksa bertahan di bawah reruntuhan moral dunia.

Kata “harapan” dalam konteks Gaza menjadi kata yang getir. Harapan di sana tidak tumbuh dari janji politik, tapi dari keberanian bertahan hidup. Harapan di sana tidak berarti menunggu bantuan dari luar, tapi menolak menyerah pada nasib yang ditentukan orang lain. Dan di tengah semua itu, dunia masih berbicara tentang “ceasefire” dengan nada lega, seakan dua tahun genosida bisa ditebus dengan jeda seminggu tanpa bom.

Gencatan senjata Gaza kali ini memang membawa sedikit napas lega. Tapi jangan tertipu. Di balik diamnya meriam, ada mesin politik yang tetap bekerja. Di balik janji rekonstruksi, ada proyek kendali yang disiapkan. Dan di balik setiap kata “perdamaian,” ada ilusi yang dijual untuk menutupi luka yang masih berdarah.

Gencatan senjata hanyalah jeda, bukan jawaban. Perdamaian sejati baru akan lahir ketika dunia berhenti memperlakukan Palestina sebagai proyek geopolitik dan mulai mengakuinya sebagai bangsa yang berhak menentukan nasibnya sendiri. Selama itu belum terjadi, setiap gencatan senjata hanyalah harapan yang dibungkus ilusi. Dan Gaza—seperti biasa—akan tetap berdiri, meski sendirian, di antara puing-puing yang disebut dunia sebagai perdamaian.

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel Populer